Showing posts with label Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. Show all posts
Showing posts with label Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. Show all posts

Friday, September 4, 2020

17 PERBEDAAN ASWAJA DAN SYIAH

 






Oleh Von
Edison Alouisci (Islam Sunii Madzab Syafi`i)





Banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara
Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah(Ja’fariyah)
dianggap sekedar dalam masalah khilafiyah Furu’iyah, seperti perbedaan antara
NU dengan Muhammadiyah, antara Madzhab Syafi’i dengan Madzhab Maliki.





Karenanya dengan adanya ribut-ribut masalah Sunni
dengan Syiah, mereka berpendapat agar perbedaan pendapat tersebut tidak perlu
dibesar-besarkan. Oleh karena itu, disaat Muslimin bangun melawan serangan
Syiah, mereka menjadi penonton dan tidak ikut berkiprah.


Apa yang mereka harapkan tersebut, tidak lain
dikarenakan minimnya pengetahuan mereka mengenai aqidah Syiah Imamiyah Itsna
Asyariyah(Ja’fariyah). Sehingga apa yang mereka sampaikan hanya terbatas pada
apa yang mereka ketahui.





Semua itu dikarenakan kurangnya informasi pada mereka,
akan hakikat ajaran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Disamping
kebiasaan berkomentar, sebelum memahami persoalan yang sebenarnya. Sedangkan
apa yang mereka kuasai, hanya bersumber dari tokoh-tokoh Syiah yang sering
berkata bahwa perbedaan Sunni dengan Syiah seperti perbedaan antara Madzhab
Maliki dengan Madzhab Syafi’i.





Padahal perbedaan antara Madzhab
Maliki dengan Madzhab Syafi’i, hanya dalam masalah Furu’iyah saja. Sedang
perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah
(Ja’fariyah), maka perbedaan-perbedaannya disamping dalam Furuu’ juga dalam
Ushuul.





Rukun Iman mereka berbeda dengan rukun Iman kita,
rukun Islamnya juga berbeda, begitu pula kitab-kitab hadistnya juga berbeda, bahkan
sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur’an mereka juga
berbeda dengan Al-Qur’an kita (Ahlussunnah). Apabila ada dari ulama mereka yang
pura-pura (taqiyah) mengatakan bahwa Al-Qur’annya sama, maka dalam menafsirkan
ayat-ayatnya sangat berbeda dan berlainan.





Sehingga tepatlah apabila ulama-ulama Ahlussunnah
Waljamaah mengatakan : Bahwa Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) adalah
satu agama tersendiri. Melihat pentingnya persoalan tersebut, maka di bawah ini
kami nukilkan sebagian dari perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah
dengan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah).





 1. Rukun Islam


Rukun Islam Ahlussunnah kita ada 5:


1.    Syahadatain


2.    As-Sholah


3.    As-Shoum


4.    Az-Zakah


5.    Al-Haj


Rukun Islam Syiah juga ada 5 tapi berbeda:


1.    As-Sholah


2.    As-Shoum


3.    Az-Zakah


4.    Al-Haj


5.    Al wilayah





2. Rukun Iman


Rukun Iman Ahlussunnah ada enam:


1.    Iman kepada Allah


2.    Iman kepada Malaikat-malaikat Nya


3.    Iman kepada Kitab-kitab Nya


4.    Iman kepada Rasul Nya


5.    Iman kepada Yaumil Akhir / hari
kiamat


6.    Iman kepada Qadar, baik-buruknya
dari Allah.


Rukun Iman Syiah ada 5 :


1.    At-Tauhid


2.    An Nubuwwah


3.    Al Imamah


4.    Al Adlu


5.    Al Ma’ad


3. Syahadat











3. Syahadat


.Ahlussunnah mempunyai Dua kalimat syahada, yakni:
“Asyhadu An La Ilaha Illallah wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah”.


Syiah mempunyai tiga kalimat syahadat, disamping
“Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, masih
ditambah dengan menyebut dua belas imam-imam mereka.





4. Imamah


Ahlussunnah meyakini bahwa para imam
tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam Ahlussunnah tidak terbatas.
Selalu timbul imam-imam, sampai hari kiamat.Karenanya membatasi imam-imam hanya
dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan.


Syiah meyakini dua belas imam-imam mereka, dan
termasuk rukun iman. Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas
imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah
dianggap kafir dan akan masuk neraka.





5. Khulafaur Rasyidin


Ahlussunnah mengakui kepemimpinan
khulafaurrosyidin adalah sah. Mereka adalah: a) Abu Bakar, b) Umar, c) Utsman,
d) Ali radhiallahu anhum


Syiah tidak mengakui kepemimpinan
tiga Khalifah pertama (Abu Bakar, Umar, Utsman), karena dianggap telah merampas
kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (padahal Imam Ali sendiri membai’at dan
mengakui kekhalifahan mereka).





6. Kemaksuman Para Imam


Ahlussunnah berpendapat khalifah
(imam) adalah manusia biasa, yang tidak mempunyai sifat Ma’shum. Mereka dapat
saja berbuat salah, dosa dan lupa, karena sifat ma’shum, hanya dimiliki oleh
para Nabi. Sedangkan kalangan syiah meyakini bahwa 12 imam mereka mempunyai
sifat maksum dan bebas dari dosa.





7. Para Sahabat


Ahlussunnah melarang mencaci-maki
para sahabat. Sedangkan Syiah mengangggap bahwa mencaci-maki para sahabat tidak
apa-apa, bahkan berkeyakinan, bahwa para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat,
mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. Alasannya karena para
sahabat membai’at  Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah.





8. Sayyidah Aisyah


Sayyidah Aisyah istri Rasulullah
sangat dihormati dan dicintai oleh Ahlussunnah. Beliau adalah termasuk
ummahatul Mu’minin. Syiah melaknat dan  mencaci maki Sayyidah Aisyah,
memfitnah bahkan mengkafirkan beliau.





9. Kitab-kitab hadits


Kitab-kitab hadits yang dipakai
sandaran dan rujukan Ahlussunnah adalah Kutubussittah : Shahih Bukhari, Shahih
Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan At-Tirmidz, Sunan Ibnu Majah dan Sunan An-Nasa’i.
(kitab-kitab tersebut beredar dimana-mana dan dibaca oleh kaum Muslimin
sedunia).


Kitab-kitab hadits Syiah hanya ada
empat : a) Al Kaafi, b) Al Istibshor, c) Man Laa Yah Dhuruhu Al Faqih, dan d)
Att Tahdziib. (Kitab-kitab tersebut tidak beredar, sebab kebohongannya takut
diketahui oleh pengikut-pengikut Syiah).


10. Al-Quran


Menurut Ahlussunnah Al-Qur’an tetap
orisinil dan tidak pernah berubah atau diubah. Sedangkan syiah menganggap bahwa
Al-Quran yang ada sekarang ini tidak orisinil. Sudah dirubah oleh para sahabat
(dikurangi dan ditambah).


11. Surga


Surga diperuntukkan bagi orang-orang
yang taat kepada Allah dan Rasul Nya. dan Neraka diperuntukkan bagi orang-orang
yang tidak taat kepada Allah dan Rasul Nya. Menurut Syiah, surga hanya
diperuntukkan bagi orang-orang yang cinta kepada Imam Ali, walaupun orang
tersebut tidak taat kepada Rasulullah. Dan neraka diperuntukkan bagi
orang-orang yang memusuhi Imam Ali, walaupun orang tersebut taat kepada
Rasulullah.





12. Raj’ah


Aqidah raj’ah tidak ada dalam ajaran
Ahlussunnah. Raj’ah ialah besok di akhir zaman sebelum kiamat, manusia akan
hidup kembali. Dimana saat itu Ahlul Bait akan balas dendam kepada
musuh-musuhnya.


