Saturday, December 12, 2020

KRONOLOGI KASUS 6 KORBAN FPI DI JALAN TOL JAKARTA CIKAMPEK KM 50

 












Sekretaris Umum FPI Munarman mengirimkan kronologi
penembakan 6 anggota FPI secara tertulis kepada wartawan, Selasa (8/12)



 



Kronologi ini diterima wartawan lewat Sekretaris Umum FPI
Munarman, Selasa (8/12/2020) pagi.



Penjelasan munarman sebagai
berikut :



IB HRS dan Keluarga keluar dari Perumahan The Nature Mutiara
Sentul Bogor masuk ke Tol Jagorawi arah Jakarta.Lalu via jalan Tol Lingkar Luar
Cikunir ambil arah Tol Cikampek, menuju tempat pengajian keluarga sekaligus peristirahatan
dan pemulihan Kesehatan di Karawang.



 



Rombongan IB terdiri dari 8 mobil; 4 mobil keluarga IB HRS,
4 mobil Laskar FPI sebagai tim pengawal.Rombongan keluarga terdiri dari IB HRS
dan menantu serta 1 orang ustad keluarga dan 3 orang sopir. Kemudian perempuan
dan anak-anak, 12 wanita dewasa, 3 bayi dan 6 balita.Sementara Laskar FPI
terdiri dari 24 orang dalam 4 mobil, tiap mobilnya 6 orang laskar termasuk
supir.



 



Semenjak keluar dari perumahan The Nature Mutiara Sentul,
rombongan diikuti oleh mobil Avanza hitam Nopol B 1739 PWQ dan Avanza Silver
Nopol B~~~KJD, serta beberapa mobil lainnya.Selama perjalanan di tol, ada
upaya-upaya dari beberapa mobil yang ingin mepet dan masuk ke dalam konvoi
rombongan IB HRS.





Setelah Pintu Keluar Tol Karawang Timur, ada 3 Mobil penguntit yang
berusaha masuk dalam konvoi. 3 Mobil penguntit itu adalah: Avanza Hitam B 1739
PWQ,, Avanza Silver B—KJD dan Avanza Putih K—EL.Ada dua mobil dari pengikut IB
HRS berada di belakang, mereka menjauhkan mobil penguntit dari mobil
IB-HRS.Salah satu dari dua mobil pengikut IB HRS adalah mobil Chevrolet warna
hijau metalik bernomor polisi B 2152 TBN, berisi 6 laskar khusus.



 



Setelah rombongan keluar pintu Tol Karawang Timur, salah
satu mobil laskar pengawal yaitu Avanza, sempat dipepet. Namun berhasil lolos
dan menuju arah Pintu Tol Karawang Barat. Lalu masuk ke tol arah Cikampek dan
beristirahat di Rest Area KM 57.Sedangkan mobil laskar khusus DKI (Chevrolet B
2152 TBN), saat mengarah ke pintu Tol Karawang Barat berdasarkan komunikasi
terakhir, dikepung oleh 3 mobil pengintai kemudian diserang.



 



Ketika itu, salah seorang laskar yang berada di mobil Avanza
yang tengah beristirahat di KM 57, terus berkomunikasi dengan Sufyan alias Bang
Ambon. Laskar yang berada dalam mobil Chevrolet B 2152 TBN. Telepon ketika itu
terus tersambung.



 



Informasi dari laskar yang berada di mobil Chevrolet melalui
sambungan telepon bahwa ketika Chevrolet B 2152 TBN dikepung, Sufyan alias Bang
Ambon mengatakan “Tembak Sini Tembak” mengisyaratkan ada yang mengarahkan
senjata kepadanya.Dan setelah itu terdengar suara rintihan laskar yang
kesakitan seperti tertembak.



 



Laskar bernama Sufyan alias Bang Ambon meminta laskar lain
untuk terus berjalan.Begitu pula saat Faiz, dihubungi oleh salah satu laskar
yang ikut rombongan IB-HRS, nampak ada suara orang yang kesakitan seperti habis
tertembak. Dan seketika itu telepon juga terputus.



 



Dan 6 orang Laskar yang ada dalam mobil Chevrolet sampai
Senin siang hari tidak dapat dihubungi dan tidak diketahui keberadaannya.



 



Saat laskar yang menggunakan mobil Avanza istirahat di KM
57, nampak juga ada yang mengintai, bahkan ada drone yang diterbangkan.Setelah
1 jam lebih mereka di KM 57, mereka beranjak menuju markas FPI Karawang melalui
akses pintu Tol Karawang Barat.Ketika memasuki pintu Tol Karawang Barat, tim
laskar yang menggunakan Avanza tidak menemukan apa pun di lokasi yang
diperkirakan sebagai TKP serangan terhadap rombongan Laskar
Chevrolet B 2152 TBN.



 



 



FPI masih mencari keberadaan 6 Laskar tersebut di berbagai
rumah sakit dan tempat-tempat lainnya. Sampai saat itu, mereka belum mengetahui
keadaan dan keberadaan 6 Laskar tersebut.



 



“Ketika Kapolda Metro Jaya melakukan konferensi pers dan
memberikan Informasi bahwa 6 Laskar tersebut ditembak mati, barulah Diketahui kondisi ke 6 orang laskar
yang ada dalam mobil Chevrolet sudah dalam keadaan tewas dengan banyak luka tembak dan penganiayaan.







                                              KEJANGGALAN TINDKAN  POLISI DI TKP



 



1.Berdasarkan sumber saksi di TKP yang di liput Edy Mulyadi

.Aparat kepolisian sejak sore sudah berada di sekitar TKP dengan banyak
kendaraan dan diantaranya kendaraan patroli kepolisian.



Ini seolah sudah di rencanakan  untuk melakukan penyergapan terhadap  rombongan kendaraan HRS yang akan lewat sebab
berkumpulnya mereka disitu tidak dalam rangka ada pengamanan pengguna jalan tol
secara umum.



Artinya besar kemungkinan telah ada rencana penyergapan
rombongan HRS yang lebih dahulu telah di selidiki sudah lebih dahulu bahwa HRS
akan lewat di jalan itu.Sebagaimana di ketahui bahwa lokasi KM 50 itu biasa
menjadi lokasi penyergapan para teroris,bandar narkoba dll seperti di jelaskan
pak Edy mulayadi dalam investigasinya.



 



2.Polisi
yang berada di lokasi berpakaian preman bukan berpakaian dinas sehingga Pihak
rombongan HRS tidak mengenali jika mereka adalah Polisi sehingga di sangka
adalah OTK oleh pihak rombongan HRS.



Seandainya mereka berpakaian dinas dan tujuanya hanya
pengamanan biasa tentu pada saat rombongan HRS lewat,polisi memberi tanda
sirine kendaraan sehingga di kenali kendaraan umum termasuk rombongan HRS
sebagai polisi yg sedang patroli.Tetapi dalam kasus ini mereka menguntit dengan
pakai preman dan menghadang rombongan HRS dengan senjata laras panjang dan
pistol sebagaimana pengakuan saksi di TKP.Polisi tidak menunjukan indetitas
diri sebagai aparat.



 



3.Masih
berdasarkan keterangan saksi di TKP yg melihat kejadian itu,Hanya dua letusan
yang ada dan kenyataanya 2 korban tertembak yang kemudian  setengah
jam kemudian
di bawa ke ambulan.



Sementara 4 orang yang lain di bawa polisi dengan kendaraan
lain dalam kondisi masih hidup.Artinya tidak ada tembak menembak di TKP atau korban lebih dahulu menembak
polisi sebab jika ada tentu akan sangat banyak suara tembakan dan bisa saja
peluru kemana mana.Saksi sendiri  melihat
setelah itu ada polisi menembak ban mobil 
agar kempes yang menurutnya menggunakan laras panjang.Jika hal ini benar
maka korban sesungguhnya tidak punya senjata api karena tidak ada balasan
tembakan dari korban ke arah polisi.



 



Jika kemudian dalam jumpa pers polisi menunjukkan pistol
rakitan seharusnya di TKP tentu ada peluru yang di tembakan oleh korban
menyerang polisi dan terbukti tidak satupun ada korban dari polisi.



Lantas darimana polisi dapatkan pistol yang di klaim sebagai
barang bukti ?? Ataukah memang telah dipersiapkan sebagai alibi seolah korban
membawa senjata dan menyerang polisi ? Saya rasa TKP bisa menjadi petunjuk
kalau memang ada lebih lebih ada saksi yang melihat.



 



4.Berdasarkan
keterangan Fadil di Mapolda metro jaya 7/12/2020,Tidak ada anggota yang
terluka. Kerugian hanya materil. Kendaraan anggota rusak karena dipepet dan
ditembaki.



Menurut saya hal ini tidak sinkron dengan pristiwa di TKP
sebagaimana telah saya jelaskan diatas karna jelas tidak ada tembak menembak
karena ada beberapa saksi yang melihat langsung.Dan terkait kendaraan yang di
katakan rusak saya rasa agak aneh.



Bagaimana kaca mobil polisi bisa tertembak sedangkan korban
sendiri tidak punya senjata apalagi jika di tembaknya seolah mobil korban
berada di depan krn kaca mobil yang kena kaca depan bukan kaca belakang.Sudut
tembakpun janggal karena bekas peluru di dalam mobil mengarah kebawah tepatnya dekat handle kopling.



Ini berarti kaca mobil sengaja di tembak sambil berdiri tepat di depan mobil.
Apa mungkin korban berdiri depan mobil polisi ??



Jika di cermati kendaraan polisi yang tertembak,tidak
terkesan kendaraan itu di pepet oleh pengawal HRS apalagi berbenturan sebab
jika terjadi benturan dengan kecepatan cukup tinggi walau di srempet





tentu akibatnya cukup fatal bahkan bisa hilang kendali.Tetapi yang terlihat di
kendaraan polisi tidak parah hanya sedikit penyok itupun posisinya diatas



dekat spion bukan serudukan dari bawah. Inipun jadi
memperkuat bahwa tembakan kaca depan mobil polisi tambah janggal seharusnya
jika memang ada tembak menembak tentu saja Sopir  polisi bakal di tembak dari sisi kanan ketika
di pepet bukanya malah di depan kaca.seharusnya kaca samping sopir yang
tertembak.



 



5.Secara
umum setiap kejadian kriminal seringkali akan ada prosedur olah TKP dan garis
line di lokasi.Namun kenyataanya itu tidak dilakukan polisi. Bahkan setelah
membawa korban mereka langsung meninggalkan TKP dan ini pelanggaran prosedur
kepolisian.



Olah TKP
dimulai dari persiapan ,penanganan
TKP, perjalanan ke TKP, Tindakan Pertama di Tempat Kejadian Perkara (TPTKP), Olah TKP yang terdiri
dari pengamatan umum, pemotretan,pembuatan sketsa, pengumpulan barang bukti,
penanganan korban, saksi, dan pelaku,
pengorganisasian olah TKP dan akhir penanganan TKP.dan itu semua tidak di lakukan oleh pihak
kepolisian pada saat itu. Tahu tahu dalam jumpa pers telah ada barang bukti
berupa pedang dan pistol yang di sangkakan sebagai pemilik dari korban.



 



6.Sebagaimana
telah marfum di pahami secara umum bahwa jalan tol adalah jalan bebas hambatan
sehingga siapa pun yang melakukan penghadangan di jalan tol adalah sebuah
bentuk pelanggaran hukum.



Polisi tidak seharusnya berada di jalan tol dengan beberapa
unit kendaraan apalagi merencanakan penyergapan pada rombongan HRS secara
khusus seolah  mereka adalah teroris dan
bandar narkoba kelas kakap.



Sekali lagi tidak mungkin tidak di rencanakan apalagi sejak
sore hari polisi sudah berada di sekitar lokasi TKP dan itu berarti bukan pihak
korban yang mencari masalah melainkan polisi yang berupaya menghentikan
kendaraan rombongan HRS



7.Jika dicermati dari beberapa
keterangan saksi,hasil investigasi Eddy Mulyadi dan uraian Munarman dapat di
ambil kesimpulan bahwa  4 orang yang di
nyatakan masih Hidup saat di bawa pergi tetapi tidak di bawa ke kantor Polisi
untuk di lakukan introgasi,perbal atau pengumpulan keterangan dari
mereka.Mereka di bawa polisi di suatu tempat dan di ekskusi mati disitu.Dan ini
justru sama dengan upaya pembunuhan terhadap korban yang di lakukan polisi
lebih lebih polisi menyalahi prosedur penangkapan korban yang sangkakan polisi.



Penembakan yang di lakukan polisi terhadap korban adalah bentuk pembantaian
mengingat banyak luka tembak pada korban dan bekas penganiayaan di lakukan
polisi.
Ini sangat bertentangan dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39
Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia.
Ini jelas bahwa polisi malahan melakukan pembunuhan
berencana yang diatur dalam pasal 340 Kitab Undang-undang hukum pidana.Ini juga
menjawab bahwa di TKP KM 50  tidak ada
tembak menembak yang ada banyak tembakan di suatu tempat ke tubuh korban oleh
polisi disertai menganiayaan .



8.Polisi tidak bisa menjelaskan kemana 4 korban yang masih hidup di bawa
setelah 2 orang di tembak di TKP KM 50 dan apa saja yang mereka perbuat
terhadap laskar FPI pengawal HRS itu.dan ini harus diadakan Investigasi oleh
pihak terkait dan tentunya Polisi yang mengekskusi korban harus lebih dahulu di
lakukan upaya hukum dan mestinya dilakukan proses penahanan jika memang hukum
mesti di tegakkan tanpa pandang bulu mengingat hal ini bukan perkara kriminal
biasa.Silahkan Polisi  yang terlibat
membawa 4 korban itu menujukkan lokasi 
menembak korban yang jelas jelas bukan lagi melumpuhkan tetapi
pembantaian jika ingin bicara kebenaran.



9.Menurut Polda metro jaya dari enam orang yang tewas di tembak masih ada 4
lagi laskar FPI pengawal HRS yang melarikan diri. Padahal dalam mobil
Laskar
Chevrolet B 2152 TBN hanya berisi 6
orang
.apakah mungkin
chevrolet itu berisi 10 orang ?? Perlu di ketahui bahwa laskar FPI pengawal HRS
itu ada 24 orang dalam 4 mobil. Masing masing Mobil  berisi 6 orang.Selain  6 L
askar Chevrolet B 2152 TBN semuanya pulang dalam keadaan selamat
sebab memang berbeda kendaraan. Jadi darimana Polisi mengatakan masih ada 4
orang lagi  melarikan diri sedang
penumpang hanya 6 orang  dan semua tewas
??  Ini terkesan Polisi sedang membuat
semacam trik alibi pada media sebab tidak sesuai dengan jumlah penumpang dan
jumlah rombongan pengawal HRS.