Raj’ah adalah salah satu aqidah
Syiah, dimana diceritakan bahwa nanti diakhir zaman, Imam Mahdi akan keluar
dari persembunyiannya. Kemudian dia pergi ke Madinah untuk membangunkan
Rasulullah, Imam Ali, Siti Fatimah serta Ahlul Bait yang lain. Setelah mereka
semuanya bai’at kepadanya, diapun selanjutnya membangunkan Abu Bakar, Umar,
Aisyah. Kemudian ketiga orang tersebut disiksa dan disalib, sampai mati
seterusnya diulang-ulang sampai  ribuan kali, sebagai balasan atas
perbuatan jahat mereka kepada Ahlul Bait.


Orang Syiah mempunyai Imam Mahdi
sendiri, yang berlainan dengan Imam Mahdi yang diyakini oleh Ahlussunnah, yang
akan membawa keadilan dan kedamaian.


 13. Mut’ah


Mut’ah (kawin kontrak), sama dengan perbuatan zina dan
hukumnya haram. Sementara Syiah sangat dianjurkan mut’ah dan hukumnya halal.
Halalnya Mut’ah ini dipakai oleh golongan Syiah untuk mempengaruhi para pemuda
agar masuk Syiah. Padahal haramnya Mut’ah juga berlaku di zaman Khalifah Ali
bin Abi Thalib.


 14. Khamr


Khamer (arak) najis menurut Ahlussunnah. Menurut
Syiah, khamer itu suci.


 15. Air Bekas
Istinjak


Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap tidak
suci, menurut ahlussunnah (sesuai dengan perincian yang ada). Menurut Syiah air
yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap suci dan mensucikan.


 16. Sendekap


Diwaktu shalat meletakkan tangan
kanan diatas tangan kiri hukumnya sunnah. Menurut Syiah meletakkan tangan kanan
diatas tangan kiri sewaktu shalat dapat membatalkan shalat. (jadi shalatnya
bangsa Indonesia yang diajarkan Wali Songo oleh orang-orang Syiah dihukum tidak
sah dan batal, sebab meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri).


 17. Amin Sesudah
Fatihah


Mengucapkan Amin diakhir surat
Al-Fatihah dalam shalat adalah sunnah. Menurut Syiah mengucapkan Amin diakhir
surat Al-Fatihah dalam shalat dianggap tidak sah dan batal shalatnya. (Jadi
shalatnya Muslimin di seluruh dunia dianggap tidak sah, karena mengucapkan Amin
dalam shalatnya).


Demikian
telah kami nukilkan beberapa perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dan
aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Harapan kami semoga pembaca
dapat memahami benar-benar perbedaan-perbedaan tersebut. Selanjutnya pembaca
yang mengambil keputusan (sikap).

17 PERBEDAAN ASWAJA DAN SYIAH

 



Oleh Von Edison Alouisci (Islam Sunii Madzab Syafi`i)

Banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah(Ja’fariyah) dianggap sekedar dalam masalah khilafiyah Furu’iyah, seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyah, antara Madzhab Syafi’i dengan Madzhab Maliki.

Karenanya dengan adanya ribut-ribut masalah Sunni dengan Syiah, mereka berpendapat agar perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Oleh karena itu, disaat Muslimin bangun melawan serangan Syiah, mereka menjadi penonton dan tidak ikut berkiprah.
Apa yang mereka harapkan tersebut, tidak lain dikarenakan minimnya pengetahuan mereka mengenai aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah(Ja’fariyah). Sehingga apa yang mereka sampaikan hanya terbatas pada apa yang mereka ketahui.

Semua itu dikarenakan kurangnya informasi pada mereka, akan hakikat ajaran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Disamping kebiasaan berkomentar, sebelum memahami persoalan yang sebenarnya. Sedangkan apa yang mereka kuasai, hanya bersumber dari tokoh-tokoh Syiah yang sering berkata bahwa perbedaan Sunni dengan Syiah seperti perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzhab Syafi’i.

Padahal perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzhab Syafi’i, hanya dalam masalah Furu’iyah saja. Sedang perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah), maka perbedaan-perbedaannya disamping dalam Furuu’ juga dalam Ushuul.

Rukun Iman mereka berbeda dengan rukun Iman kita, rukun Islamnya juga berbeda, begitu pula kitab-kitab hadistnya juga berbeda, bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur’an mereka juga berbeda dengan Al-Qur’an kita (Ahlussunnah). Apabila ada dari ulama mereka yang pura-pura (taqiyah) mengatakan bahwa Al-Qur’annya sama, maka dalam menafsirkan ayat-ayatnya sangat berbeda dan berlainan.

Sehingga tepatlah apabila ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah mengatakan : Bahwa Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) adalah satu agama tersendiri. Melihat pentingnya persoalan tersebut, maka di bawah ini kami nukilkan sebagian dari perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dengan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah).

 1. Rukun Islam
Rukun Islam Ahlussunnah kita ada 5:
1.    Syahadatain
2.    As-Sholah
3.    As-Shoum
4.    Az-Zakah
5.    Al-Haj
Rukun Islam Syiah juga ada 5 tapi berbeda:
1.    As-Sholah
2.    As-Shoum
3.    Az-Zakah
4.    Al-Haj
5.    Al wilayah

2. Rukun Iman
Rukun Iman Ahlussunnah ada enam:
1.    Iman kepada Allah
2.    Iman kepada Malaikat-malaikat Nya
3.    Iman kepada Kitab-kitab Nya
4.    Iman kepada Rasul Nya
5.    Iman kepada Yaumil Akhir / hari kiamat
6.    Iman kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah.
Rukun Iman Syiah ada 5 :
1.    At-Tauhid
2.    An Nubuwwah
3.    Al Imamah
4.    Al Adlu
5.    Al Ma’ad
3. Syahadat



3. Syahadat
.Ahlussunnah mempunyai Dua kalimat syahada, yakni: “Asyhadu An La Ilaha Illallah wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah”.
Syiah mempunyai tiga kalimat syahadat, disamping “Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, masih ditambah dengan menyebut dua belas imam-imam mereka.

4. Imamah
Ahlussunnah meyakini bahwa para imam tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam Ahlussunnah tidak terbatas. Selalu timbul imam-imam, sampai hari kiamat.Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan.
Syiah meyakini dua belas imam-imam mereka, dan termasuk rukun iman. Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah dianggap kafir dan akan masuk neraka.

5. Khulafaur Rasyidin
Ahlussunnah mengakui kepemimpinan khulafaurrosyidin adalah sah. Mereka adalah: a) Abu Bakar, b) Umar, c) Utsman, d) Ali radhiallahu anhum
Syiah tidak mengakui kepemimpinan tiga Khalifah pertama (Abu Bakar, Umar, Utsman), karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (padahal Imam Ali sendiri membai’at dan mengakui kekhalifahan mereka).

6. Kemaksuman Para Imam
Ahlussunnah berpendapat khalifah (imam) adalah manusia biasa, yang tidak mempunyai sifat Ma’shum. Mereka dapat saja berbuat salah, dosa dan lupa, karena sifat ma’shum, hanya dimiliki oleh para Nabi. Sedangkan kalangan syiah meyakini bahwa 12 imam mereka mempunyai sifat maksum dan bebas dari dosa.

7. Para Sahabat
Ahlussunnah melarang mencaci-maki para sahabat. Sedangkan Syiah mengangggap bahwa mencaci-maki para sahabat tidak apa-apa, bahkan berkeyakinan, bahwa para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. Alasannya karena para sahabat membai’at  Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah.

8. Sayyidah Aisyah
Sayyidah Aisyah istri Rasulullah sangat dihormati dan dicintai oleh Ahlussunnah. Beliau adalah termasuk ummahatul Mu’minin. Syiah melaknat dan  mencaci maki Sayyidah Aisyah, memfitnah bahkan mengkafirkan beliau.

9. Kitab-kitab hadits
Kitab-kitab hadits yang dipakai sandaran dan rujukan Ahlussunnah adalah Kutubussittah : Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan At-Tirmidz, Sunan Ibnu Majah dan Sunan An-Nasa’i. (kitab-kitab tersebut beredar dimana-mana dan dibaca oleh kaum Muslimin sedunia).
Kitab-kitab hadits Syiah hanya ada empat : a) Al Kaafi, b) Al Istibshor, c) Man Laa Yah Dhuruhu Al Faqih, dan d) Att Tahdziib. (Kitab-kitab tersebut tidak beredar, sebab kebohongannya takut diketahui oleh pengikut-pengikut Syiah).
10. Al-Quran
Menurut Ahlussunnah Al-Qur’an tetap orisinil dan tidak pernah berubah atau diubah. Sedangkan syiah menganggap bahwa Al-Quran yang ada sekarang ini tidak orisinil. Sudah dirubah oleh para sahabat (dikurangi dan ditambah).
11. Surga
Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul Nya. dan Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak taat kepada Allah dan Rasul Nya. Menurut Syiah, surga hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang cinta kepada Imam Ali, walaupun orang tersebut tidak taat kepada Rasulullah. Dan neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang memusuhi Imam Ali, walaupun orang tersebut taat kepada Rasulullah.

12. Raj’ah
Aqidah raj’ah tidak ada dalam ajaran Ahlussunnah. Raj’ah ialah besok di akhir zaman sebelum kiamat, manusia akan hidup kembali. Dimana saat itu Ahlul Bait akan balas dendam kepada musuh-musuhnya.
Raj’ah adalah salah satu aqidah Syiah, dimana diceritakan bahwa nanti diakhir zaman, Imam Mahdi akan keluar dari persembunyiannya. Kemudian dia pergi ke Madinah untuk membangunkan Rasulullah, Imam Ali, Siti Fatimah serta Ahlul Bait yang lain. Setelah mereka semuanya bai’at kepadanya, diapun selanjutnya membangunkan Abu Bakar, Umar, Aisyah. Kemudian ketiga orang tersebut disiksa dan disalib, sampai mati seterusnya diulang-ulang sampai  ribuan kali, sebagai balasan atas perbuatan jahat mereka kepada Ahlul Bait.
Orang Syiah mempunyai Imam Mahdi sendiri, yang berlainan dengan Imam Mahdi yang diyakini oleh Ahlussunnah, yang akan membawa keadilan dan kedamaian.
 13. Mut’ah
Mut’ah (kawin kontrak), sama dengan perbuatan zina dan hukumnya haram. Sementara Syiah sangat dianjurkan mut’ah dan hukumnya halal. Halalnya Mut’ah ini dipakai oleh golongan Syiah untuk mempengaruhi para pemuda agar masuk Syiah. Padahal haramnya Mut’ah juga berlaku di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib.
 14. Khamr
Khamer (arak) najis menurut Ahlussunnah. Menurut Syiah, khamer itu suci.
 15. Air Bekas Istinjak
Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap tidak suci, menurut ahlussunnah (sesuai dengan perincian yang ada). Menurut Syiah air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap suci dan mensucikan.
 16. Sendekap
Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri hukumnya sunnah. Menurut Syiah meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri sewaktu shalat dapat membatalkan shalat. (jadi shalatnya bangsa Indonesia yang diajarkan Wali Songo oleh orang-orang Syiah dihukum tidak sah dan batal, sebab meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri).
 17. Amin Sesudah Fatihah
Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat adalah sunnah. Menurut Syiah mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat dianggap tidak sah dan batal shalatnya. (Jadi shalatnya Muslimin di seluruh dunia dianggap tidak sah, karena mengucapkan Amin dalam shalatnya).
Demikian telah kami nukilkan beberapa perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Harapan kami semoga pembaca dapat memahami benar-benar perbedaan-perbedaan tersebut. Selanjutnya pembaca yang mengambil keputusan (sikap).

Saturday, July 18, 2020

DAFTAR PARA ULAMA SALAF BERMAZHAB AHLU SUNNAH WAL JAMAAH AL-AYSA’IRAH




IMAM-IMAM AQIDAH BERMAZHAB AL-ASY’ARI



Imam Abu Al-Hasan Al-Asy’ari

Imam Al-Baqillani (405H)

Abu Ishaq Al-Isfarayini (418 H)

Imam Ishaq As-Syirazi (476 H)

Imam Al-Juwaini

Imam Al-Haramain Abu Al-Ma’ali Al-Juwaini (478 H), pengarang kitab An-Nizomiyah

Imam Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali

Imam Ibn ‘Asakir (576 H), pengarang kitab tabiyiin Kazb Al-Muftari

Imam As-Syahristani (548 H)

Imam Fakhruddin Ar-Razi pengarang kitab Asas At-Taqdis (606 H)

Imam Al-Allamah Al-Amadi (631 H)

Imam Al-Iji (756 H)

Imam Sa’ad At-Taftazani (793 H) pengarang kitab syarh Al-Maqosid

Imam As-Syarif Al-Jurjani (816 H)

Imam Abu Mansur At-Tamimi

Imam Nas Al-Maqdisi

Imam Al-Farawi

Imam Abu Al-Walid Al-Baji

Imam Al-Bahili

Imam Sultonul Ulama’ Izz ibn Abdis Salam

Imam HibbatulLah Al-Makki

Imam Al-BaijuriIMAM-IMAM BESAR ILMU TAFSIR BERMAZHAB AL-ASY’ARIImam Al-Mufassir Al-Allamah Al-Qurtubi r.a.

Imam Al-Mufassir Ibn Kathir

Imam Al-Mufassir Ibn ‘Athiyyah Al-Andalusi r.a., pengarang kitab tafsir Al-Muharrar Al-Wajiz

Imam Al-Mufassir Abu Hayyan Al-Andalusi r.a., pengarang kitab Al-Bahr Al-Muhith.

Imam Al-Mufassir Fakhruddin Ar-Razi r.a., pengarang kitab tafsir mafatih Al-Ghaib

Imam Al-Mufassir Al-Hafiz Al-Buhgowi, pengarang kitab tafsir Al-Bughowi dan kitab Syarh As-Sunnah.

Imam Al-Mufassir Abu Al-Laith As-Samarqandi r.a., pengarang kitab tafsir
Bahr Al-Ulum, kitab bustanul Arifin dan tanbih Al-Ghafilin.

Imam Al-Mufassir Abu Al-Hasan Ali An-Naisaburi pengarang kitab asbab An-Nuzul.

Imam Al-Mufassir Abu At-Thana’ Syihabuddin Al-Alusi Al-Husaini Al-Hasani r.a.

Imam Al-Mufassir At-Thamin Al-Halabi r.a., pengarang kitab tafsir Ad-Durr Al-Mashun.

Imam Al-Mufassir Al-Hafiz Jalaluddin As-Suyuti r.a., pengarang kitab tafsir Ad-Durr Al-Manthur.

Al-Imam Al-Khotib As-Syirbini r.a., pengarang kitab tafsir As-Siraj Al-Munir.

Imam Al-Allamah At-Thohir bin Asyur, pengarang kitab At-Tahrir wa At-Tanwir

Imam Az-Zarkasyi

Imam Mutawalli As-Sya’rawi r.a.IMAM-IMAM BESAR HADITH BERMAZHAB ASY’ARIImam Al-Hafiz Abu Al-Hasan Ad-Darqutni r.a.

Imam Al-Hafiz Abu Nu’aim Al-Ashbahani r.a., pengarang kitab hilyatul Auliya’

Imam Al-Hafiz Al-Hakim An-Naisaburi, pengarang kitab Mustadrak

Imam Al-Hafiz Ibn Hibban, pengarang kitab At-Thiqat

Imam Al-Hafiz Abu Sa’id Ibn As-Sam’ani

Imam Al-Hafiz Abu Bakr Al-Baihaqi

Imam Al-Khatib Al-Baghdadi

Imam Al-Hafiz Muhyiddin Yahya bin Syarf An-Nawawi

Sheikhul Islam Imam Al-Hafiz Abu Amr bin As-Solah

Imam Al-Hafiz Ibn Daqiq Al-‘Aid

Imam Al-Hafiz Ibn Abi Jamrah Al-Andalusi, musnid Ahlul Maghrib

Imam Al-Hafiz Al-Karmani, pengarang syarah sahih Al-Bukhari

Imam Al-Hafiz Al-Munziri, pengarang At-Targhib wa At-Taqrib

Imam Al-Hafiz Al-Abi, pensyarah sahih Muslim

Imam Al-Hafiz Ibn Hajar Al-Asqolani

Imam Al-Hafiz As-Sakhowi r.a.