10. polisi sebelumnya menunjukkan dua senjata api sebagai barang bukti. Senjata
api itu disebut digunakan oleh laskar khusus untuk menyerang anggota polisi
saat melakukan pengintaian terhadap rombongan Rizieq. Bahkan, polisi menyebut
laskar khusus pengawal Rizieq sempat melesatkan tembakan tiga kali hingga
mengenai mobil anggota.



"Asli ini
(senjata api) ada tiga yang sudah ditembakan. Hasil awal kelompok yang
menyerang ini diidentifikasi adalah laskar khusus yang selama ini
menghalang-halangi penyidikan," kata Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Fadil
Imran



Jika berasumsi telah ada 3 peluru yang di tembakan maka dimana laskar FPI itu
menembak polisi sedang di TKP hanya terjadi 2 tembakan dan korban tewas  ?



Semua barang bukti yang di tunjukan oleh Polda metro jaya menurut saya seperti
sengaja di adakan sebab seperti yang telah di jelaskan oleh Edy mulyadi bahwa
tidak ada tembakan apapun di TKP KM 50 selain 2 tembakan saja dan itu di dengar
oleh saksi saksi bahkan ada saksi yang sangat dekat dengan pristiwa itu
sehingga hal ini menjadi sanggahan bagi polisi yang mengatakan telah terjadi
tembak menembak di TKP KM 50. Taroklah misalnya korban membawa pistol dan lebih
dahulu menembak,maka tentunya di TKP dengan banyaknya polisi disitu akan jatuh
korban dari polisi sehingga akan ada aksi tembak menembak yang ramai dan semua
orang yang DIUSIR polisi dari lokasi tentu akan mendengar. Namun kenyataan itu
tidak terjadi.Yang ada adalah banyaknya tembakan polisi ketubuh 4 korban dan
itu eksekusi mati di tempat lain. Dengan dasar itu tidak mungkin di tempat lain
(LOKASI X) 4 korban membawa senjata karna ketika di bawa dari KM 50 mereka
dibawa dengan tangan kosong.

jadi pertanyaanya adalah Darimana polisi mengklaim itu senjata dari laskar FPI
yang mereka tembak ??



 



11.Sebagaimana
hasil analisa pihak FPI dan keluarga korban bahwa korban di tembak cukup banyak
lebih dari 1 peluru di masing masing korban.maka akan timbul pertanyaannya
dimana polisi menembak mereka begitu 
sedang di TKP KM 50 tidak terjadi demikian ?? Bagaimana Polisi
menjelaskan mengapa tembakan mereka pada korban hampir semua mengarah ke
jantung ?? bukankah itu artinya korban sudah tidak berdaya karena nyaris semua
korban mengalami luka tembak yang sama 
dan selebihnya di tembak membabi buta ? melihat penjelasan keadaan
korban dalam rapat komisi III Dpr jelas polisi menembak jarak dekat dan itu
adalah Eksekusi korban bukan lagi dikatakan bahwa polisi membela diri.

Besar dugaan saya bawa sebelum ditembak, para korban yang berjumlah 4 orang itu
lebih dahulu di tanya banyak hal dengan paksaan dan siksaan untuk menjawab baru
kemudian ditembak sedemikian rupa lebih dari beberapa kali untuk memastikan
mereka benar benar telah tewas.Tindakan seperti ini saya rasa bukan lagi
tindakan sesuai SOP kepolisian melainkan sudah memenuhi unsur kriminal yang di
lakukan polisi sendiri apalagi di lakukan secara rahasia (lokasi X). Bukankah
dalam prosedur penangkapan jika masih hidup mestinya di bawa ke kantor polisi
untuk dimintai keterangan dan kemudian di tahan ??  mengapa para korban seolah dianggap Teroris
kelas kakap padahal ada banyak kasus teroris yang tertangkap tidak serta merta
di ekskusi mati tanpa prosedur ??





Terkait Uraian diatas saya yakin para pakar hukum lebih memahami peraturan
perundang undangan dan undang undang apa saja yang telah di langgar kepolisian  terkait eksekusi mati korban laskar FPI
pengawal HRS yang tujuannya sedang dalam perjalanan  melaksanakan pengajian rutin keluarga bersama
anak cucunya bukan sedang melaksanakan kegiatan kriminal,teroris,perampokan,begal
apalagi narkoba. Kalaupun misalnya HRS tidak atau belum memenuhi panggilan
polisi terkait pelanggaran COVID-19 apakah harus dilakukan upaya pembunuhan
sebagai motto TINDAKAN TEGAS polisi  dan
di untit kemana saja ia pergi seolah HRS adalah Bandar NARKOBA ??  



Uraian saya di atas adalah sebuah analisa dari seorang yang peduli dengan rasa
keadilan.dan siapapun yang merasa dirinya muslim yang baik tentu sangat miris
jika hukum di indonesia sudah seperti hukum rimba  atas nama hukum. Sungguh tidak masuk akal
jika penegak hukum yang mestinya pelindung rakyat justru menjadi eksekutor yang
berlindung atas nama undang undang.Jika penegak hukum melanggar hukum dianggap
bukan kesalahan lantas mau jadi apa negara ini kedepan ?

Jika penegak hukum dalam melaksanakan Undang undang justru tidak sebagaimana
mestinya dimana yang dianggap berbeda pandangan seperti musuh maka dimana letak
keadilan hukum ?? TNI dan POLRI seharusnya berdiri ditengah tidak memihak
siapapun dalam penegakkan hukum dan tidak pula pandang bulu jika bersalah sebab
Pemerintahan presiden akan selalu berganti kekuasaan sehingga dalam pelaksanaan
hukum mestinya sesuai prosedur bukan berdasarkan pesanan.Hukum  itu didasari atas rasa berkemanusiaan dan
azaz praduga tak bersalah.Jika seorang penegak hukum bertindak menurut hawa
napsunya  secara personal atau atas dasar
kepentingan salah satu pihak maka penegak hukum melanggar hukum karena tidak
menegakkan keadilan hukum.





Ttd : Von Edison Alouisci

Relawan kemanusiaan 12 Deasember 2020







    

KRONOLOGI KASUS 6 KORBAN FPI DI JALAN TOL JAKARTA CIKAMPEK KM 50

 






Sekretaris Umum FPI Munarman mengirimkan kronologi penembakan 6 anggota FPI secara tertulis kepada wartawan, Selasa (8/12)

 

Kronologi ini diterima wartawan lewat Sekretaris Umum FPI Munarman, Selasa (8/12/2020) pagi.

Penjelasan munarman sebagai berikut :

IB HRS dan Keluarga keluar dari Perumahan The Nature Mutiara Sentul Bogor masuk ke Tol Jagorawi arah Jakarta.Lalu via jalan Tol Lingkar Luar Cikunir ambil arah Tol Cikampek, menuju tempat pengajian keluarga sekaligus peristirahatan dan pemulihan Kesehatan di Karawang.

 

Rombongan IB terdiri dari 8 mobil; 4 mobil keluarga IB HRS, 4 mobil Laskar FPI sebagai tim pengawal.Rombongan keluarga terdiri dari IB HRS dan menantu serta 1 orang ustad keluarga dan 3 orang sopir. Kemudian perempuan dan anak-anak, 12 wanita dewasa, 3 bayi dan 6 balita.Sementara Laskar FPI terdiri dari 24 orang dalam 4 mobil, tiap mobilnya 6 orang laskar termasuk supir.

 

Semenjak keluar dari perumahan The Nature Mutiara Sentul, rombongan diikuti oleh mobil Avanza hitam Nopol B 1739 PWQ dan Avanza Silver Nopol B~~~KJD, serta beberapa mobil lainnya.Selama perjalanan di tol, ada upaya-upaya dari beberapa mobil yang ingin mepet dan masuk ke dalam konvoi rombongan IB HRS.


Setelah Pintu Keluar Tol Karawang Timur, ada 3 Mobil penguntit yang berusaha masuk dalam konvoi. 3 Mobil penguntit itu adalah: Avanza Hitam B 1739 PWQ,, Avanza Silver B—KJD dan Avanza Putih K—EL.Ada dua mobil dari pengikut IB HRS berada di belakang, mereka menjauhkan mobil penguntit dari mobil IB-HRS.Salah satu dari dua mobil pengikut IB HRS adalah mobil Chevrolet warna hijau metalik bernomor polisi B 2152 TBN, berisi 6 laskar khusus.

 

Setelah rombongan keluar pintu Tol Karawang Timur, salah satu mobil laskar pengawal yaitu Avanza, sempat dipepet. Namun berhasil lolos dan menuju arah Pintu Tol Karawang Barat. Lalu masuk ke tol arah Cikampek dan beristirahat di Rest Area KM 57.Sedangkan mobil laskar khusus DKI (Chevrolet B 2152 TBN), saat mengarah ke pintu Tol Karawang Barat berdasarkan komunikasi terakhir, dikepung oleh 3 mobil pengintai kemudian diserang.

 

Ketika itu, salah seorang laskar yang berada di mobil Avanza yang tengah beristirahat di KM 57, terus berkomunikasi dengan Sufyan alias Bang Ambon. Laskar yang berada dalam mobil Chevrolet B 2152 TBN. Telepon ketika itu terus tersambung.

 

Informasi dari laskar yang berada di mobil Chevrolet melalui sambungan telepon bahwa ketika Chevrolet B 2152 TBN dikepung, Sufyan alias Bang Ambon mengatakan “Tembak Sini Tembak” mengisyaratkan ada yang mengarahkan senjata kepadanya.Dan setelah itu terdengar suara rintihan laskar yang kesakitan seperti tertembak.

 

Laskar bernama Sufyan alias Bang Ambon meminta laskar lain untuk terus berjalan.Begitu pula saat Faiz, dihubungi oleh salah satu laskar yang ikut rombongan IB-HRS, nampak ada suara orang yang kesakitan seperti habis tertembak. Dan seketika itu telepon juga terputus.

 

Dan 6 orang Laskar yang ada dalam mobil Chevrolet sampai Senin siang hari tidak dapat dihubungi dan tidak diketahui keberadaannya.

 

Saat laskar yang menggunakan mobil Avanza istirahat di KM 57, nampak juga ada yang mengintai, bahkan ada drone yang diterbangkan.Setelah 1 jam lebih mereka di KM 57, mereka beranjak menuju markas FPI Karawang melalui akses pintu Tol Karawang Barat.Ketika memasuki pintu Tol Karawang Barat, tim laskar yang menggunakan Avanza tidak menemukan apa pun di lokasi yang diperkirakan sebagai TKP serangan terhadap rombongan Laskar Chevrolet B 2152 TBN.

 

 

FPI masih mencari keberadaan 6 Laskar tersebut di berbagai rumah sakit dan tempat-tempat lainnya. Sampai saat itu, mereka belum mengetahui keadaan dan keberadaan 6 Laskar tersebut.

 

“Ketika Kapolda Metro Jaya melakukan konferensi pers dan memberikan Informasi bahwa 6 Laskar tersebut ditembak mati, barulah Diketahui kondisi ke 6 orang laskar yang ada dalam mobil Chevrolet sudah dalam keadaan tewas dengan banyak luka tembak dan penganiayaan.



                                              KEJANGGALAN TINDKAN  POLISI DI TKP

 

1.Berdasarkan sumber saksi di TKP yang di liput Edy Mulyadi
.Aparat kepolisian sejak sore sudah berada di sekitar TKP dengan banyak kendaraan dan diantaranya kendaraan patroli kepolisian.

Ini seolah sudah di rencanakan  untuk melakukan penyergapan terhadap  rombongan kendaraan HRS yang akan lewat sebab berkumpulnya mereka disitu tidak dalam rangka ada pengamanan pengguna jalan tol secara umum.

Artinya besar kemungkinan telah ada rencana penyergapan rombongan HRS yang lebih dahulu telah di selidiki sudah lebih dahulu bahwa HRS akan lewat di jalan itu.Sebagaimana di ketahui bahwa lokasi KM 50 itu biasa menjadi lokasi penyergapan para teroris,bandar narkoba dll seperti di jelaskan pak Edy mulayadi dalam investigasinya.

 

2.Polisi yang berada di lokasi berpakaian preman bukan berpakaian dinas sehingga Pihak rombongan HRS tidak mengenali jika mereka adalah Polisi sehingga di sangka adalah OTK oleh pihak rombongan HRS.

Seandainya mereka berpakaian dinas dan tujuanya hanya pengamanan biasa tentu pada saat rombongan HRS lewat,polisi memberi tanda sirine kendaraan sehingga di kenali kendaraan umum termasuk rombongan HRS sebagai polisi yg sedang patroli.Tetapi dalam kasus ini mereka menguntit dengan pakai preman dan menghadang rombongan HRS dengan senjata laras panjang dan pistol sebagaimana pengakuan saksi di TKP.Polisi tidak menunjukan indetitas diri sebagai aparat.

 

3.Masih berdasarkan keterangan saksi di TKP yg melihat kejadian itu,Hanya dua letusan yang ada dan kenyataanya 2 korban tertembak yang kemudian  setengah jam kemudian di bawa ke ambulan.

Sementara 4 orang yang lain di bawa polisi dengan kendaraan lain dalam kondisi masih hidup.Artinya tidak ada tembak menembak di TKP atau korban lebih dahulu menembak polisi sebab jika ada tentu akan sangat banyak suara tembakan dan bisa saja peluru kemana mana.Saksi sendiri  melihat setelah itu ada polisi menembak ban mobil  agar kempes yang menurutnya menggunakan laras panjang.Jika hal ini benar maka korban sesungguhnya tidak punya senjata api karena tidak ada balasan tembakan dari korban ke arah polisi.

 

Jika kemudian dalam jumpa pers polisi menunjukkan pistol rakitan seharusnya di TKP tentu ada peluru yang di tembakan oleh korban menyerang polisi dan terbukti tidak satupun ada korban dari polisi.

Lantas darimana polisi dapatkan pistol yang di klaim sebagai barang bukti ?? Ataukah memang telah dipersiapkan sebagai alibi seolah korban membawa senjata dan menyerang polisi ? Saya rasa TKP bisa menjadi petunjuk kalau memang ada lebih lebih ada saksi yang melihat.

 

4.Berdasarkan keterangan Fadil di Mapolda metro jaya 7/12/2020,Tidak ada anggota yang terluka. Kerugian hanya materil. Kendaraan anggota rusak karena dipepet dan ditembaki.