Imam Al-Qostollani r.a. pengarang Irsyad As-Sariy

Imam Al-Hafiz Al-Munawi r.a..

Imam Al-Hafiz Ad-Dimyathi r.a.

Sheikh Al-Hafiz Waliyullah Al-Dahlawi r.a.

Sheikh Abu Al-Mahasin Al-Qouquji

Sheikh Al-Hafiz Ahmad As-Siddiq Al-Ghumari r.a..

Sheikh Al-Musnid Muhammad Al-Hafiz At-Tijani.

Sheikh Musnid Ad-Dunya, Sheikh Muhammad Yasiin Al-Fadani.

Sheikh Al-Musnid Abbas Al-MalikiULAMAK SIRAH BERMAZHAB AL-ASY’ARIImam
Qadhi ‘Iyad, pengarang kitab As-Syifa fi syama’il wa ahwal Al-Mustofa

Imam As-Suhaili r.a., pengarang kitab Ar-Raudh Al-Unf

Imam Ibn Khaldun

Imam Ibn Athir r.a.

Imam As-Solihi Ad-Dimasqi, pengarang kitab Subulul Huda wa Ar-Rosyad

Sheikh Yusuf An-Nabhani r.a..ULAMAK FIQH YANG BESAR BERMAZHAB
AL-ASY’ARIMenurut Imam Tajuddin As-Subki, majoriti ulama’ mazhab
As-Syafi’ie, Malikiyah, Hanafiyah dan Sebahagian ulama’ Hanabilah
bermazhab Al-Asy’ari. Demikian diriwayatkan daripada Imam Izzuddin bin
Abdil-Salam yang turut diakui oleh Imam Abu Amr ibn Hajib dan Jamaluddin
Al-Husairi. (At-Tobaqot 3/365)Fuqahak yang mempertahankan mazhab
Al-Asy’ari ini iaitu:Imam Tajuddin As-Subki, pengarang kitab Al-Saif
As-Saqil

Imam Sheikhul Islam Zakaria Al-Ansori

Imam Ar-Rafi’ie As-Syafi’e

Imam Ibn ‘Abidin

Imam Ibn Hajib.

Imam Al-Habib Abdullah bin ‘Alawi Al-Haddad

Imam ‘Alauddin Al-Bukhari

Imam Al-Baidhowi r.a.

Imam Az-Zabidi r.a.

Imam Al-Qorofi r.a.

Mufti Makkah Sheikh Ahmad Zaini Dahlan As-Syafi’eIMAM QIRAAT QURAN BERMAZHAB AL-ASY’ARIImam Al-Qari’ Ibn Jazri

Imam As-Syatibi r.a.PEMIMPIN AGUNG BERMAZHAB AL-ASY’ARISultan Salehuddin Al-Ayubi

Sultan Muhammad Al-FatehTINGKATAN ULAMAK BERMAZHAB AL’ASY’ARIPeringkat
Pertama Dari Kalangan Murid Imam Abu Al-Hasan Al-Asy’ariAbu Abdullah bin
Mujahid Al-Bashri

Abu Al-hasan Al-Bahili Al-Bashri

Abu Al-Hasan Bandar bin Al-Husein Al-Syirazi As-Sufi

Abu Muhammad At-Thobari Al-‘Iraqi

Abu Bakr Al-Qaffal As-Syasyi

Abu Sahl As-So’luki An-Naisaburi

Abu Yazid Al-Maruzi

Abu Abdillah bin Khafif As-Syirazi

Abu Bakr Al-Jurjani Al-Isma’ili

Abu Al-Hasan Abdul ‘Aziz At-Thobari

Abu Al-Hasan Ali At-Thobari

Abu Ja’far As-Sulami Al-Baghdadi

Abu Abdillah Al-Asfahani

Abu Muhammad Al-Qursyi Al-Zuhri

Abu Bakr Al-Bukhari Al-Audani

Abu Al-Manshur bin Hamsyad An-Naisaburi

Abu Al-Husein bin Sam’un Al-Baghdadi

Abu Abdul Rahman As-Syaruthi Al-Jurjani

Abu Ali Al-Faqih Al-SarkhosyiPeringkat KeduaAbu Sa’ad bin Abi Bakr Al-Isma’ili Al-Jurjani

Abu Thayyib bin Abi Sahl As-So’luki An-Naisaburi

Abu Al-Hasan bin Daud Al-Muqri Al-Darani Ad-Dimasyqi

Al-Qodhi Abu Bakr bin At-Thoyyib bin Al-Baqillani

Abu ‘Ali Ad-Daqqaq An-Naisaburi (guru Imam Al-Qusyairi)

Al-Hakim Abu Abdillah bin Al-Bai’e An-Naisaburi

Abu Manshur bin Abi Bakr Al-Isma’ili

Al-Imam Abu Bakr Furak Al-Isfahani

Abu Sa’ad bin Uthman Al-Kharkusyi

Abu Umar Muhammad bin Al-Husein Al-Basthomi

Abu Al-Qasim bin Abi Amr Al-Bajli Al-Baghdadi

Abu Al-Hasan bin Maysazah Al-Isfahani

Abu Tholib bin Al-Muhtadi Al-Hasyimi

Abu Mu’ammar bin Abi Sa’ad Al-Jurjani

Abu Hazim Al-‘Abdawi An-Naisaburi

Al-Imam Abu Ishaq Al-Isfara’ini

Abu ‘Ali bin Syazan Al-Baghdadi

Abu Nu’aim Al-Hafiz Al-Isfahani

Abu Hamid Ahmad bin Muhammad Al-Istawa’ie Ad-DalwiPeringkat KetigaAbu Al-Hasan As-Sukri Al-Baghdadi

Abu Manshur Al-Ayyubi An-Naisaburi

Abu Muhammad Abdul Wahab Al-Baghdadi

Abu Al-Hasan An-Na’imi Al-Bashri

Abu Thohir bin Khurasah Ad-Dimasyqi

Al-Imam Abu Manshur An-Naisaburi

Abu Dzar Al-Haraqi Al-Hafiz

Abu Bakr Ad-Dimsyaqi (Ibn Al-Jurmi)

Abu Muhammad Al-Juwaini (ayahnda Imam Al-Haramain Al-Juwaini)

Abu Al-Qasim bin Abi Uthman Al-Hamdani

Abu Ja’far As-Samnani

Abu Hatim At-Thobari Al-Qozwini

Abu Al-Hasan Rasya bin Nazhif Al-Muqri

Abu Muhammad Al-Isfahani (Ibn Al-Laban)

Abu Al-Fath Salim bin Ayyub Al-Razi

Abu Abdillah Al-Khobazi Al-Muqri

Abu Al-Fadhl bin ‘Amrus Al-Baghdadi Al-Maliki

Imam Abu Al-Qasim Al-Isfarayini

Al-Hafiz Abu Bakr Al-Baihaqi (empunya Al-Asma’ wa As-Sifat)Peringkat KeempatAbu Bakr Al-Khatib Al-Baghdadi

Al-Ustaz Abu Al-Qasim Al-Qusyairi

Abu ‘Ali bin Abi Harishoh Al-Hamdani Ad-Dimasyqi

Abu Al-Muzhoffar Al-Isfara’ini

Abu Ishaq Ibrahim bin ‘Ali As-Syirazi

Imam Al-Haramain Abu Al-Ma’ali Al-Juwaini

Abu Al-Fath Nasr bin Ibrahim Ad-Dimasyqi

Abu Abdillah At-ThobariPeringkat KelimaAbu Al-Muzoffar Al-Khowafi

Al-Imam Abu Al-Hasan At-Thobari (Balika Al-Harrasi)

Hujjatul Islam Al-Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali r.a.

Al-Imam Abu Bakr Al-Syasyi

Abu Al-Qashim Al-Anshori An-Naisaburi

Al-Imam Abu Nasr bin Abi Al-Qasim Al-Qusyairi

Al-Imam Abu ‘Ali Al-Hasan bin Sulaiman Al-Isbahani

Abu Sa’id As-ad bin Abi Nashr bin Al-Fadhl Al-‘Umri

Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Yahya Al-Uthmani Ad-Dibaji

Al-Qadhi Abu Al-‘Abbas Ahmad bin Salamah (Ibn Al-Ratbi)

Al-Imam Abu Abdillah Al-Farawi

Imam Abu Sa’ad Isma’il bin Ahmad An-Naisaburi Al-Karmani

Imam Abu Al-Hasan Al-Sulami Ad-Dimasyqi

Imam Abu Manshur Mahmud bin Ahmad Masyazah

Abu Al-Fath Muhammad bin Al-Fadhl bin Muhammad Al-Isfara’ini

Abu Al-Fath Nasrullah bin Muhammad Al-MashishiPeringkat KeenamAl-Imam Fakhruddin Al-Razi

Imam Saifullah Al-Amidi

Sulton Al-Ulama’ Izzuddin bin Abdil Salam

Sheikh Abu ‘Amr bin Al-Hajib

Sheikhul Islam Izzuddin Al-Hushairi Al-Hanafi

Al-Khasru SyahiPeringkat KetujuhSheikh Taqiyuddin Ibn Daqiq Al-‘Idd

Sheikh ‘Ala’uddin Al-Baji

Al-Imam Al-Walid Taqiyuddin Al-Subki (murid Sheikh Abdul Ghani An-Nablusi)

Sheikh Shofiyuddin Al-Hindi

Sheikh Shadruddin bin Al-Marhal

Sheikh Zainuddin

Sheikh Shodruddin Sulaiman Abdul Hakam Al-Maliki

Sheikh Syamsuddin Al-Hariri Al-Khatib

Sheikh Jamaluddin Az-Zamlakani

Sheikh Jamaluddin bin Jumlah

Sheikh Jamaluddin bin Jamil

Qodhi Al-Quddho Syamsuddin As-Saruji Al-Hanaf

Al-Qadhi Syamsuffin bin Al-Hariri

Al-Qodhi ‘Addhuddin Al-Iji As-Syirazi

Dan lain-lain lagi.(antara rujukan: Tabyiin Kizb Al-Muftari oleh Imam
Ibn ‘Asakir, Marham Al-Ilal oleh Imam Al-Yafi’e, Tobaqot As-Syafi’iyyah
Al-Kubra oleh Imam Tajuddin As-Subki, At-Tobaqot oleh Imam Al-Badr
Husein Al-Ahdal dan sebagainya