Menurut saya hal ini tidak sinkron dengan pristiwa di TKP sebagaimana telah saya jelaskan diatas karna jelas tidak ada tembak menembak karena ada beberapa saksi yang melihat langsung.Dan terkait kendaraan yang di katakan rusak saya rasa agak aneh.

Bagaimana kaca mobil polisi bisa tertembak sedangkan korban sendiri tidak punya senjata apalagi jika di tembaknya seolah mobil korban berada di depan krn kaca mobil yang kena kaca depan bukan kaca belakang.Sudut tembakpun janggal karena bekas peluru di dalam mobil mengarah kebawah tepatnya dekat handle kopling.

Ini berarti kaca mobil sengaja di tembak sambil berdiri tepat di depan mobil. Apa mungkin korban berdiri depan mobil polisi ??

Jika di cermati kendaraan polisi yang tertembak,tidak terkesan kendaraan itu di pepet oleh pengawal HRS apalagi berbenturan sebab jika terjadi benturan dengan kecepatan cukup tinggi walau di srempet


tentu akibatnya cukup fatal bahkan bisa hilang kendali.Tetapi yang terlihat di kendaraan polisi tidak parah hanya sedikit penyok itupun posisinya diatas

dekat spion bukan serudukan dari bawah. Inipun jadi memperkuat bahwa tembakan kaca depan mobil polisi tambah janggal seharusnya jika memang ada tembak menembak tentu saja Sopir  polisi bakal di tembak dari sisi kanan ketika di pepet bukanya malah di depan kaca.seharusnya kaca samping sopir yang tertembak.

 

5.Secara umum setiap kejadian kriminal seringkali akan ada prosedur olah TKP dan garis line di lokasi.Namun kenyataanya itu tidak dilakukan polisi. Bahkan setelah membawa korban mereka langsung meninggalkan TKP dan ini pelanggaran prosedur kepolisian.

Olah TKP dimulai dari persiapan ,penanganan TKP, perjalanan ke TKP, Tindakan Pertama di Tempat Kejadian Perkara (TPTKP), Olah TKP yang terdiri dari pengamatan umum, pemotretan,pembuatan sketsa, pengumpulan barang bukti, penanganan korban, saksi, dan pelaku, pengorganisasian olah TKP dan akhir penanganan TKP.dan itu semua tidak di lakukan oleh pihak kepolisian pada saat itu. Tahu tahu dalam jumpa pers telah ada barang bukti berupa pedang dan pistol yang di sangkakan sebagai pemilik dari korban.

 

6.Sebagaimana telah marfum di pahami secara umum bahwa jalan tol adalah jalan bebas hambatan sehingga siapa pun yang melakukan penghadangan di jalan tol adalah sebuah bentuk pelanggaran hukum.

Polisi tidak seharusnya berada di jalan tol dengan beberapa unit kendaraan apalagi merencanakan penyergapan pada rombongan HRS secara khusus seolah  mereka adalah teroris dan bandar narkoba kelas kakap.

Sekali lagi tidak mungkin tidak di rencanakan apalagi sejak sore hari polisi sudah berada di sekitar lokasi TKP dan itu berarti bukan pihak korban yang mencari masalah melainkan polisi yang berupaya menghentikan kendaraan rombongan HRS

7.Jika dicermati dari beberapa keterangan saksi,hasil investigasi Eddy Mulyadi dan uraian Munarman dapat di ambil kesimpulan bahwa  4 orang yang di nyatakan masih Hidup saat di bawa pergi tetapi tidak di bawa ke kantor Polisi untuk di lakukan introgasi,perbal atau pengumpulan keterangan dari mereka.Mereka di bawa polisi di suatu tempat dan di ekskusi mati disitu.Dan ini justru sama dengan upaya pembunuhan terhadap korban yang di lakukan polisi lebih lebih polisi menyalahi prosedur penangkapan korban yang sangkakan polisi.

Penembakan yang di lakukan polisi terhadap korban adalah bentuk pembantaian mengingat banyak luka tembak pada korban dan bekas penganiayaan di lakukan polisi.
Ini sangat bertentangan dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia. Ini jelas bahwa polisi malahan melakukan pembunuhan berencana yang diatur dalam pasal 340 Kitab Undang-undang hukum pidana.Ini juga menjawab bahwa di TKP KM 50  tidak ada tembak menembak yang ada banyak tembakan di suatu tempat ke tubuh korban oleh polisi disertai menganiayaan .

8.Polisi tidak bisa menjelaskan kemana 4 korban yang masih hidup di bawa setelah 2 orang di tembak di TKP KM 50 dan apa saja yang mereka perbuat terhadap laskar FPI pengawal HRS itu.dan ini harus diadakan Investigasi oleh pihak terkait dan tentunya Polisi yang mengekskusi korban harus lebih dahulu di lakukan upaya hukum dan mestinya dilakukan proses penahanan jika memang hukum mesti di tegakkan tanpa pandang bulu mengingat hal ini bukan perkara kriminal biasa.Silahkan Polisi  yang terlibat membawa 4 korban itu menujukkan lokasi  menembak korban yang jelas jelas bukan lagi melumpuhkan tetapi pembantaian jika ingin bicara kebenaran.

9.Menurut Polda metro jaya dari enam orang yang tewas di tembak masih ada 4 lagi laskar FPI pengawal HRS yang melarikan diri. Padahal dalam mobil
Laskar Chevrolet B 2152 TBN hanya berisi 6 orang.apakah mungkin chevrolet itu berisi 10 orang ?? Perlu di ketahui bahwa laskar FPI pengawal HRS itu ada 24 orang dalam 4 mobil. Masing masing Mobil  berisi 6 orang.Selain  6 Laskar Chevrolet B 2152 TBN semuanya pulang dalam keadaan selamat sebab memang berbeda kendaraan. Jadi darimana Polisi mengatakan masih ada 4 orang lagi  melarikan diri sedang penumpang hanya 6 orang  dan semua tewas ??  Ini terkesan Polisi sedang membuat semacam trik alibi pada media sebab tidak sesuai dengan jumlah penumpang dan jumlah rombongan pengawal HRS.

10. polisi sebelumnya menunjukkan dua senjata api sebagai barang bukti. Senjata api itu disebut digunakan oleh laskar khusus untuk menyerang anggota polisi saat melakukan pengintaian terhadap rombongan Rizieq. Bahkan, polisi menyebut laskar khusus pengawal Rizieq sempat melesatkan tembakan tiga kali hingga mengenai mobil anggota.

"Asli ini (senjata api) ada tiga yang sudah ditembakan. Hasil awal kelompok yang menyerang ini diidentifikasi adalah laskar khusus yang selama ini menghalang-halangi penyidikan," kata Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Fadil Imran

Jika berasumsi telah ada 3 peluru yang di tembakan maka dimana laskar FPI itu menembak polisi sedang di TKP hanya terjadi 2 tembakan dan korban tewas  ?

Semua barang bukti yang di tunjukan oleh Polda metro jaya menurut saya seperti sengaja di adakan sebab seperti yang telah di jelaskan oleh Edy mulyadi bahwa tidak ada tembakan apapun di TKP KM 50 selain 2 tembakan saja dan itu di dengar oleh saksi saksi bahkan ada saksi yang sangat dekat dengan pristiwa itu sehingga hal ini menjadi sanggahan bagi polisi yang mengatakan telah terjadi tembak menembak di TKP KM 50. Taroklah misalnya korban membawa pistol dan lebih dahulu menembak,maka tentunya di TKP dengan banyaknya polisi disitu akan jatuh korban dari polisi sehingga akan ada aksi tembak menembak yang ramai dan semua orang yang DIUSIR polisi dari lokasi tentu akan mendengar. Namun kenyataan itu tidak terjadi.Yang ada adalah banyaknya tembakan polisi ketubuh 4 korban dan itu eksekusi mati di tempat lain. Dengan dasar itu tidak mungkin di tempat lain (LOKASI X) 4 korban membawa senjata karna ketika di bawa dari KM 50 mereka dibawa dengan tangan kosong.
jadi pertanyaanya adalah Darimana polisi mengklaim itu senjata dari laskar FPI yang mereka tembak ??

 

11.Sebagaimana hasil analisa pihak FPI dan keluarga korban bahwa korban di tembak cukup banyak lebih dari 1 peluru di masing masing korban.maka akan timbul pertanyaannya dimana polisi menembak mereka begitu  sedang di TKP KM 50 tidak terjadi demikian ?? Bagaimana Polisi menjelaskan mengapa tembakan mereka pada korban hampir semua mengarah ke jantung ?? bukankah itu artinya korban sudah tidak berdaya karena nyaris semua korban mengalami luka tembak yang sama  dan selebihnya di tembak membabi buta ? melihat penjelasan keadaan korban dalam rapat komisi III Dpr jelas polisi menembak jarak dekat dan itu adalah Eksekusi korban bukan lagi dikatakan bahwa polisi membela diri.
Besar dugaan saya bawa sebelum ditembak, para korban yang berjumlah 4 orang itu lebih dahulu di tanya banyak hal dengan paksaan dan siksaan untuk menjawab baru kemudian ditembak sedemikian rupa lebih dari beberapa kali untuk memastikan mereka benar benar telah tewas.Tindakan seperti ini saya rasa bukan lagi tindakan sesuai SOP kepolisian melainkan sudah memenuhi unsur kriminal yang di lakukan polisi sendiri apalagi di lakukan secara rahasia (lokasi X). Bukankah dalam prosedur penangkapan jika masih hidup mestinya di bawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan dan kemudian di tahan ??  mengapa para korban seolah dianggap Teroris kelas kakap padahal ada banyak kasus teroris yang tertangkap tidak serta merta di ekskusi mati tanpa prosedur ??


Terkait Uraian diatas saya yakin para pakar hukum lebih memahami peraturan perundang undangan dan undang undang apa saja yang telah di langgar kepolisian  terkait eksekusi mati korban laskar FPI pengawal HRS yang tujuannya sedang dalam perjalanan  melaksanakan pengajian rutin keluarga bersama anak cucunya bukan sedang melaksanakan kegiatan kriminal,teroris,perampokan,begal apalagi narkoba. Kalaupun misalnya HRS tidak atau belum memenuhi panggilan polisi terkait pelanggaran COVID-19 apakah harus dilakukan upaya pembunuhan sebagai motto TINDAKAN TEGAS polisi  dan di untit kemana saja ia pergi seolah HRS adalah Bandar NARKOBA ??  

Uraian saya di atas adalah sebuah analisa dari seorang yang peduli dengan rasa keadilan.dan siapapun yang merasa dirinya muslim yang baik tentu sangat miris jika hukum di indonesia sudah seperti hukum rimba  atas nama hukum. Sungguh tidak masuk akal jika penegak hukum yang mestinya pelindung rakyat justru menjadi eksekutor yang berlindung atas nama undang undang.Jika penegak hukum melanggar hukum dianggap bukan kesalahan lantas mau jadi apa negara ini kedepan ?
Jika penegak hukum dalam melaksanakan Undang undang justru tidak sebagaimana mestinya dimana yang dianggap berbeda pandangan seperti musuh maka dimana letak keadilan hukum ?? TNI dan POLRI seharusnya berdiri ditengah tidak memihak siapapun dalam penegakkan hukum dan tidak pula pandang bulu jika bersalah sebab Pemerintahan presiden akan selalu berganti kekuasaan sehingga dalam pelaksanaan hukum mestinya sesuai prosedur bukan berdasarkan pesanan.Hukum  itu didasari atas rasa berkemanusiaan dan azaz praduga tak bersalah.Jika seorang penegak hukum bertindak menurut hawa napsunya  secara personal atau atas dasar kepentingan salah satu pihak maka penegak hukum melanggar hukum karena tidak menegakkan keadilan hukum.


Ttd : Von Edison Alouisci
Relawan kemanusiaan 12 Deasember 2020



    

Wednesday, November 18, 2020

KELUARGA RASULULLAH SAW

 



Ayah dan Ibu Rasulullah SAW


Nama ayah baginda ialah : Abdullah ibn Abdul Mutthalib ibn Hasyim ibn
Abd Manaf ibn Qushay ibn Kilab ibn Murrah ibn Ka’ab ibn Lu’ay ibn Ghalib
ibn Fihr ibn Malik ibn al-Nadhr ibn Kinanah ibn Khuzaimah ibn Mudrikah
ibn Ilyas ibn Mudhar ibn Nizar ibn Ma’ad ibn Adnan.

Sedangkan nama ibunya ialah : Aminah bint Wahb ibn Abd Manaf ibn Zuhrah
ibn Kilab. Nasab kedua orangtua baginda bertemu di salah satu kakek
mereka yang bernama Kilab.

Ayah

Nama Ayah beliau adalah Abdullah ibn Abdul Mutthalib ibn Hasyim adalah putra terkecil pasangan Abdul Mutthalib dengan Fatimah bint ‘Amr.
Abdullah merupakan putra Abdul Mutthalib yang terbaik, paling disayang
dan dikenal sebagai sembelihan (al-Dzabih). Dijuluki sebagai sembelihan
adalah karena Abdul Mutthalib bernazar bahwa jika anak laki-lakinya
genap sepuluh maka satu diantaranya akan disembelih. Dan ternyata Allah
memberinya sepuluh anak laki-laki. Maka terjadilah pengundian dan
ternyata anak yang harus disembelih itu jatuh ke Abdullah. Abdul
Mutthalib ingin melaksanakan nazar ini, dia segera mengambil pisau dan
pergi menuju Ka’bah untuk menyembelihnya. Tiba di depan Ka’bah, kaum
Quraisy melarangnya, terutama paman-pamannya. Lantas dia bertanya
bagaimana saya harus melaksanakan nazar saya? Akhirnya disarankan untuk
dibawa ke Arafah, lalu diundi lagi.

Jika diundi yang keluar nama Abdullah, maka Abdul Mutthalib akan
bersedekah dengan 10 ekor onta sebagai ganti anaknya dan begitu
seterusnya, dan jika yang keluar nama onta, maka dia akan berhenti dan
onta sebanyak itu akan disembelih. Sampai sepuluh kali undian, nama yang
keluar adalah Abdullah. Itu berarti sudah 100 onta yang harus dipotong.
Baru pada undian kesebelas, nama yang keluar adalah onta. Walhasil, 100
ekor onta akhirnya dipotong sebagai pengganti jasad atau jiwanya
Abdullah.


Kelebihan Abdullah


Dari sisi keturunan, Abdullah adalah putra Abdul Mutthalib, pemuka
Quraisy dan orang yang paling dihormati di Makkah. Dari sisi akhlak,
Abdullah merupakan orang yang dikenal sebagai pemuda yang berakhlak
mulia. Bahkan, kebiasaan negatif yang banyak dilakukan oleh pemuda
Makkah, beliau tidak ikut melakukannya. Termasuk zina. Bahkan beliau
bertekad untuk tidak pernah melakukan hubungan badan dengan lawan jenis
kecuali dengan istrinya. Di usianya yang ke-25, beliau dinikahkan dengan
Aminah, putri Wahb, seorang pemuka Quraisy. Dengan Aminah inilah
Abdullah pertama kali melakukan hubungan biologis. Dalam beberapa
referensi diceritakan bahwa, kedua pasangan ini baru melakukannya
sekali, setelah itu, Abdullah sudah diperintahkan oleh orang tuanya
pergi ke Syam untuk berdagang.

Wafat

Terdapat beberapa riwayat tentang wafatnya Abdullah. Pertama dan yang paling populer :


  1. Abdullah meninggal dalam perjalanan kembali ke Makkah, dimakamkan di
    Abha. Rasulullah SAW masih dalam kandungan ibunya di bulan keenam.
  2. Riwayat kedua, beliau kembali dari berdagang ke Syam.

    Ada juga riwayat yang mengatakan beliau baru kembali dari Madinah guna memetik kurma untuk dibawa ke Makkah.
  3. Ada juga pendapat yang mengatakan beliau sakit di Madinah, lalu
    belum lagi sembuh benar beliau pulang ke Makkah dan meninggal, itu
    terjadi setelah kelahiran Rasulullah SAW 2 bulan.
  4. Ketika wafat usia Abdullah 25 tahun. Warisan yang ditinggalkan
    Abdullah adalah : 5 ekor onta, beberapa ekor kambing dan seorang budak
    perempuan yang bernama Barakah atau yang lebih dikenal dengan Ummu
    Aiman.

Ibu Kandung


Aminah bint Wahb ibn Abd Manaf ibn Zuhrah ibn Kilab ibn Murrah.

Lahir di Makkah, sekitar 18 tahun sebelum Rasulullah SAW dilahirkan.

Ibunya adalah : Barrah bint Abd al-’Uzza ibn Utsman ibn Abd al-Dar, ibn Qushay ibn Kilab, ibn Murrah.

Wanita dengan nasab terbaik yang ada di Quraisy, mempunyai akhlak yang baik dan menjaga kehormatannya dengan baik.

Wanita yang Rasulullah SAW banggakan dengan sabdanya :


Sesungguhnya aku adalah anak seorang perempuan dari Quraisy yang memakan Qadid (dendeng).

(HR. Ibn Majah)


Allah terus memindahkan aku dari tulang
shulb yang baik, dipindahkan ke rahim yang suci, bersih, terpilih.
Tidaklah ia mempunyai dua cabang kecuali aku masuk dalam yang terbaik.


Pernikahannya dengan Abdullah

Di hari-hari pesta pernikahan, di malam pertama pasangan pengantin ini,
Aminah bermimpi yang ia ceritakan kepada suaminya Abdullah : Aku melihat
cahaya yang memancar dengan lembut sehingga menerangi dunia dan
seisinya. Hingga seolah-olah terlihat olehnya megahnya istana Bushra di
negeri Syam. Lalu ada suara yang membisik : Kamu sudah mengandung
pemimpin umat ini.

Alkisah, Aminah teringat seorang peramal Quraisy yang bernama Sauda’
Bint Zuhrah al-Kilabiyah pernah berkata kepada penduduk Bani Zuhrah
bahwa akan lahir dari turunankalian seorang pengingat atau pemberi
peringatan. Para penduduk kala itu meminta peramal ini untuk menunjukkan
orang yang akan melahirkan dari rahimnya pemberi peringatan tersebut.
Sauda’ sang peramal menunjuk kepada Aminah.

Kejadian serupa menimpa Abdullah yang menjelang malam pertamanya dengan
Aminah, datang kepadanya Putri Naufal ibn Asad, saudara perempuan
Waraqah ibn Naufal sang pendeta, dia menawarkan diri untuk dinikahi atau
disetubuhi pada malam itu juga. Akan tetapi Abdullah yang sudah
berjanji akan menjaga keperjakaannya menolak. Esok harinya, ketika
Abdullah bertemu dengannya lagi, Abdullah bertanya : Mengapa engkau
tidak menawarkan diri kepadaku lagi? wanita itu menjawab : Cahaya yang
menemani kamu kemarin sudah tidak ada lagi hari ini, maka saya tidak
menginginkanmu lagi. 10 hari pasangan suami istri ini menikmati indahnya
rumah tangga, sampai akhirnya Abdullah harus ikut bergabung dengan
rombongan pedagang yang akan berangkat ke Syam.


Menunggu Suami


Sebulan setelah kepergian sang suami, Aminah merasa bahwa ia hamil. Kondisi ini semakin menambah kerinduan kepada suami.

Tiba musim pedagang Makkah kembali dari Syam, Aminah yang ditemani oleh
pembantunya yang bernama Ummu Aiman, duduk menanti sang suami datang.

Ketika tamu datang, yang muncul adalah ayah dan mertuanya, Wahb dan
Abdul Mutthalib. Mereka mengabarkan bahwa Abdullah harus tinggal di
Yatsrib, di rumah seorang kerabat, karena sakit yang diderita.

Selang beberapa hari kemudian, utusan dari Yatsrib datang membawa kabar duka, Abdullah meninggal dunia.

Pengantin baru ini sedih luar biasa, kerinduan akan suami sangat terasa.
Namun takdir tidak bisa ditolak, ajal tidak bisa ditunda. Kematian
akhirnya akan datang kepada siapa saja.

Melahirkan Anak Pertama

Sembilan bulan janin dikandung, tiba harinya, lahirlah bayi yang
dinantikan itu. Detik-detik sebelum kelahiran bayi ini, Aminah
menyaksikan cahaya menyinari rumahnya. Bidan yang menangani prosesi
kelahiran ini adalah al-Syifa’, ibu dari Abdurrahman ibn ‘Auf. Dia
bercerita bahwa yang dia lihat pertama kali adalah cahaya yang begitu
terang benderang. Tidak ada kesulitan sama sekali dalam proses
persalinan ini. Ditemani oleh Ummu Aiman, sang pembantu, al-Syifa’
dengan mudah melaksanakan tugasnya sebagai seorang bidan. Kegembiraan
pun menyelimuti Aminah, bayi yang ditunggu-tunggunya sudah lahir dengan
selamat, bahkan penuh dengan keajaiban.

Belum lagi kegembiraan itu sempurna, kesedihan harus datang lagi, sang
anak tidak mau disusui. Hari pertama ditolak, hari kedua demikian pula.
Ibu muda ini pun bingung, 2 hari bayi ini tidak makan apa-apa, bagaimana
jika dia sakit lalu meninggal. Kesedihan dan kekhawatiran seorang ibu
pun mulai menyelimuti dirinya. Ketika keadaannya seperti itu, datanglah
Tsuwaybah, budak atau pembantu Abu Lahab, paman si bayi, menawarkan
untuk menyusuinya. Dan aneh, bayi ini mau disusui oleh Tsuwaybah.
Alhasil, Tsuwaybah menjadi ibu susu bayi ini untuk beberapa hari.

Pendidikan Awal Untuk Sang Putra

Bayi yang baru dilahirkannya, diambil oleh sang kakek, Abdul Mutthalib,
dibawa ke Ka’bah, di sanalah ia dinamakan dengan Muhammad. Tidak lama
kemudian, sekitar 8 hari, sebagaimana adat orang Makkah pada waktu itu,
mereka menitipkan anak-anaknya kepada ibu-ibu susu. Muhammad pun
dititipkan kepada Halimah al-Sa’diyah untuk disusui dan dididik di
kampungnya, daerah Bani Sa’ad (sekitar 25 km dari Makkah). Dua tahun
Muhammad dititipkan di Bani Sa’ad, baru kemudian dikembalikan ke
pangkuan ibu kandungnya. Akan tetapi dengan bujuk rayu Halimah dan
suaminya al-Harits, Muhammad kembali dititipkan kepadanya. Selang
beberapa bulan kemudian, Muhammad dikembalikan lagi kepada ibu
kandungnya di Makkah, dan mulai saat itu, Muhammad berada di bawah belai
kasih dan didikan Aminah serta bantuan Ummu Aiman sang pembantu. Dengan
penuh kasih sayang dan perhatian, Aminah membesarkan putra tunggalnya
Muhammad, hari demi hari, bulan demi bulan.


Wafat


Tiga tahun Aminah mendidik anak tunggalnya dengan suka dan duka.
Kelucuan, keceriaan dan ketangkasan Muhammad, mampu untuk menggembirakan
hatinya. Namun, kerinduan akan mendiang suami tidak juga bisa
terlupakan. Ia memutuskan untuk menziarahi makam sang suami sambil
menziarahi kerabat yang ada di kota Yatsrib. Dengan mengajak serta anak
dan pembantunya Ummu Aiman, Aminah mengikut kafilah dagang, berangkat ke
Yatsrib. Dalam riwayat, ikut pula mertua beliau Abdul Mutthalib. Ajal
tidak dapat ditolak, malaikat maut tidak pernah kompromi, kematian akan
datang kepada setiap manusia pada saat yang sudah ditentukan. Di tengah
perjalanan pulang kembali ke Makkah, tepatnya di kampung Abwa, 210 km
dari Madinah arah Makkah, Aminah meninggal dunia dan dimakamkan di sana.
Usia beliau kala itu sekitar 24 tahun.

Lengkap sudah, Muhammad menjadi yatim piatu. Mulai hari itu, anak kecil
ini tidak lagi akan mendengar canda ibu, setelah dia tidak pernah
melihat kharisma wajah sang ayah. Muhammad kembali ke Makkah bersama
Ummu Aiman, kakeknya Abdul Mutthalib dan rombongan kafilah dagang.


Ibu susu


Menjadi adat dan kebiasaan orang Arab kala itu, khususnya kaum Quraisy,
untuk menyusukan anak-anak mereka kepada orang lain yang memang
berprofesi sebagai ibu susu. Biasanya mereka datang dari kampung. Dan
kampung tukang menyusui adalah kampung Bani Sa’ad, daerah Hudaybiah,
sekitar 23-25 km dari Masjid al-Haram. Ibu susu Rasulullah SAW dalam
riwayat 4 orang. Dua diantaranya dapat dipastikan, sedangkan dua lainnya
masih diperselisihkan. Mereka adalah :

 1. Tsuwaybah

Tsuwaybah, Ibu Susu Rasulullah SAW yang pertama. Beliau menyusukan
Rasulullah SAW beberapa hari saja, antara 5-10 hari. Tsuwaybah adalah
budaknya Abu Lahab yang kemudian dimerdekakan. Tak lama kemudian, beliau
menyusui Rasulullah SAW ketika mengunjungi rumah Aminah dan didapati
bahwa Muhammad yang masih bayi, tidak mau disusui ibunya. Dia pun
akhirnya mencoba untuk menyusuinya, dan luar biasa, bayi ini pun mau.
Sejak hari itu, sampai kedatangan Halimah al-Sa’diyah, Muhammad SAW
disusui oleh Tsuwaybah. Cerita bahwa Tsuwaybah termasuk ibu susunya
dapat dilihat dalam riwayat berikut :

Ummu Habibah bint Abu Sofyan ra. berkata : Saat Rasulullah SAW
menemuiku, aku berkata kepada beliau : “Wahai Rasulullah, apakah engkau
berminat terhadap saudara perempuanku, yaitu putri Abu Sofyan?”

Rasulullah SAW balik bertanya : “Maksudmu, apa yang harus aku lakukan?”
Aku menjawab : “Engkau menikahinya.” Rasulullah SAW bertanya : “Apakah
kamu menyukai hal itu?” Aku menjawab : “Aku bukanlah istrimu
satu-satunya dan orang yang paling aku senangi untuk sama-sama berbagi
kebajikan ini adalah saudaraku.” Rasulullah bersabda :


“Saudara perempuanmu itu tidak halal
bagiku.” Lalu aku katakan lagi kepada beliau : “Aku dengar engkau
melamar Durrah bint Abu Salamah?” Beliau berkata : “Putri Ummu Salamah?”
Aku menjawab : “Ya.”

Beliau bersabda :

Kalau ia bukan anak tiri yang berada dalam asuhanku, maka ia tidak halal
bagiku karena ia adalah anak perempuan saudaraku sepersusuan, sebab aku
dan bapaknya telah disusui oleh Tsuwaybah. Maka janganlah kamu
menawarkan kepadaku putri-putrimu ataupun saudara-saudara perempuanmu.
(HR. al-Bukhari dan Muslim)


2. Seorang ibu dari Bani Sa’ad selain Halimah


3. Halimah sl-Sa’diyah


Dikisahkan, entah kenapa, di hari pertama usia Muhammad, ibunya
Aminah hendak menyusui anak tunggalnya ini, namun anak ini enggan untuk
membuka mulutnya. Aminah yang sedih dengan kematian suaminya, semakin
sedih ketika putranya tetap tidak ingin menyusu dari ibunya sendiri di
hari kedua. Di hari ketiga, datanglah Tsuwaybah, pembantu Abu Lahab, dia
menawarkan diri untuk menyusui keponakan majikannya ini, ternyata bayi
ini mau dan mulai menyusu. Si ibu gembira luar biasa, Tsuwaybah dulu
juga pernah menyusui Hamzah ibn Abdul Mutthalib. Pada hari ke delapan
usia Muhammad, datanglah 10 orang wanita dari Bani Sa’ad ibn Bakr untuk
mencari anak-anak susu. Satu dari mereka adalah Halimah yang datang
bersama suaminya al-Harits dan putranya yang kecil, Abdullah ibn
al-Harits.

Cerita Halimah

Bagaimana Halimah bisa menjadi ibu susu Rasulullah SAW, kisahnya
diceritakan sendiri oleh beliau yang ringkasnya sebagai berikut :

Suatu kali dia pergi dari negerinya bersama suami dan anaknya yang masih
kecil dan disusuinya, bersama beberapa wanita dari Bani Sa’ad. Tujuan
mereka adalah mencari anak yang bisa disusui. Dia berkata, “Itu terjadi
pada masa paceklik, tak banyak kekayaan kami yang tersisa. Aku pergi
sambil naik keledai betina berwarna putih milik kami dan seekor onta
yang sudah tua yang tidak bisa diambil air susunya lagi walau setetes
pun. Sepanjang malam kami tidak pernah tidur karena harus meninabobokan
bayi kami yang terus-menerus menangis karena kelaparan. Air susuku juga
tidak bisa diharapkan. Sekalipun kami masih tetap mengharapkan adanya
uluran tangan dan jalan keluar.