DAFTAR PARA ULAMA SALAF BERMAZHAB AHLU SUNNAH WAL JAMAAH AL-AYSA’IRAH

IMAM-IMAM AQIDAH BERMAZHAB AL-ASY’ARI



Imam Abu Al-Hasan Al-Asy’ari
Imam Al-Baqillani (405H)
Abu Ishaq Al-Isfarayini (418 H)
Imam Ishaq As-Syirazi (476 H)
Imam Al-Juwaini
Imam Al-Haramain Abu Al-Ma’ali Al-Juwaini (478 H), pengarang kitab An-Nizomiyah
Imam Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali
Imam Ibn ‘Asakir (576 H), pengarang kitab tabiyiin Kazb Al-Muftari
Imam As-Syahristani (548 H)
Imam Fakhruddin Ar-Razi pengarang kitab Asas At-Taqdis (606 H)
Imam Al-Allamah Al-Amadi (631 H)
Imam Al-Iji (756 H)
Imam Sa’ad At-Taftazani (793 H) pengarang kitab syarh Al-Maqosid
Imam As-Syarif Al-Jurjani (816 H)
Imam Abu Mansur At-Tamimi
Imam Nas Al-Maqdisi
Imam Al-Farawi
Imam Abu Al-Walid Al-Baji
Imam Al-Bahili
Imam Sultonul Ulama’ Izz ibn Abdis Salam
Imam HibbatulLah Al-Makki
Imam Al-BaijuriIMAM-IMAM BESAR ILMU TAFSIR BERMAZHAB AL-ASY’ARIImam Al-Mufassir Al-Allamah Al-Qurtubi r.a.
Imam Al-Mufassir Ibn Kathir
Imam Al-Mufassir Ibn ‘Athiyyah Al-Andalusi r.a., pengarang kitab tafsir Al-Muharrar Al-Wajiz
Imam Al-Mufassir Abu Hayyan Al-Andalusi r.a., pengarang kitab Al-Bahr Al-Muhith.
Imam Al-Mufassir Fakhruddin Ar-Razi r.a., pengarang kitab tafsir mafatih Al-Ghaib
Imam Al-Mufassir Al-Hafiz Al-Buhgowi, pengarang kitab tafsir Al-Bughowi dan kitab Syarh As-Sunnah.
Imam Al-Mufassir Abu Al-Laith As-Samarqandi r.a., pengarang kitab tafsir Bahr Al-Ulum, kitab bustanul Arifin dan tanbih Al-Ghafilin.
Imam Al-Mufassir Abu Al-Hasan Ali An-Naisaburi pengarang kitab asbab An-Nuzul.
Imam Al-Mufassir Abu At-Thana’ Syihabuddin Al-Alusi Al-Husaini Al-Hasani r.a.
Imam Al-Mufassir At-Thamin Al-Halabi r.a., pengarang kitab tafsir Ad-Durr Al-Mashun.
Imam Al-Mufassir Al-Hafiz Jalaluddin As-Suyuti r.a., pengarang kitab tafsir Ad-Durr Al-Manthur.
Al-Imam Al-Khotib As-Syirbini r.a., pengarang kitab tafsir As-Siraj Al-Munir.
Imam Al-Allamah At-Thohir bin Asyur, pengarang kitab At-Tahrir wa At-Tanwir
Imam Az-Zarkasyi
Imam Mutawalli As-Sya’rawi r.a.IMAM-IMAM BESAR HADITH BERMAZHAB ASY’ARIImam Al-Hafiz Abu Al-Hasan Ad-Darqutni r.a.
Imam Al-Hafiz Abu Nu’aim Al-Ashbahani r.a., pengarang kitab hilyatul Auliya’
Imam Al-Hafiz Al-Hakim An-Naisaburi, pengarang kitab Mustadrak
Imam Al-Hafiz Ibn Hibban, pengarang kitab At-Thiqat
Imam Al-Hafiz Abu Sa’id Ibn As-Sam’ani
Imam Al-Hafiz Abu Bakr Al-Baihaqi
Imam Al-Khatib Al-Baghdadi
Imam Al-Hafiz Muhyiddin Yahya bin Syarf An-Nawawi
Sheikhul Islam Imam Al-Hafiz Abu Amr bin As-Solah
Imam Al-Hafiz Ibn Daqiq Al-‘Aid
Imam Al-Hafiz Ibn Abi Jamrah Al-Andalusi, musnid Ahlul Maghrib
Imam Al-Hafiz Al-Karmani, pengarang syarah sahih Al-Bukhari
Imam Al-Hafiz Al-Munziri, pengarang At-Targhib wa At-Taqrib
Imam Al-Hafiz Al-Abi, pensyarah sahih Muslim
Imam Al-Hafiz Ibn Hajar Al-Asqolani
Imam Al-Hafiz As-Sakhowi r.a.
Imam Al-Qostollani r.a. pengarang Irsyad As-Sariy
Imam Al-Hafiz Al-Munawi r.a..
Imam Al-Hafiz Ad-Dimyathi r.a.
Sheikh Al-Hafiz Waliyullah Al-Dahlawi r.a.
Sheikh Abu Al-Mahasin Al-Qouquji
Sheikh Al-Hafiz Ahmad As-Siddiq Al-Ghumari r.a..
Sheikh Al-Musnid Muhammad Al-Hafiz At-Tijani.
Sheikh Musnid Ad-Dunya, Sheikh Muhammad Yasiin Al-Fadani.
Sheikh Al-Musnid Abbas Al-MalikiULAMAK SIRAH BERMAZHAB AL-ASY’ARIImam Qadhi ‘Iyad, pengarang kitab As-Syifa fi syama’il wa ahwal Al-Mustofa
Imam As-Suhaili r.a., pengarang kitab Ar-Raudh Al-Unf
Imam Ibn Khaldun
Imam Ibn Athir r.a.
Imam As-Solihi Ad-Dimasqi, pengarang kitab Subulul Huda wa Ar-Rosyad
Sheikh Yusuf An-Nabhani r.a..ULAMAK FIQH YANG BESAR BERMAZHAB AL-ASY’ARIMenurut Imam Tajuddin As-Subki, majoriti ulama’ mazhab As-Syafi’ie, Malikiyah, Hanafiyah dan Sebahagian ulama’ Hanabilah bermazhab Al-Asy’ari. Demikian diriwayatkan daripada Imam Izzuddin bin Abdil-Salam yang turut diakui oleh Imam Abu Amr ibn Hajib dan Jamaluddin Al-Husairi. (At-Tobaqot 3/365)Fuqahak yang mempertahankan mazhab Al-Asy’ari ini iaitu:Imam Tajuddin As-Subki, pengarang kitab Al-Saif As-Saqil
Imam Sheikhul Islam Zakaria Al-Ansori
Imam Ar-Rafi’ie As-Syafi’e
Imam Ibn ‘Abidin
Imam Ibn Hajib.
Imam Al-Habib Abdullah bin ‘Alawi Al-Haddad
Imam ‘Alauddin Al-Bukhari
Imam Al-Baidhowi r.a.
Imam Az-Zabidi r.a.
Imam Al-Qorofi r.a.
Mufti Makkah Sheikh Ahmad Zaini Dahlan As-Syafi’eIMAM QIRAAT QURAN BERMAZHAB AL-ASY’ARIImam Al-Qari’ Ibn Jazri
Imam As-Syatibi r.a.PEMIMPIN AGUNG BERMAZHAB AL-ASY’ARISultan Salehuddin Al-Ayubi
Sultan Muhammad Al-FatehTINGKATAN ULAMAK BERMAZHAB AL’ASY’ARIPeringkat Pertama Dari Kalangan Murid Imam Abu Al-Hasan Al-Asy’ariAbu Abdullah bin Mujahid Al-Bashri
Abu Al-hasan Al-Bahili Al-Bashri
Abu Al-Hasan Bandar bin Al-Husein Al-Syirazi As-Sufi
Abu Muhammad At-Thobari Al-‘Iraqi
Abu Bakr Al-Qaffal As-Syasyi
Abu Sahl As-So’luki An-Naisaburi
Abu Yazid Al-Maruzi
Abu Abdillah bin Khafif As-Syirazi
Abu Bakr Al-Jurjani Al-Isma’ili
Abu Al-Hasan Abdul ‘Aziz At-Thobari
Abu Al-Hasan Ali At-Thobari
Abu Ja’far As-Sulami Al-Baghdadi
Abu Abdillah Al-Asfahani
Abu Muhammad Al-Qursyi Al-Zuhri
Abu Bakr Al-Bukhari Al-Audani
Abu Al-Manshur bin Hamsyad An-Naisaburi
Abu Al-Husein bin Sam’un Al-Baghdadi
Abu Abdul Rahman As-Syaruthi Al-Jurjani
Abu Ali Al-Faqih Al-SarkhosyiPeringkat KeduaAbu Sa’ad bin Abi Bakr Al-Isma’ili Al-Jurjani
Abu Thayyib bin Abi Sahl As-So’luki An-Naisaburi
Abu Al-Hasan bin Daud Al-Muqri Al-Darani Ad-Dimasyqi
Al-Qodhi Abu Bakr bin At-Thoyyib bin Al-Baqillani
Abu ‘Ali Ad-Daqqaq An-Naisaburi (guru Imam Al-Qusyairi)
Al-Hakim Abu Abdillah bin Al-Bai’e An-Naisaburi
Abu Manshur bin Abi Bakr Al-Isma’ili
Al-Imam Abu Bakr Furak Al-Isfahani
Abu Sa’ad bin Uthman Al-Kharkusyi
Abu Umar Muhammad bin Al-Husein Al-Basthomi
Abu Al-Qasim bin Abi Amr Al-Bajli Al-Baghdadi
Abu Al-Hasan bin Maysazah Al-Isfahani
Abu Tholib bin Al-Muhtadi Al-Hasyimi
Abu Mu’ammar bin Abi Sa’ad Al-Jurjani
Abu Hazim Al-‘Abdawi An-Naisaburi
Al-Imam Abu Ishaq Al-Isfara’ini
Abu ‘Ali bin Syazan Al-Baghdadi
Abu Nu’aim Al-Hafiz Al-Isfahani
Abu Hamid Ahmad bin Muhammad Al-Istawa’ie Ad-DalwiPeringkat KetigaAbu Al-Hasan As-Sukri Al-Baghdadi
Abu Manshur Al-Ayyubi An-Naisaburi
Abu Muhammad Abdul Wahab Al-Baghdadi
Abu Al-Hasan An-Na’imi Al-Bashri
Abu Thohir bin Khurasah Ad-Dimasyqi
Al-Imam Abu Manshur An-Naisaburi
Abu Dzar Al-Haraqi Al-Hafiz
Abu Bakr Ad-Dimsyaqi (Ibn Al-Jurmi)
Abu Muhammad Al-Juwaini (ayahnda Imam Al-Haramain Al-Juwaini)
Abu Al-Qasim bin Abi Uthman Al-Hamdani
Abu Ja’far As-Samnani
Abu Hatim At-Thobari Al-Qozwini
Abu Al-Hasan Rasya bin Nazhif Al-Muqri
Abu Muhammad Al-Isfahani (Ibn Al-Laban)
Abu Al-Fath Salim bin Ayyub Al-Razi
Abu Abdillah Al-Khobazi Al-Muqri
Abu Al-Fadhl bin ‘Amrus Al-Baghdadi Al-Maliki
Imam Abu Al-Qasim Al-Isfarayini
Al-Hafiz Abu Bakr Al-Baihaqi (empunya Al-Asma’ wa As-Sifat)Peringkat KeempatAbu Bakr Al-Khatib Al-Baghdadi
Al-Ustaz Abu Al-Qasim Al-Qusyairi
Abu ‘Ali bin Abi Harishoh Al-Hamdani Ad-Dimasyqi
Abu Al-Muzhoffar Al-Isfara’ini
Abu Ishaq Ibrahim bin ‘Ali As-Syirazi
Imam Al-Haramain Abu Al-Ma’ali Al-Juwaini
Abu Al-Fath Nasr bin Ibrahim Ad-Dimasyqi
Abu Abdillah At-ThobariPeringkat KelimaAbu Al-Muzoffar Al-Khowafi
Al-Imam Abu Al-Hasan At-Thobari (Balika Al-Harrasi)
Hujjatul Islam Al-Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali r.a.
Al-Imam Abu Bakr Al-Syasyi
Abu Al-Qashim Al-Anshori An-Naisaburi
Al-Imam Abu Nasr bin Abi Al-Qasim Al-Qusyairi
Al-Imam Abu ‘Ali Al-Hasan bin Sulaiman Al-Isbahani
Abu Sa’id As-ad bin Abi Nashr bin Al-Fadhl Al-‘Umri
Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Yahya Al-Uthmani Ad-Dibaji
Al-Qadhi Abu Al-‘Abbas Ahmad bin Salamah (Ibn Al-Ratbi)
Al-Imam Abu Abdillah Al-Farawi
Imam Abu Sa’ad Isma’il bin Ahmad An-Naisaburi Al-Karmani
Imam Abu Al-Hasan Al-Sulami Ad-Dimasyqi
Imam Abu Manshur Mahmud bin Ahmad Masyazah
Abu Al-Fath Muhammad bin Al-Fadhl bin Muhammad Al-Isfara’ini
Abu Al-Fath Nasrullah bin Muhammad Al-MashishiPeringkat KeenamAl-Imam Fakhruddin Al-Razi
Imam Saifullah Al-Amidi
Sulton Al-Ulama’ Izzuddin bin Abdil Salam
Sheikh Abu ‘Amr bin Al-Hajib
Sheikhul Islam Izzuddin Al-Hushairi Al-Hanafi
Al-Khasru SyahiPeringkat KetujuhSheikh Taqiyuddin Ibn Daqiq Al-‘Idd
Sheikh ‘Ala’uddin Al-Baji
Al-Imam Al-Walid Taqiyuddin Al-Subki (murid Sheikh Abdul Ghani An-Nablusi)
Sheikh Shofiyuddin Al-Hindi
Sheikh Shadruddin bin Al-Marhal
Sheikh Zainuddin
Sheikh Shodruddin Sulaiman Abdul Hakam Al-Maliki
Sheikh Syamsuddin Al-Hariri Al-Khatib
Sheikh Jamaluddin Az-Zamlakani
Sheikh Jamaluddin bin Jumlah
Sheikh Jamaluddin bin Jamil
Qodhi Al-Quddho Syamsuddin As-Saruji Al-Hanaf
Al-Qadhi Syamsuffin bin Al-Hariri
Al-Qodhi ‘Addhuddin Al-Iji As-Syirazi
Dan lain-lain lagi.(antara rujukan: Tabyiin Kizb Al-Muftari oleh Imam Ibn ‘Asakir, Marham Al-Ilal oleh Imam Al-Yafi’e, Tobaqot As-Syafi’iyyah Al-Kubra oleh Imam Tajuddin As-Subki, At-Tobaqot oleh Imam Al-Badr Husein Al-Ahdal dan sebagainya