Aku pun pergi sambil menunggang keledai betina kami dan hampir tak
pernah turun dari punggungnya, sehingga keledai itu pun semakin lemah
kondisinya. Akhirnya kami serombongan tiba di Makkah dan kami langsung
mencari bayi-bayi yang bisa kami susui. Setiap wanita dari rombongan
kami yang ditawari Rasulullah SAW pasti menolaknya, setelah tahu bahwa
beliau adalah anak yatim. Tidak mengherankan, sebab memang kami
mengharapkan imbalan yang cukup memadai dari bapak bayi yang hendak kami
susui. Kami semua berkata, “Dia adalah anak yatim.” Tidak ada pilihan
bagi ibu dan kakek beliau, karena kami tidak menyukai keadaan seperti
itu. Setiap wanita dari rombongan kami sudah mendapatkan bayi yang
disusuinya, kecuali aku sendiri.

Tatkala kami sudah siap-siap untuk kembali, aku berkata kepada suamiku,
“Demi Allah, aku tidak ingin kembali bersama teman-temanku tanpa membawa
seorang bayi yang aku susui. Demi Allah, aku benar-benar akan
mendatangi anak yatim itu dan membawanya.” Suaminya berkata, “Memang ada
baiknya jika engkau melakukan itu, semoga saja Allah mendatangkan
barakah bagi kita pada diri anak itu.” Halimah melanjutkan penuturannya,
“Maka aku pun menemui bayi itu (beliau) dan aku siap membawanya.
Tatkala menggendongnya seakan-akan aku tidak merasa repot karena
mendapat beban yang lain. Aku segera kembali menghampiri hewan
tungganganku, dan tatkala aku mencoba menyusui, bayi itu mau menyusu
sesukanya hingga kenyang.

Anak kandungku sendiri juga bisa menyusu sepuasnya hingga kenyang,
setelah itu keduanya tertidur pulas. Padahal sebelum itu kami hampir
tidak pernah tidur karena mengurus bayi kami. Suamiku mengahampiri
ontanya yang sudah tua. Ternyata air susunya menjadi penuh. Maka kami
memerahnya. Suamiku bisa minum air susu onta kami, begitu pula aku,
hingga kami benar-benar kenyang. Malam itu adalah malam yang terasa
paling indah bagi kami. “Demi Allah, tahukah engkau wahai Halimah,
engkau telah mengambil satu jiwa yang penuh barakah,” kata suamiku pada
esok harinya. “Demi Allah, aku pun berharap yang demikian itu,” kataku.
Halimah melanjutkan penuturannya, “Kemudian kami pun siap-siap pergi dan
aku menunggang keledaiku. Semua bawaan kami, juga kunaikkan bersamaku
di atas punggungnya.

Demi Allah, setelah kami menempuh perjalanan sekian jauh, tentulah
keledai-keledai mereka (rombongan Bani Sa’ad) tidak akan mampu membawa
beban seperti yang aku bebankan di atas punggung keledaiku. Sehingga
rekan-rekanku berkata kepadaku, “Wahai putri Dzu’aib, celaka engkau!
Tunggulah kami! Bukankah keledaimu yang pernah engkau bawa bersama kita
dulu?” “Demi Allah, begitulah. Ini adalah keledai yang dulu.” Kataku.
“Demi Allah, keledaimu itu kini bertambah perkasa.” Kata mereka. Kami
pun tiba di tempat tinggal kami di daerah Bani Sa’ad, aku tidak pernah
melihat sepetak tanah pun milik kami yang lebih subur saat itu.
Domba-domba kami menyongsong kedatangan kami dalam keadaan kenyang dan
air susunya penuh berisi, sehingga kami bisa memerahnya dan meminumnya.

Sementara setiap orang yang memerah air susu hewannya sama sekali tidak
mengeluarkan air susu walau setetes pun dan kelenjar susunya juga
kering. Sehingga mereka berkata garang kepada para penggembalanya,
“Celakalah kalian! Lepaskanlah hewan gembalaan kalian, di tempat
gembalaannya putri Abu Dzu’aib.” Namun domba-domba mereka pulang tetap
dalam keadaan lapar dan tak setetes pun mengeluarkan air susu. Sementara
domba-dombaku pulang dalam keadaan kenyang dan kelenjar susunya penuh
berisi. Kami senantiasa mendapatkan tambahan barakah dan kebaikan dari
Allah selama dua tahun menyusui anak ini. Lalu kami menyapihnya. Dia
tumbuh dengan baik, tidak seperti bayi-bayi yang lain. Bahkan sebelum
usia dua tahun pun dia sudah tumbuh pesat.

Kemudian kami membawanya kepada ibunya, meskipun masih berharap agar
anak itu tetap berada di tengah-tengah kami, karena kami bisa merasakan
barakahnya. Maka kami menyampaikan niat ini kepada ibunya. Aku berkata
kepadanya, “Andaikan saja engkau sudi membiarkan anak kami ini tetap
bersama kami hingga menjadi besar. Sebab aku khawatir dia terserang
penyakit yang biasa menjalar di Makkah.” Kami terus merayu ibunya agar
dia merelakan anak itu tinggal bersama kami. Begitulah Rasulullah SAW
tinggal di tengah Bani Sa’ad, hingga tatkala berumur empat atau lima
tahun, terjadi peristiwa pembelahan dada beliau.

Imam Muslim meriwayatkan dari Anas yang bercerita, bahwa :

Rasulullah SAW didatangi Jibril, yang saat itu beliau sedang
bermain-main dengan beberapa anak kecil lainnya. Jibril memegang beliau
dan menelentangkannya, lalu membelah dada dan mengeluarkan hati beliau
dan mengeluarkan segumpal darah dari dada beliau, seraya berkata, “Ini
adalah bagian setan yang ada pada dirimu.” Lalu Jibril mencucinya di
sebuah bejana dari emas, dengan menggunakan air Zamzam, kemudian menata
dan memasukkannya ke tempatnya semula. Anak-anak kecil lainnya berlarian
mencari ibu susunya dan berkata, “Muhammad telah dibunuh!” Mereka pun
menemui beliau yang datang dengan wajah pucat. (HR. Muslim)

Peta Letak Bani Sa’ad

 

 
              peta bani saad

 

Tempat Pengembalaan Onta di Hudaibiyah
          peta bani saad 2

Penghormatan Rasulullah SAW

Satu potret penghormatan Rasulullah SAW terhadap ibu susunya terlihat di
Ji’ranah sebagaimana yang diceritakan oleh ‘Amir ibn Watsilah al-Kinani
yang berkata :

Aku melihat Rasulullah SAW membagi-bagikan daging di Ji’ranah, kala itu
usiaku masih kecil, aku membawa tulang-tulang onta, tiba-tiba datang
seorang perempuan mendekati Nabi SAW, kemudian baginda menghamparkan
sorbannya, dan perempuan itu duduk di atasnya. Akupun bertanya :
Siapakah perempuan ini ? Beberapa orang sahabat menjawab : Dia adalah
ibu yang menyusuinya dulu. (HR. Abu Dawud)

Penghormatan Khadijah

Ketika Rasulullah SAW menikah dengan Khadijah, Halimah al-Sa’diyah
datang ke Makkah mengucapkan selamat, karena anak susunya telah menikah.
Sebagai penghormatan dan tanda terima kasih, Khadijah yang dikenal kaya
dan dermawan memberikan hadiah kepada ibu susu suami yang dicintai dan
dikaguminya. Khadijah memberikan hadiah 40 ekor kambing.

4. Khaulah bint al-Mundzir

Dari keempat nama tadi, yang tidak diperselisihkan para sejarawan Islam adalah Tsuwaybah dan Halimah.

Ibu Asuh

Ummu Aiman Ibu Asuh Rasulullah SAW

Ibu Asuh Rasulullah SAW adalah Ummu Aiman, nama sebenarnya adalah
Barakah bint Tsa’labah ibn ‘Amr ibn Hishn ibn Malik ibn Salamah ibn
al-Nu’man al-Habasyiyah. Berasal dari Habasyah. Dia adalah
mawali/budak/pembantu Abdullah ibn Abdul Mutthalib, ayah Rasulullah SAW.
Menikah dengan ‘Ubayd ibn al-Harits al-Khazraji setelah Rasulullah SAW
memerdekakannya. Dari perkawinan ini lahir Aiman. Dikatakan sebagai ibu
asuh karena setelah kepergian Aminah bint Wahb, ibu kandung Rasulullah
SAW ketika baginda masih berusia 6 tahun, Ummu Aiman lah yang menjaga
dan mengasuhnya serta membantu keperluan seorang anak dari mulai makan,
minum, pakaian dan lain sebagainya. Rasulullah SAW sering memanggilnya
dengan sapaan Ummah (ibu). Bahkan Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda
: Ummu Aiman adalah ibuku setelah ibundaku.

Perjuangan Ummu Aiman

Ummu Aiman adalah termasuk orang-orang yang pertama masuk Islam, paling
tidak, untuk wanita, beliau masuk setelah Khadijah atau setelah
putri-putri Rasulullah SAW atau masuk dalam kategori sepuluh wanita
pertama masuk Islam. Semasa di Makkah, karena termasuk orang biasa,
beliau mendapat perlakuan kasar dan buruk dari pemuka Quraisy. Ketika
hijrah diizinkan, beliau termasuk orang yang ikut hijrah ke Habasyah.
Kemudian beliau termasuk orang yang kembali ke Makkah bersama rombongan.
Ketika hijrah ke Madinah, beliau termasuk yang berhijrah, bahkan dengan
berjalan kaki dan dalam kondisi puasa. Meski tidak sendiri dan tetap
bersama rombongan, beliau tidak menunggang onta apalagi kuda. Jarak 430
km ditempuh dengan berjalan kaki.

Sampai akhirnya, karomah Allah SWT diberikan untuknya. Siang yang panas
tetap dilaluinya dengan kesabaran dan ketabahan. Ketika datang waktu
berbuka, Ummu Aiman tidak mendapatkan air untuk diminum. Tiba-tiba
muncul gumpalan awan yang membentuk seperti ember putih, beliau
mengambilnya dan meminum darinya. Setelah minum sampai hilang dahaganya,
beliau melanjutkan perjalanannya ke Madinah tanpa pernah merasakan haus
kembali. Bahkan sampai akhir hayatnya. Bahkan, beliau bercerita bahwa
suatu ketika beliau sengaja tawaf di siang hari di panas yang terik
dengan harapan akan merasa haus, tapi ternyata beliau tidak juga merasa
haus.

Cerita Lucu

Ummu Aiman ra. bercerita : Suatu ketika Rasulullah SAW menginap di
rumah. Ketika malam beliau bangun dan buang air di bejana. Tak lama
kemudian saya terbangun dan mencari minum karena kehausan, saya
mendapatkan air di bejana, dan saya langsung meminumnya. Esok paginya,
Rasulullah SAW berkata kepadaku :

“Wahai Ummu Aiman, tolong buangkan air yang ada di bejana.”

Saya pun menjawab : “Wahai Rasulullah SAW, demi Dzat yang telah
mengutusmu dengan haq, saya sudah minum air yang ada di dalamnya.”
Rasulullah SAW tertawa sampai terlihat giginya lalu bersabda :

“Sungguh perutmu tidak akan sakit lagi setelah ini.”

Keluarga

Setelah dimerdekakan oleh Rasulullah SAW, Barakah (nama asli Ummu Aiman)
menikah dengan ‘Ubayd ibn al-Harits al-Khazraji. Dari pernikahan ini,
mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Aiman. Karena
itulah beliau dipanggil dengan nama Ummu Aiman. Aiman sendiri tumbuh
menjadi pemuda yang gagah, berjuang bersama Rasulullah SAW sampai
akhirnya syahid di perang Hunain. Ketika Ummu Aiman menjanda, masih lagi
di Makkah sebelum hijrah. Rasulullah SAW berkata kepada para sahabatnya
: Barang siapa yang ingin menikahi perempuan ahli surga, maka hendaklah
dia menikahi Ummu Aiman. Mendengar tawaran dan berita baik, Zayd ibn
Haritsah langsung menyatakan minatnya dan melamarnya. Dari perkawinan
ini, lahir Usamah ibn Zayd, orang yang dicintai Rasulullah SAW dan anak
orang yang dicintai Rasulullah SAW.

Wafat

Ketika Rasulullah SAW meninggal, Abu Bakar mengajak Umar untuk menjenguk
Ummu Aiman dengan harapan semoga dapat meringankan kesedihannya.
Setelah berjumpa, Ummu Aiman menangis. Abu Bakar berkata : Kenapa kamu
menangis, apa yang disiapkan Allah lebih baik untuk Rasulullah SAW. Ummu
Aiman menjawab : Aku bukan tidak tahu hal itu, tetapi aku sedih karena
wahyu sudah terputus dari langit. Terdapat beberapa riwayat tentang
tahun wafatnya, ada yang mengatakan 5 bulan setelah wafatnya Rasulullah
SAW, ada juga yang mengatakan 6 bulan kemudian. Dalam kitab Nisa’ Hawl
al-Rasul SAW, dipilih pendapat yang mengatakan bahwa beliau meninggal 20
hari setelah terbunuhnya Umar, atau tahun 23 H.

Ibu Angkat

Fatimah bint Asad Ibu Angkat Rasulullah SAW

Dia adalah Fatimah bint Asad ibn Hasyim ibn Abd Manaf. Beliau adalah
istri dari Abu Thalib, paman Rasulullah SAW. Beliau juga merupakan ibu
dari sepupu Rasulullah SAW dari Abu Thalib : Ali, Thalib, ‘Aqil, Ja’far,
Ummu Hani, Jumanah dan Raythah. Beliau lah yang mengasuh secara
langsung Rasulullah SAW selama beliau ada di rumah Abu Thalib bersama
Ummu Aiman sebagai pembantu mereka. Fatimah bint Asad baru masuk Islam
setelah suaminya Abu Thalib meninggal. Beliau berbai’at dengan
Rasulullah SAW dan menjadi muslimah yang baik. Beliau ikut berhijrah ke
Madinah, dan setelah itu ikut berperan dan membantu Rasulullah SAW dalam
perjuangannya dan peperangannya. Selain itu, beliau juga berperan besar
dalam mendidik dan membesarkan putra putrinya yang kesemuanya merupakan
orang-orang yang sangat berperan dalam perjuangan Rasulullah SAW.

Riwayat

Dari Ibn Abbas : “Ketika Fatimah bint Asad ibn Hasyim, ibunda Ali ibn
Abi Thalib meninggal, Rasulullah SAW membuka bajunya dan mengkafani
Fatimah bint Asad ibn Hasyim, dan Rasulullah SAW berbaring di liang
lahatnya, sesudah pemakaman selesai, para sahabat bertanya, Wahai
Rasulullah, Engkau melakukan sesuatu yang tidak pernah engkau lakukan
pada orang lain. Beliau menjawab : Aku memakaikannya bajuku supaya
beliau memakai pakaian Ahli Surga, dan aku berbaring di liang lahatnya
dengan harapan dapat meringankan himpitan kuburnya, beliau termasuk
orang yang sangat berjasa kepadaku sesudah Abu Thalib”. Di riwayat yang
lain Rasulullah SAW mendoakannya sesudah berbaring di liang lahadnya,
“Allah yang menghidupkan dan mematikan, Dia-lah yang Maha Hidup dan
tidak akan mati, ampunilah Ibuku dan berilah Hujjah baginya,
lapangkanlah kuburnya, demi Nabi-Mu dan nabi-nabi sebelumku.
Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Wafat

Beliau meninggal di Madinah. Ketika meninggal, Rasulullah SAW yang
mengkafankannya, bahkan dengan menggunakan bajunya. Beliau juga yang
ikut turun ke dalam liang lahat bahkan sempat tiduran di sisinya.
Setelah keluar dari liang lahat, Rasulullah SAW terlihat menangis.
Melihat hal yang diluar kebiasaan itu, Umar bertanya : Wahai Rasulullah,
kenapa kamu melakukan sesuatu yang tidak pernah engkau lakukan terhadap
orang lain ? Rasulullah SAW menjawab : “Wahai Umar, perempuan ini di
mataku adalah seperti ibu yang melahirkanku. Ketika Abu Thalib mencari
nafkah, beliaulah yang menyiapkan makanan dan aku makan bersama mereka”.
Ketika para sahabat bertanya hal yang sama, Rasulullah SAW menjawab :
“Sesungguhnya, tidak ada orang yang berbuat lebih baik kepadaku setelah
Abu Thalib dari dia. Aku pakaikan bajuku dengan harapan dia dipakaikan
baju dari surga, aku tiduran di liang lahatnya dengan harapan dia
diringankan dari azab kubur.”

Peta makam
                      peta makam ayah dan ibu rasulullah

Kakek dan Nenek Rasulullah SAW

Kakek Rasulullah SAW dari Ayah adalah : Abdul Mutthalib, nama aslinya adalah Syaibatul
Hamd ibn Hasyim (namanya ‘Amr) ibn Abd Manaf (namanya al-Mughirah) ibn
Qushay (namanya Zayd) ibn Kilab ibn Murrah ibn Ka’ab ibn Lu’ay ibn
Ghalib ibn Fihr ibn Malik ibn al-Nadhr ibn Kinanah ibn Khuzaimah ibn
Mudrikah (namanya ‘Amr) ibn Ilyas ibn Mudhar ibn Nizar ibn Ma’ad ibn
Adnan.


Nenek Rasulullah SAW dari Ayah adalah :

1. Nutaila bint Janab

2. Halah bint Wuhaib

3. Fatimah bint ‘Amr

4. Samra’ bint Jundub

5. Lubna bint Hajar

6. Mumanna’a bint ‘Amr

Kakek Rasulullah SAW dari Ibu adalah : Wahb ibn Abd Manaf ibn Zuhrah ibn Kilab ibn Murrah ibn Ka’ab ibn Luay ibn Ghalib ibn Fihr ibn Malik ibn al-Nadhr.

Nenek Rasulullah SAW dari Ibu adalah : Barrah bint Abd al-‘Uzza
ibn Utsman ibn Abd al-Dar ibn Qushay ibn Kilab ibn Murrah ibn Ka’ab ibn
Lu’ay ibn Ghalib ibn Fihr ibn Malik ibn al-Nadhr.


Paman dan Bibi Rasulullah SAW

1. Al-Abbas

Beliau lebih tua 3 tahun dari Nabi Muhammad SAW, termasuk orang
terkemuka kaum Quraisy, bijaksana, memiliki kharisma. Beliau mengumumkan
keislamannya pada tahun penaklukkan Makkah. Beliau wafat di Madinah dan
dishalatkan oleh Khalifah Utsman ibn Affan.

2. Hamzah

Singa Allah dan Singa Rasul-Nya dari kaum Muhajirin, ikut dalam perang
Badar, beliau lebih tua 4 tahun dari Rasulullah SAW, dan mati Syahid di
perang Uhud, dibunuh oleh Wahsyi

3. Abu Thalib

Nama aslinya adalah Abd Manaf. Dia yang mengasuh Rasulullah SAW setelah
kakeknya Abdul Mutthalib wafat. Dia melindungi Rasulullah SAW dari
kejahatan kaum Quraisy. Abu Thalib wafat tahun 9 kenabian.

4. Al-Zubayr

Adalah anak dari Fatimah, seibu dengan Abdullah (paman kandung Rasulullah SAW).

5. Al-Harits

Adalah putra pertama Abdul Mutthalib, maka dia dipanggil Abu al-Harits.
Al-Harits ikut serta dengan ayahnya menggali ulang sumur Zamzam.

6. Hajl

Namanya adalah al-Mughirah anak dari Halah bint Wuhaib.

7. Al-Muqawwim

Beliau adalah anak dari Halah bint Wuhaib.

8. Dhirar

Adalah putra Quraisy yang terkenal dengan ketampanan dan
kedermawanannya. Meninggal di zaman awal kenabian Rasulullah SAW, dan
tidak mempunyai keturunan. Anak dari Nutailah bint Janab.

9. Abu Lahab

Namanya adalah Abdul Uzza, nama panggilannya Abu ‘Utbah, dipanggil oleh
Abdul Mutthalib “Abu Lahab” karena dia tampan. Terkenal dengan
kedermawanannya. Ibunya adalah Lubna bint Hajar. Nabi SAW sudah berusaha
mengajaknya masuk Islam, namun selalu ditolak. Bahkan, Abu Lahab dan
istrinya yang bernama Ummu Jamil bint Harb begitu memusuhi Nabi SAW
sehingga turunlah ayat yang secara tegas melaknat apa yang dilakukannya.
Abu Lahab tewas pada perang Badr tahun 2 H. Sedikit cerita tentang Abu
Lahab termuat dalam surat al-Lahab ayat 1-5 : 1. Binasalah kedua tangan
abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. 2. Tidaklah berfaedah
baginya harta bendanya dan apa yang dia usahakan. 3. Kelak dia akan
masuk ke dalam api yang bergejolak. 4. Dan (begitu pula) istrinya,
pembawa kayu bakar. 5. Yang di lehernya ada tali dari sabut.

10. Qutsam

Ibunya adalah Nutailah bint Janab. Tidak mempunyai keturunan.

11. Mush’ab

Ibunya adalah Mumanna’ah bint ‘Amr. Gelarnya al-Ghaidaq. Diberi gelar
al-Ghaidaq karena dia termasuk orang Quraisy yang dermawan dan kaya
raya. Saudara seibunya adalah ‘Auf ibn Abd ‘Auf, yang merupakan ayah
dari Abdurrahman ibn ‘Auf.

Bibi Rasulullah SAW :

1. Sofiyyah

Sofiyyah ra. masih sempat melihat hari-hari terakhir Rasulullah SAW,
keponakan yang sudah dikenalnya dengan baik sejak kecil. Beliau wafat di
zaman Khalifah Umar ibn al-Khatthab, tahun 20 H dalam usia 70 an
(73-79) tahun. Jenazahnya dimakamkan di Baqi’, Madinah al-Munawwarah.

2. Ummu Hakim al-Baydha’

Beliau menikah dengan Kurayz ibn Rabi’ah pada masa Jahiliyah dan
dikaruniai 4 orang anak, yaitu : ‘Amir, Arwa, Thalhah, dan Ummi Thalhah.
Arwa menikah dengan ‘Affan ibn Abi al-‘Ash dan dikaruniai seorang putra
bernama Utsman ibn ‘Affan. Al-Baydha’ dinikahi oleh ‘Uqbah ibn Abi
Mu’ayth dan dikaruniai al-Walid, Khalid dan Ummu Kultsum.

3. ‘Atikah

‘Atikah bint Abdul Mutthalib, salah seorang bibi Rasulullah SAW. Menikah
di zaman jahiliyah dengan Abi Umayyah ibn al-Mughirah (ayah dari Ummu
Salamah, istri Rasulullah SAW). Dari pernikahan ini beliau dikaruniai
beberapa anak, antara lain Abdullah dan Zuhayr. Abdullah tidak masuk
Islam. Zuhayr masuk Islam, bahkan termasuk orang yang berusaha merobek
lembar blokade (surat perjanjian) yang di gantung di Ka’bah. Masuk Islam
masih di Makkah, namun baru sempat hijrah setelah perang Badr. Bahkan
Atikah ra. sempat bermimpi tentang kekalahan Quraisy di perang Badr
sebelum kejadian itu terjadi. Sayang, setelah beliau tiba di Madinah
setelah perang Badr, catatan tentang sejarah hidup beliau tidak termuat
lagi dalam kitab sirah, termasuk tahun wafatnya.

4. Umaimah

Menikah di masa Jahiliyah dengan Jahsy ibn Riyab dan dikaruniai 4 orang
anak, yaitu : Abdullah (yang menyaksikan perang Badr), Ubaidillah dan
Abd atau Abu Ahmad, Zainab bint Jahsy yang kemudian menjadi istri
Rasululah SAW, dan Hamnah bint Jahsy.

5. Arwa

Arwa bint Abdul Mutthalib ibn Hasyim. Salah seorang bibi Rasulullah SAW.
Menikah di zaman jahiliyah dengan Umayir ibn Wahab ibn Abd Manaf.
Dikaruniai anak laki-laki bernama Thulaib. Setelah suaminya meninggal,
beliau menikah lagi dengan Artha’ah ibn Syarhabil ibn Hasyim. Dari suami
keduanya ini beliau dikaruniai seorang putri bernama Fatimah. Masuk
Islam sejak awal lagi, namun putranya sudah terlebih dahulu masuk Islam.
Bahkan, karena kondisi yang sulit, konon pernyataan syahadatain beliau
disampaikan ke Rasulullah SAW melalui lisan putranya. Karena itu,
konsekuensinya Arwa dan putranya harus mengalami pelbagai macam
intimidasi dan penyiksaan. Dan itu dilaluinya dengan penuh ketabahan dan
kesabaran. Sayang, perjalanan hidup beliau seteleh priode Makkah tidak
ditemukan dalam kebanyakan kitab sirah. Meski tidak dapat dipastikan,
ada pendapat bahwa beliau meninggal tahun 15 H.

6. Barrah

Dinikahi pada masa jahiliyah oleh Abdul Asad ibn Hilal dan dikaruniai
Abu Salamah yang menyaksikan Perang Badr. Abu Salamah menikahi Ummu
Salamah bint Abu Umayah, dan setelah Abu Salamah meninggal beliau
dinikahi oleh Rasulullah SAW. Sesudah Abdul Asad, Barrah dinikahi oleh
Abu Rahm ibn Abd al-Uzza dan dikaruniai Abu Sabrah ibn Abu Rahm yang
juga menyaksikan perang Badr.

Penjelasan

Putra-putri Abdul Mutthalib 18, 12 laki-laki dan 6 perempuan. Dari istri
pertama : Fatimah bint Amr al-Makhzumiah dikaruniai 3 putra : Abdullah,
Abu Thalib dan al-Zubyr. Dari istri kedua : Nutailah al-Umariyyah,
anaknya : al-Abbas, Dhirar dan Qutsam. Dari istri ketiga : Halah bint
Wuhaib, anaknya : Hamzah, al-Muqawwim dan Hajl. Dari istri keempat :
Lubna al-Khuza’iyah dikaruniai 1 putra : Abu Lahab yang nama sebenarnya
adalah Abd al-Uzza. Dari istri kelima Shofiyyah, anaknya al-Harits
adalah anak sulung dari Abdul Muthalib. Dari istri keenam Mumanna’ah,
anaknya al-Ghaiydaq yang nama sebenarnya Mush’ab. Sedangkan Abdullah,
ayah Rasulullah SAW merupakan putra terkecil (bungsu).

Istri-istri Rasulullah SAW

Istri Rasulullah SAW 11 orang, mereka adalah:

1. Khadijah bint Khuwailid

Biografi Singkat

Khadijah bint Khuwailid, wanita pemuka kota Makkah yang dihormati dan
disegani. Dikenal sebagai saudagar yang sukses. Lahir dari keluarga yang
terhormat, ayahnya bernama Khuwailid ibn Asad ibn Abd al-Uzza ibn
Qushay ibn Kilab ibn Murrah ibn Ka’ab ibn Lu’ay. Ibunya bernama Fatimah
bint Za’idah ibn al-Asham ibn Haram ibn Rawahah. Dari silsilah ayahnya,
pada kakeknya yang bernama Qushay nasabnya bertemu dengan nasab nabi
Muhammad SAW. Khadijah lahir 15 tahun lebih awal dari pada nabi Muhammad
SAW, persisnya pada tahun 68 SH.

Perkawinan sebelum dengan Muhammad

Khadijah pertama kali menikah dengan Abi Halah ibn Zurarah al-Taymi.
Dari perkawinan ini mereka dikaruniai dua orang anak yang bernama :
Halah dan Hindun. Abu Halah meninggal, Khadijah menikah lagi dengan
suami keduanya yang bernama ‘’Utaiyq ibn ‘Abid ibn Abdillah al-Makhzumi.
Perkawinan ini tidak bertahan lama, mereka pun bercerai. Usai bercerai
dengan suami kedua, banyak pemuka Quraisy yang datang melamar Khadijah,
namun selalu ditolak. Dia memilih konsentrasi untuk mendidik
anak-anaknya dan pada perdagangan hartanya.

Perkawinan Khadijah dengan Muhammad

Ketika Muhammad masih lagi muda, Khadijah yang sudah mendengar dan
mengetahui reputasi Muhammad sebagai pemuda yang jujur, pedagang yang
ulet dan amanah, maka beliau pun mempercayakan Muhammad untuk membawa
dagangannya ke Syam ditemani oleh budaknya yang bernama Maysarah.
Perdagangan ini menghasilkan keuntungan yang lebih dari biasanya.
Maysarah pun melaporkan kejadian yang dialamai dan dilihatnya selama
perjalanan bersama Muhammad. Khadijah sangat mengagumi akhlak dan
kepiawaian Muhammad dalam berdagang. Khadijah juga menilai bahwa
Muhammad cocok untuk dirinya. Keinginannya ini diceritakannya kepada
seorang sahabatnya yang bernama Nafisah bint Munayyah. Nafisah pun
menemui Muhammad dan bertanya : “Hai Muhammad, kenapa kamu belum menikah
?”