Thursday, October 17, 2013

TAFSIR QURAN ULAMA INDONESIA








Tafsir adalah suatu usaha dalam menyingkap dan mengungkap makna
dibalik ungkapan-ungkapan bahasa Al-Qur'an dengan maksud untuk mentransfer faham
dibalik lafadz yang tersurat, baik dipandang dari sisi sebab-sebab turunnya
Al-Qur'an
dan lokasi diturunkannya
Al-Qur'an, termasuk juga membahas hukum yang terkandung
didalamnya.


Pada awalnya kitab-kitab tafsir yang diusahakan pada masa sahabat,
tabiin, dan tabiit tabiin (pengikut tabiin) ditulis masih dalam bahasa Arab
karena mereka hidup dikalangan orang-orang yang berbahas arab. Kelemahan tafsir
ini antara lain yaitu tafsir mereka hanya dapat di fahami oleh orang yang
mempunyai kemampuan dan pengetahuan bahasa Arab yang cukup, srta contoh-contoh
yang mereka buat belum tentu pas dalam semua kondisi setiap daerah. Padahal
tujuan tafsir adalah untuk mengunkap dan memperjelas makna dibalik kata-kata
Al-Qur'an
yang menggunakan bahasa arab dan dan harus bisa dengan lebih mudah difahami
masyarakat dimana
Al-Qur'an itu ditafsirkan guna memantapkan pemahaman
masyarakat terhadap pesan-pesan al-quran itu sendiri.


Nah dengan maksud memudahkan umat Islam yang ada di indonesia dalam
memahami isi dan kandungan
Al-Qur'an, maka usaha penerjemahan dan penafsiran Al-Qur'an dengan bahasa Indonesia juga dilakukan oleh para cendikia islam yang
berbahasa indonesia, baik oleh perorangan maupun kelompok. Penerjemahan dan
penafsiran Al-quran oleh mufassir Tanah Air tidak hanya ditransfer ke dalam
bahasa Indonesia, tetapi juga dalam bahasa daerah dan bahasa Melayu.


Penulisan kitab terjemahan dan tafsir Alquran dalam bahasa
Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa Melayu sebenarnya sudah dimulai pada abad
ke-17 M. Pada masa itu, Syekh Abdur Rauf Singkily seorang ulama asal Singkil di
Aceh menyusun sebuah kitab tafsir pertama berbahasa Melayu yang diberi judul
Turjuman al-Mustafid.


Upaya penerjemahan dan penafsiran Al-Qur'an dalam bahasa Melayu
diteruskan pada periode selanjutnya oleh Muhammad bin Umar yang terkenal dengan
nama Syekh Nawawi al-Bantani al-Jawi. Kitab Tafsir al-Munir li Ma'alim
at-Tanzil al-Musfir 'an Wujuh Mahasin at-Ta'wil yang disusun Syekh Nawawi ini
diterbitkan di Makkah pada permulaan tahun 1880-an. Hingga kini, sudah beberapa
kali dicetak ulang dan banyak beredar di kawasan Timur Tengah.


Sementara itu, pada abad ke-19 M hingga memasuki abad ke-20 M, mulai
bermunculan berbagai macam kitab terjemahan dan tafsir Alquran karya para ulama
dalam negeri. Di antaranya,
Al-Qur'an Al-Karim dan Terjemahan Maknanya karya
Prof H Mahmud Yunus yang dirilis pada 1967. Tafsir ini hanya terdiri atas satu
jilid, namun penafsirannya mencakup 30 juz.


Pada 1974, umat Islam di Indonesia mulai mengenal kitab tafsir
dalam bahasa daerah melalui Al-Kitab al-Mubin Tafsir
Al-Qur'an berbahasa Sunda
yang disusun oleh KH MHD Ramli. Kemudian, di tahun 1977, muncul kitab tafsir
dalam bahasa Jawa karya Prof KH R Muhammad Adnan yang berjudul Tafsir
Al-Qur'an
Suci.


Penulisan tafsir Al-Qur'an dalam bahasa Indonesia secara lebih
lengkap dalam satu jilid baru dilakukan oleh H Oemar Bakry melalui kitab Tafsir
Rahmat yang terbit pada tahun 1981. Penafsiran dalam kitab ini dilakukan
berdasarkan urutan surah dan ayat dalam
Al-Qur'an tanpa mengelompokkan ayat
sesuai dengan masalah yang dikandungnya. Yang membedakan kitab Tafsir Rahmat
dengan kitab-kitab tafsir karya ulama Indonesia sebelumnya adalah setiap surah
yang akan ditafsirkan didahului oleh suatu pendahuluan yang berisi uraian
tentang nama atau nama-nama lain surah tersebut, jumlah ayat, hubungan antar surah,
dan pokok isi surah. Penafsiran surah diakhiri dengan penutup yang berisi kesimpulan
mengenai kandungannya.

Pada perkembangan berikutnya, masyarakat Muslim Indonesia juga mengenal Tafsir
al-Azhar yang disusun oleh Hamka yang terbit pada tahun 1983. Kitab ini terdiri
atas 15 jilid dan setiap jilid berisi penafsiran dua juz
Al-Qur'an. Di setiap
awal surah yang ditafsirkan, diuraikan lebih dahulu beberapa hal yang berkaitan
dengan surah dan pokok isinya. Selain itu, setiap ayat juga disertai dengan
terjemahannya. Masalah pokok yang terkandung dalam ayat-ayat tertentu diuraikan
dan ditafsirkan secara panjang lebar.


Selain kitab tafsir yang disusun secara perorangan, Muslim di Tanah
Air juga mengenal karya tafsir yang dibuat secara kelompok atau oleh lembaga.
Di antaranya Al-quran dan Terjemahannya yang disusun oleh Yayasan Penyelenggara
Penerjemah
Al-Qur'an atas penunjukan oleh Departemen Agama RI. Al-quran dan
Terjemahannya terbit pertama kali tahun 1971 dan sejak tahun 1990 terjemahannya
telah mengalami revisi.


Dari panjangnya perjalanan usaha ulama indonesia dalam menyusun karya
penafsiran
Al-Qur'an maka tahapan itu di kelompokkan berdasarkan periode-periode
tertentu, akan tetapi pada dasarnya periode awal abad 20 sampaitahun 1960 an
cukup memberikan kontribusi yag sangat berharga dan dapat dikatakan penafsiran
setelahnya merujuk pada tafsir-tafsir yang mereka buat.


Dalam periode pertama ini, tradisi tafsir di Indonesia bergerak dalam model
dan teknis penulisan yang masih sederhana. Dari segi material teks
Al-Qur'an
yang menjadi objek tafsir, literature tafsir pada periode pertama ini cukup
beragam. Pertama, ada literature tafsir yang berkonsentrasi pada surat-surat
tertentu sebagai objek penafsiran, misalnya Tafsir
Al-Qur'anul Karim, Yaasiin
(Medan: Islamiyah, 1951) karya Adnan Yahya lubis; Tafsir Surat Yaasien dengan
keterangan (Bangil: Persis, 1951) karya A. Hassan. Kedua literature ini
berkonsentrasi pada surat Yaasiin.


Masih dalam konteks objek tafsir surat tertentu, ada yang berkonsentrasi
pada surat Al-Fatihah, yaitu: Tafsir Al-Qur’anul karim, surat Al-Fatihah
(Jakarta: Widjaja, 1955) karya Muhammad Nur Idris, Rahasia Ummul Qur’an atau
Tafsir Surat Al-Fatihah (Jakarta: Institute Indonesia, 1956) karya A. Bahry,
Kandungan Al-Fatihah (Jakarta: Pustaka Islam, 1960) karya Bahroem Rangkuti, dan
Tafsir Surat Al-Fatihah (Cirebon: Toko Mesir, 1969) karya H. Hasri.

Kedua, karya Tafsir yang berkonsentrasi pada juz-juz tertentu. Pada bagian ini
yang muncul hanya juz 30 (Juz ‘Amma) yang menjadi objek tafsir. Contoh dari
model ini adalah : Al-Burhan, Tafsir Juz ‘Amma (Padang : Al-Munir, 1922) karya
H. Abdul karim Amrullah, Al-Hidayah Tfsir Juz ‘Amma (Bandung: Al-Ma’arif, 1930)
karya A. Hassan, Tafsir Djuz ‘Amma (Medan: Islamiyah, 1954) karya Adnan Yahya
Lubis, Tafsir Al-Qur’anul Karim : Djuz ‘Amma (Jakarta: Wijaya, 1955) karya
Zuber Usman, Tafsir Juz ‘Amma dalam Bahasa Indonesia (Bandung: Al-Ma’arif,
1958) karya Iskandar Idris, Al-Abroor, Tafsir Juz ‘Amma (Surabaya: Usaha
Keluarga, 1960) karya Mustafa Baisa, dan Tafsir Djuz ‘Amma dalam Bahasa
Indonesia (Bandung: Al-Ma’arif, 1960) karya M. Said.


Ketiga, ada yang menafsirkan Al-Qur’an utuh 30 juz, yaitu Tafsir Qur’an
Karim (Jakarta: Pustaka Mahmudiyah, 1957cetakan VII) karya H. Mahmud Yunus yang
untuk kali pertama diselesaikan penulisannya pada tahun 1938. Lalu Tafsir Al-Qur’an
Al-Karim (Medan: Firma Islamiyah, 1956, edisi ke-9) atau dikenal dengan nama
tafsir tiga serangkai karya H. A. Halim Hassan, H. Zainal Abbas, dan
Abdurrahman Haitami, Tafsir Al-Qur’an (Jakarta: Wijaya, 1959) karya H.
Zainuddin Hamidy dan Fachruddin Hs, Tafsir Qur’an Al-Furqan (Jakarta: Tintamas,
1962) karya Ahmad Hassan, Tafsir Al-Azhar (Jakarta: Pembina Mas, 1967, cetakan
1) karya Haji Abdul Malik Abdul Karim Amrullah (Hamka), Tafsir Al-Bayan
(Bandung: Al-Ma’arif, 1966) karya T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Tafsir Qur’an
Indonesia yang diterbitkan pada tahun 1932 karya Ahmad Surkati.


Penulisan Tafsir Al-Furqan karya A.Hasan berlangsung dalam kurun waktu
1920-1950-an. Terbagi ke dalam empat edisi penerbitan sampai sekarang.edisi
pertama diterbitkan pada tahun 1928, akan tetapi dalam edisi pertama ini belum
seperti yang diharapkan, karena baru dapat memenuhi sebagian ilmu yang
diharapkan oleh umat islam Indonesia. Kemudian sebagai pemenuhan desakan
anggota Persatuan Islam, edisi kedua tafsir tersebut dapat diterbitkan pada
tahun 1941, namun ketika itu hanya sampai surat Maryam. Selanjutnya pada tahun
1953, penulisan kitab tafsir tersebut dilanjutkan kembali atas bantuan seorang
pengusaha yang bernama Sa’ad Nabhan hingga akhirnya Tafsir Al-Furqan dapat
diselesaikan secara keseluruhan (30 juz) dan dapat diterbitkan pada tahun 1956,
yang kemudian pada tahun 2006, Tafsir Al-Furqan kembali diterbitkan oleh
Pustaka Mantiq bekerjasama Universitas Al-Azhar Indonesia dalam satu jilid.


Pada masa Prof. H. Mahmud Yunus boleh dibilang ia adalah satu-satunya
intelektual yang melakukan kegiatan penafsiran al-Qur’an. Dia memulai kegiatannya
dengan menggunakan tulisan pego, yakni bahasa melayu atau bahasa Indonesia yang
berbentuk tulisan arab. Kerja keras Mahmud Yunus ini pada tahun 1922 membuahkan
karya terjemahan al-qur’an, yang kelak menjadi dasar bagi karya tafsirnya yang
berjudul Tafsir al-Qur’an al-Karim dan Terjemahan Maknanya.


Metode Tafsir Periode pertama, awal abad 20 M sampai tahun 1950-an, ada
yang ditulis dengan menggunakan metode ijmali (global) atau tarjamah tafsiriyah
(tarjamah maknawi). Di antaranya seperti Tafsir al-Furqan, yang ditulis oleh A.
Hassan. Penulisan kitab tafsir ini dimulai tahun 1928, dan selesai tahun 1956.
Dan Tafsir al-Qur’an Karim (tiga serangkai) yang ditulis oleh H. A. Halim
Hassan, H. Zainal Arifin Abbas, dan Abdurrahman Haitami pada tahun 1937. Tafsir
ini pada mulanya ditulis dalam bentuk majalah 20 halaman, yang terbit tiap
bulan.


Dan ada juga yang ditulis dengan menggunakan metode Maudhu’I (tematik).
Diantaranya seperti Tafsir Al-Qur’anul karim, Yaasiin (Medan: Islamiyah, 1951)
karya Adnan Yahya lubis, dan Tafsir Surat Yaasien dengan keterangan (Bangil:
Persis, 1951) karya A. Hassan.


Adapun rujukan ulama-ulama tafsir Indonesia ini merujuk kepada ulama-ulama
periode klasik seperti Ibnu Katsir dan As-Suyuti, juga kepada ulama-ulama
periode pertengahan seperti Muhammad Abduh, Sayyid Quthb, dan Ahmad Mushtafa
Al-Maragy.


Demekianlah usaha yang telah diupayakan oleh ulama mufassir indonesia
tentunya penafsiran-penafsiran mereka cendrung lebih mudah difahami oleh
masyarakat yang membutuhkan penafsiran al-quran dalam mengambil isi kandungan
al-quran, hal ini disebabkan tafsirnya berbahasa yang sama dengan masyrakat dan
pemberian contoh-contoh dalam penafsirannya pun cendrung disesuaikan dengan
kondisi masyarakat sekitar di zaman itu.



 
Design by Blogger Themes | Bloggerized by Admin | free samples without surveys