Muhammad menjawab : “Saya tidak punya sesuatu untuk menikah”. Nafisah
kembali bertanya : “Bagaimana kalau dia yang memenuhinya, dan seorang
itu memiliki harta, kecantikan, keturunan yang mulia, dan kesetaraan.
Apakah kamu mau ?” Rasulullah SAW bertanya : “Dan siapakah dia itu ?”
Nafisah menjawab : “Khadijah bint Khuwailid” Rasulullah SAW berkata :
“Jika dia menyetujui, maka saya sudah menerimanya”. Nafisah
memberitahukan Khadijah kabar gembira ini, Khadijah menyambutnya dengan
gembira. Lalu, semua persiapan yang diperlukan pun dilakukan. Abu
Thalib, Hamzah dan paman Muhammad lainnya datang meminang Khadijah untuk
Muhammad.

Perkawinan dilaksanakan dengan mas kawin 20 ekor onta betina. Di hari
perkawinan mereka, Khadijah mengadakan walimah dengan bersedekah kepada
fakir miskin, bahkan ketika ibu susu suami barunya datang, yaitu Halimah
al-Sa’diyah, Khadijah menghadiahinya 40 ekor kambing sebagai rasa
terima kasih karena telah pernah mengasuh Muhammad yang kini sudah
menjadi suaminya.

Perjuangan Khadijah ra.

Cintanya Khadijah kepada Muhammad tidak setengah-setengah. Demikian pula
sebaliknya. Pengorbanan Khadijah untuk membantu suaminya yang sudah
menunjukkan tanda-tanda kenabian tidak berhenti. Dukungan moril dan
materil diberikan sepenuhnya. Terlebih setelah sang suami diangkat
menjadi Nabi dan Rasulullah, Khadijah tanpa ragu meyakini kebenaran yang
dibawa oleh nabi baru yang adalah suaminya sendiri. Pengorbanan dan
dukungan Khadijah yang sangat besar, bahkan tidak terbatas inilah yang
membuat cinta Muhammad kepada istri pertamanya tidak dapat digantikan
oleh istri-istrinya yang lain. Bahkan, ketika ada keraguan dari Muhammad
akan apa yang terjadi terhadap dirinya, Khadijah menanyakan hal ini
kepada salah seorang sepupunya yang seorang pendeta : Waraqah ibn
Naufal.

Waraqah menjelaskan bahwa apa yang terjadi pada diri Muhammad juga itu
yang terjadi pada diri Musa dan Isa. Dan itu merupakan tanda kenabian.
Pengakuan dan penjelasan Waraqah menambah keyakinan Khadijah bahwa
suaminya adalah seorang nabi. Dan dia pun bersegera mengakuinya sebagai
nabi dan mengimani semua yang dibawanya. Bukan cuma itu, Khadijah
berdiri dibelakang suaminya, mengajak penduduk Makkah untuk menganut
agama baru, Islam. Ajakan mereka berhasil dan Zayd, serta kesemua
putri-putrinya memeluk agama baru ini.

Wafat

Khadijah menafkahkan semua hartanya untuk Islam. Ketika masa blokade
ekonomi yang diberlakukan oleh kaum Quraisy, selama 3 tahun itu pula
Khadijah ikut merasakan pahitnya. Sampai akhirnya, ajalpun menjemput.
Setelah 3 hari mengalami sakit yang semakin parah, nyawa yang suci itu
pun akhirnya berpulang ke pangkuan sang Khaliq. Khadijah meninggal tahun
3 SH. Beliau dimakamkan di pemakaman Ma’la, daerah Hujun, Makkah.
Sebagai seorang yang begitu berarti bagi Rasulullah SAW dan
perjuangannya, baginda pernah bersabda :

Sebaik-baik wanita pada zamannya adalah Maryam bint Imran, dan
sebaik-baik wanita pada zamannya adalah Khadijah bint Khuwailid. (HR.
al-Bukahri dan Muslim)

Foto pemakaman Ma’la
                 pemakaman ma'la

2. Saudah bint Zum’ah

Biografi

Saudah bint Zum’ah ibn Qays ibn Abd Syam ibn Abd ibn Nashr ibn Malik ibn
Hasan ibn Malik al-Qurasyi’ah al-‘Amiriyah. Ibunya bernama al-Syamus
bint Qays ibn Zayd ibn Umar, dari Bani Adiy ibn al-Najjar. Masuk Islam
di fase awal. Saudah menikah pertama kali dengan sepupunya yang bernama
Sakran ibn ‘Amr. Keduanya bersama-sama ikut berhijrah ke Habasyah
bersama serombongan kaum muslimin. Takdir Allah, Sakran dipanggil Allah
dan meninggal di pengasingan, Habasyah. Saudah kembali ke Makkah dengan
status sosial berbeda, sebagai seorang janda.

Pernikahannya dengan Rasulullah SAW

Suatu hari, ketika Rasulullah SAW sedang mengenang masa-masa indahnya
bersama Khadijah, tiba-tiba muncul Khaulah bint Hakim, istri dari Utsman
ibn Maz’un. Rasulullah SAW pun menyambutnya. Khaulah bertanya : Wahai
Rasulullah SAW apakah baginda tidak mau nikah ? Rasulullah SAW
terperanjat lalu menjawab : Siapa setelah Khadijah, wahai Khaulah ?

Jika baginda mau yang perawan bisa, atau yang janda juga bisa.
Rasulullah berkata: Siapa yang perawan ? Khaulah berkata : Putri
sahabatmu, ‘Aisyah bint Abi Bakar. Rasulullah kembali bertanya : Yang
sudah janda ? Khaulah menjawab : Saudah, dia sudah beriman dan mengikuti
ajaranmu.

Rasulullah SAW meminta Khaulah untuk mengatur semua. Khaulah pun
melaksanakan permintaan ini. Akhirnya, Rasulullah SAW melakukan Aqad
nikah dahulu dengan Aisyah, baru kemudian dengan Saudah. Bedanya, dengan
Aisyah pasangan suami istri ini tidak langsung tinggal serumah karena
usia Aisyah, sedangkan dengan Saudah, mereka langsung tinggal serumah.

Upacara Pernikahan

Saudah adalah seorang janda yang sudah berumur untuk ukuran seorang ibu,
berwajah biasa saja dan berperawakan besar/gemuk. Seorang janda yang
tabah dan kuat, yang rela mempertahankan aqidahnya meski harus melalui
cobaan dan penderitaan. Karena itu, ketika Rasulullah SAW melamarnya,
beliau tahu bahwa lamaran tersebut datang dari seorang Rasul, bukan dari
seorang laki-laki atas nama kelaki-lakiannya. Beliau mensyukuri hal
tersebut, beliau dengan ikhlas membantu keperluan Rasulullah SAW dan
bersama mendidik anak-anaknya. Lalu, ketika fase Madinah, beliau
menyerahkan malam gilirannya untuk diberikan kepada Aisyah.

Wafat

Saudah Ummul Mu’minin menyaksikan kepergian suaminya, orang yang
dicintai dan diharapkan akan menjadi suaminya di surga kelak, Rasulullah
SAW. Beliau meninggal pada zaman Khalifah Umar ibn al-Khatthab dan
jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Baqi’.

3. Aisyah bint Abu Bakar

Biografi singkat

Aisyah bint Abi Bakar ibn Utsman ibn ‘Amir ibn ‘Amr ibn Ka’ab ibn Sa’ad
ibn Taym ibn Murrah ibn Ka’ab ibn Lu’ay. Ibunya : Ummu Ruman bint ‘Amir
ibn ‘Uwaimir al-Kinaniyah. Lahir di Makkah tahun 5 setelah kenabian.
Menikah dengan Rasulullah SAW tahun 1 atau 2 SH dalam usia 6/7 tahun.
Berumah tangga dengan Rasulullah SAW tahun 2 H dalam usia 9/10 tahun.
Meninggal tahun 57 H, sekitar 46 tahun setelah Rasulullah SAW meninggal.
Meriwayatkan sekitar 2.110 hadis.

Pernikahannya dengan Rasulullah SAW

Rasulullah SAW menikahi Aisyah di Makkah kala usia Aisyah masih 6 tahun,
menurut riwayat Imam al-Bukhari dan beberapa kitab hadis. Dalam riwayat
Ibn Hisyam, usia Aisyah 7 tahun. Namun harus dicatat, bahwa pada
usianya 6-7 tahun, Aisyah hanya dinikahkan secara Akad. Artinya,
pasangan suami-istri yang sudah sah ini, tidak langsung tinggal serumah
dan melakukan apa yang biasa dilakukan suami istri. Rasulullah SAW baru
hidup serumah ketika keduanya sudah berada di Madinah. Walimahnya
diadakan pada bulan Syawwal tahun 1 H, atau sekitar 8 bulan setelah Nabi
SAW tiba di Madinah. Selain pendapat tadi, ada juga riwayat yang
diriwayatkan oleh Ibn ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq, bahwa walimah itu
baru dilaksanakan setelah Rasulullah SAW kembali dari perang Badr, dan
itu di tahun 2 H. Wallahu A’lam. Sedangkan mahar untuk pernikahan ini,
menurut riwayat Ibn Hisyam : 400 dirham. Sedangkan menurut riwayat Ibn
Majah, maharnya adalah kebutuhan/peralatan rumah tangga yang besarnya
ditaksir sebesar 50 dirham atau 40 dirham.

Riwayat Walimah Pernikahan

Dari Aisyah ra. ia berkata :

Rasulullah SAW menikahiku pada saat aku berusia enam tahun dan beliau
menggauliku saat berusia sembilan tahun. Aisyah ra. melanjutkan : Ketika
kami tiba di Madinah, aku terserang penyakit demam selama sebulan
setelah itu rambutku tumbuh lebat sepanjang pundak. Kemudian Ummu Ruman
datang menemuiku waktu aku sedang bermain ayunan bersama beberapa orang
teman perempuanku. Ia berteriak memanggilku, lalu aku mendatanginya
sedangkan aku tidak mengetahui apa yang diinginkan dariku. Kemudian ia
segera menarik tanganku dan dituntun sampai di muka pintu. Aku berkata :
Huh.. huh.. hingga nafasku lega. Kemudian Ummu Ruman dan aku memasuki
sebuah rumah yang di sana telah banyak wanita Anshar. Mereka mengucapkan
selamat dan berkah atas nasib yang baik. Ummu Ruman menyerahkanku
kepada mereka lalu mereka memandikanku dan meriasku, dan tidak ada yang
membuatku terkejut kecuali ketika Rasulullah SAW datang dan mereka
meyerahkanku kepada beliau. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hikmah Perkawinan

Pernikahan Rasulullah SAW dengan Aisyah yang masih berusia sangat muda,
pada waktu itu sama sekali tidak menjadi gosip miring. Sebab hal itu
merupakah hal yang biasa dilakukan masyarakat Arab, baik di Makkah
maupun di Madinah. Berbeda dengan kebiasaan orang di zaman sekarang.
Bukti dari model pernikahan ini merupakan adat kebiasaan masyarakat kala
itu adalah Rasulullah SAW sendiri menikahkan 3 orang putri pertamanya
juga dalam usia masih sangat belia. Zainab menikah dengan Abu al-’Ash,
kemudian Ruqayyah dan Ummu Kultsum dinikahkan dengan ‘Utbah dan Utaibah.
Ketiga-tiganya melakukan akad sebelum Nabi SAW menjadi Nabi. Jadi
dipastikan, usia mereka masih sangat muda. Tidak perlu terlalu jauh
mengambil contoh, di tahun 1950 an, berapakah usia umum perempuan
Indonesia menikah? Apakah di usia 20 tahun? Tentu tidak. 17 tahun?
Jawabnya juga tidak. Terlalu banyak contoh nenek kita yang menikah dalam
usia di bawah 15 tahun. Apakah itu aib dan bermasalah pada waktu itu?
Jawabannya jelas : Tidak. Lalu bagaimana dengan 1.400 tahun yang lalu?

Muhammad SAW kala pernikahan itu sudah menjadi Nabi. Walhasil, semua
tindakan strategisnya pasti berdasarkan persetujuan wahyu. Di balik
persetujuan wahyu itu, pasti ada hikmah besar yang kadang tidak terbaca
oleh kebanyakan orang. Beberapa hikmah yang dapat kita lihat adalah :


  •  Rasulullah SAW adalah sumber hukum. Dari prilaku dan berita yang
    disampaikan merupakan ilmu pengetahuan dan bahkan bisa menjadi dasar
    hukum.
  • Aisyah yang masih polos karena faktor usia yang masih sangat muda,
    ditambah kecerdasan otaknya, menjadikannya haus untuk ditanya dan
    bertanya tentang banyak hal oleh dan dari Rasulullah SAW. Hasilnya,
    banyak sekali ilmu pengetahuan yang diserap oleh beliau. Ini terbukti
    dengan banyaknya Hadis riwayat Aisyah.
  • Imam al-Zuhri (w. 124 H), seorang ulama hadis terkenal berkata :
    Kalaulah semua ilmu orang digabungkan, kemudian ilmu istri-istri
    Rasulullah SAW digabungkan, (kemudian dibandingkan dengan ilmu Aisyah)
    maka ilmu Aisyahlah yang terbanyak.

Dengan usia mudanya Aisyah, maka kesempatannya untuk menyampaikan
ilmu yang didapat dari Rasulullah SAW lebih leluasa dan lebih panjang
masanya. Hal ini terbukti dari usia Aisyah yang masih hidup + 45 tahun
setelah Rasulullah SAW meninggal. Dalam kurun waktu 45 tahun ini Aisyah
menjadi sumber informasi utama. Data yang lain menunjukkan, bahwa orang
yang meriwayatkan hadis atau informasi dari beliau, sekurang-kurangnya
berjumlah : 299 orang. Status keperawanannya, membawa banyak dampak
hukum. Pertama, bukan menjadi sunnah Nabi menikah dengan janda. Bukan
menjadi sunnah Nabi menikah dengan perawan. Perawan dan janda jangan
dijadikan pertimbangan pertama. Boleh menikah dengan orang yang sudah
baligh. Hal ini sebagai dasar hukum, namun bukan menjadi sunnah Nabi
menikah dengan perempuan berusia sangat muda seperti usia Aisyah,
sebagai Nabi, beliau hanya menikahi orang seusia ini satu kali, yaitu
dengan Aisyah. Sedangkan usia istri-istri beliau yang lain, sangat
bervariatif. Ada yang masih 17- 20 tahun, ada yang 21-30 tahun, dan ada
juga yang sudah berusia 31-40 tahun.

Difitnah Selingkuh : Hadits al-Ifk

Cobaan yang paling berat yang dialami Aisyah dalam rumah tangganya
dengan Rasulullah SAW adalah ketika beliau difitnah selingkuh dan
berzina dengan Shafwan ibn Mu’atthal al-Sulami al-Dzakwani . Kisah ini
dikenal dengan Hadits al-Ifk. Kisah itu terjadi pada tahun 5 H setelah
pulang dari Perang dengan Bani al-Mustalaq di daerah Muraysi’. Berikut
riwayat kejadiannya sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan
Muslim : Aisyah ra. istri Nabi SAW bercerita : Setiap Rasulullah SAW
hendak keluar dalam suatu perjalanan, beliau selalu mengadakan undian di
antara para istri beliau dan siapa di antara mereka yang keluar
undiannya, maka Rasulullah SAW akan berangkat bersamanya. Aisyah
berkata: Lalu Rasulullah SAW mengundi di antara kami untuk menentukan
siapa yang akan ikut dalam perang dan ternyata keluarlah undianku
sehingga aku pun berangkat bersama Rasulullah SAW. Peristiwa itu terjadi
setelah diturunkan ayat hijab (al-Ahzab ayat 53) di mana aku dibawa
dalam sekedup dan ditempatkan di sana selama perjalanan kami.

Pada suatu malam ketika Rasulullah SAW selesai berperang lalu pulang dan
kami telah mendekati Madinah, beliau memberikan aba-aba untuk
berangkat. Aku pun segera bangkit setelah mendengar mereka mengumumkan
keberangkatan lalu berjalan sampai jauh meninggalkan pasukan tentara.
Seusai melaksanakan hajat, aku hendak langsung menghampiri onta
tungganganku namun saat meraba dada, ternyata kalungku yang terbuat dari
mutiara Zifar putus. Aku pun kembali untuk mencari kalungku sehingga
tertahan karena pencarian itu. Sementara orang-orang yang bertugas
membawaku mereka telah mengangkat sekedup itu dan meletakkannya ke atas
punggung ontaku yang biasa aku tunggangi karena mereka mengira aku telah
berada di dalamnya. Ia menambahkan : Kaum wanita pada waktu itu memang
bertubuh ringan dan langsing/tidak gemuk karena mereka hanya
mengkonsumsi makanan dalam jumlah sedikit sehingga orang-orang itu tidak
merasakan beratnya sekedup ketika mereka mengangkatnya ke atas onta.
Apalagi ketika itu aku anak perempuan yang masih belia. Mereka pun
segera menggerakkan onta itu dan berangkat.

Aku baru menemukan kalung itu setelah pasukan tentara berlalu. Kemudian
aku mendatangi tempat perhentian mereka, namun tak ada seorang pun di
sana. Lalu aku menuju ke tempat yang semula dengan harapan mereka akan
merasa kehilangan dan kembali menjemputku. Ketika aku sedang duduk di
tempatku rasa kantuk mengalahkanku sehingga aku pun tertidur. Ternyata
ada Shafwan ibn al-Mu’atthal al-Sulami al-Dzakwani yang tertinggal di
belakang pasukan sehingga baru dapat berangkat pada malam hari dan
keesokan paginya ia sampai di tempatku. Dia melihat bayangan hitam
seperti seorang yang sedang tidur lalu ia mendatangi dan langsung
mengenali ketika melihatku karena ia pernah melihatku sebelum diwajibkan
hijab. Aku terbangun oleh ucapannya, “inna lillaahi wa inna ilaihi
raji`uun” pada saat dia mengenaliku. Aku segera menutupi wajahku dengan
kerudung dan demi Allah, dia sama sekali tidak mengajakku bicara sepatah
kata pun dan aku pun tidak mendengar satu kata pun darinya selain
ucapan “inna lillahi wa inna ilaihi raji`uun”.

Kemudian ia menyiapkan onta sehingga aku dapat menaikinya. Dan ia pun
berangkat sambil menuntun onta yang aku tunggangi hingga kami dapat
menyusul pasukan yang sedang berteduh di tengah hari yang sangat panas.
Maka celakalah orang-orang yang telah menuduhku di mana yang paling
besar berperan ialah Abdullah ibn Ubay ibn Salul. Sampai kami tiba di
Madinah dan aku pun segera menderita sakit setiba di sana selama
sebulan. Sementara orang-orang ramai membicarakan tuduhan para pembuat
berita bohong padahal aku sendiri tidak mengetahui sedikit pun tentang
hal itu. Yang membuatku gelisah selama sakit adalah bahwa aku tidak lagi
merasakan kelembutan Rasulullah SAW yang biasanya kurasakan ketika aku
sakit. Rasulullah SAW hanya masuk, mengucapkan salam, kemudian bertanya :
“Bagaimana keadaannya?”

Hal itu membuatku gelisah, tetapi aku tidak merasakan adanya keburukan,
sampai ketika aku keluar setelah sembuh bersama Ummu Misthah ke tempat
pembuangan air besar di mana kami hanya keluar ke sana pada malam hari
sebelum kami membangun tempat membuang kotoran (WC) di dekat rumah-rumah
kami. Kebiasaan kami sama seperti orang-orang Arab dahulu dalam buang
air. Kami merasa terganggu dengan tempat-tempat itu bila berada di dekat
rumah kami. Aku pun berangkat dengan Ummu Misthah, seorang anak
perempuan Abu Ruhm ibn Mutthalib ibn Abdi Manaf dan ibunya adalah putri
Shakhr ibn ‘Amir, bibi Abu Bakar al-Siddiq. Putranya bernama Misthah ibn
Utsatsah ibn Abbad ibn Mutthalib. Aku dan putri Abu Ruhm langsung
menuju ke arah rumahku sesudah selesai buang air. Tiba-tiba Ummu Misthah
menginjak bajunya dan terpeleset jatuh sehingga terucaplah dari
mulutnya kalimat : “Celakalah Misthah!” Aku berkata kepadanya : Alangkah
buruknya apa yang kau ucapkan! Apakah engkau memaki orang yang telah
ikut serta dalam perang Badr?

Ummu Misthah berkata : “Wahai junjunganku, tidakkah engkau mendengar apa
yang dia katakan?” Aku menjawab : “Memangnya apa yang dia katakan?”
Ummu Misthah lalu menceritakan kepadaku tuduhan para pembuat cerita
bohong sehingga penyakitku semakin bertambah parah. Ketika aku kembali
ke rumah, Rasulullah SAW masuk menemuiku, beliau mengucapkan salam
kemudian bertanya : Bagaimana keadaannya? Aku berkata : Apakah engkau
mengizinkan aku mendatangi kedua orang tuaku? Pada saat itu aku ingin
meyakinkan kabar itu dari kedua orang tuaku. Begitu Rasulullah SAW
memberiku izin, aku pun segera pergi ke rumah orang tuaku. Sesampai di
sana, aku bertanya kepada ibu : “Wahai ibuku, apa yang dikatakan oleh
orang-orang mengenai diriku?” Ibu menjawab : “Wahai anakku, tenanglah!
Demi Allah, jarang sekali ada wanita cantik yang sangat dicintai
suaminya dan mempunyai beberapa madu, kecuali pasti banyak berita buruk
dilontarkan kepadanya.”

Aku berkata : “Maha suci Allah! Apakah setega itu orang-orang
membicarakanku?” Aku menangis malam itu sampai pagi air mataku tidak
berhenti mengalir dan aku tidak dapat tidur dengan nyenyak. Pada pagi
harinya, aku masih saja menangis. Beberapa waktu kemudian Rasulullah SAW
memanggil Ali ibn Abu Thalib dan Usamah ibn Zayd untuk membicarakan
perceraian dengan istrinya ketika wahyu tidak kunjung turun. Usamah ibn
Zayd memberikan pertimbangan kepada Rasulullah SAW sesuai dengan yang ia
ketahui tentang kebersihan istrinya (dari tuduhan) dan berdasarkan
kecintaan dalam dirinya yang ia ketahui terhadap keluarga Nabi SAW. Ia
berkata : “Ya Rasulullah, mereka adalah keluargamu dan kami tidak
mengetahui dari mereka kecuali kebaikan.” Sedangkan Ali ibn Abu Thalib
berkata : “Semoga Allah tidak menyesakkan hatimu karena perkara ini,
banyak wanita selain dia (Aisyah). Jika engkau bertanya kepada budak
perempuan itu (pembantu rumah tangga Aisyah) tentu dia akan memberimu
keterangan yang benar.”

Lalu Rasulullah SAW memanggil Barirah (jariyah yang dimaksud) dan
bertanya : “Hai Barirah! Apakah engkau pernah melihat sesuatu yang
membuatmu ragu tentang Aisyah?” Barirah menjawab : “Demi Zat yang telah
mengutusmu membawa kebenaran! Tidak ada perkara buruk yang aku lihat
dari dirinya kecuali bahwa Aisyah adalah seorang perempuan yang masih
muda belia, yang biasa tidur di samping adonan roti keluarga lalu
datanglah hewan-hewan ternak memakani adonan itu.” Kemudian Rasulullah
SAW berdiri di atas mimbar meminta bukti dari Abdullah ibn Ubay ibn
Salul. Di atas mimbar itu, Rasulullah SAW bersabda : “Wahai kaum
Muslimin, siapakah yang mau menolongku dari seorang yang telah sampai
hati melukai hati keluarga? Demi Allah! Yang kuketahui pada keluargaku
hanyalah kebaikan. Orang-orang juga telah menyebut-nyebut seorang lelaki
yang kuketahui baik. Dia tidak pernah masuk menemui keluargaku
(istriku) kecuali bersamaku.”

Maka berdirilah Sa’ad ibn Mu’az al-Anshari seraya berkata : “Aku yang
akan menolongmu dari orang itu, wahai Rasulullah. Jika dia dari golongan
Aus, aku akan memenggal lehernya dan kalau dia termasuk saudara kami
dari golongan Khazraj, maka engkau dapat memerintahkanku dan aku akan
melaksanakan perintahmu.” Mendengar itu, berdirilah Sa’ad ibn ‘Ubadah.
Dia adalah pemimpin golongan Khazraj dan seorang lelaki yang baik tetapi
amarahnya bangkit karena rasa fanatik golongan. Dia berkata tertuju
kepada Sa’ad ibn Mu’az : “Engkau salah! Demi Allah, engkau tidak akan
membunuhnya dan tidak akan mampu untuk membunuhnya!” Lalu Usayd ibn
Hudhayr saudara sepupu Sa’ad ibn Mu’az, berdiri dan berkata kepada Sa’ad
ibn ‘Ubadah : “Engkau salah! Demi Allah, kami pasti akan membunuhnya!
Engkau adalah orang munafik yang berdebat untuk membela orang-orang
munafik.” Bangkitlah amarah kedua golongan yaitu Aus dan Khazraj,
sehingga mereka hampir saling berbaku-hantam dan Rasulullah SAW masih
berdiri di atas mimbar terus berusaha meredakan emosi mereka hingga
mereka diam dan Rasulullah SAW diam.

Sementara itu, aku menangis sepanjang hari, air mataku tidak berhenti
mengalir dan aku pun tidak merasa nyenyak dalam tidur. Aku masih saja
menangis pada malam berikutnya, air mataku tidak berhenti mengalir dan
juga tidak merasa enak tidur. Kedua orangtuaku mengira bahwa tangisku
itu akan membelah jantungku. Ketika kedua orangtuaku sedang duduk di
sisiku yang masih menangis, datanglah seorang perempuan Anshar meminta
izin menemuiku. Aku memberinya izin lalu dia pun duduk sambil menangis.
Pada saat kami sedang dalam keadaan demikian, Rasulullah SAW masuk.
Beliau memberi salam, lalu duduk. Beliau belum pernah duduk di dekatku
sejak ada tuduhan yang bukan-bukan kepadaku, padahal sebulan telah
berlalu tanpa turun wahyu kepada beliau mengenai persoalanku.

Rasulullah SAW mengucap syahadat pada waktu duduk kemudian bersabda :
“Hai Aisyah, sesungguhnya telah sampai kepadaku bermacam tuduhan tentang
dirimu. Jika engkau memang bersih, Allah pasti akan membersihkan dirimu
dari tuduhan-tuduhan itu. Tetapi kalau engkau memang telah berbuat
dosa, maka mohonlah ampun kepada Allah dan bertobatlah kepada-Nya.
Sebab, bila seorang hamba mengakui dosanya kemudian bertobat, tentu
Allah akan menerima tobatnya.” Ketika Rasulullah SAW selesai berbicara,
air mataku pun habis sehingga aku tidak merasakan satu tetespun
terjatuh. Lalu aku berkata kepada ayahku : “Jawablah untukku kepada
Rasulullah SAW mengenai apa yang beliau katakan.” Ayahku menyahut :
“Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada Rasulullah
SAW.” Kemudian aku berkata kepada ibuku : “Jawablah untukku kepada
Rasulullah SAW!” Ibuku juga berkata : “Demi Allah, aku tidak tahu apa
yang harus kukatakan kepada Rasulullah SAW.”

Maka aku pun berkata : “Aku adalah seorang perempuan yang masih muda
belia. Aku tidak banyak membaca al-Qur’an. Demi Allah, aku tahu bahwa
kalian telah mendengar semua ini, hingga masuk ke hati kalian, bahkan
kalian mempercayainya. Jika aku katakan kepada kalian, bahwa aku bersih
dan Allah pun tahu bahwa aku bersih, mungkin kalian tidak juga
mempercayaiku. Dan jika aku mengakui hal itu di hadapan kalian,
sedangkan Allah mengetahui bahwa aku bersih, tentu kalian akan
mempercayaiku. Demi Allah, aku tidak menemukan perumpamaan yang tepat
bagiku dan bagi kalian, kecuali sebagaimana dikatakan ayah Nabi Yusuf :
Kesabaran yang baik itulah kesabaranku. Dan Allah sajalah yang dimohon
pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan.” Kemudian aku pindah
dan berbaring di tempat tidurku. Demi Allah, pada saat itu aku yakin
diriku bersih dan Allah akan menunjukkan kebersihanku. Tetapi, sungguh
aku tidak berharap akan diturunkan wahyu tentang persoalanku. Aku kira
persoalanku terlalu remeh untuk dibicarakan Allah SWT dengan wahyu yang
diturunkan. Namun, aku berharap Rasulullah SAW akan bermimpi bahwa Allah
membersihkan diriku dari fitnah itu.

Rasulullah SAW belum lagi meninggalkan tempat duduknya dan tak seorang
pun dari isi rumah ada yang keluar, ketika Allah Ta’ala menurunkan wahyu
kepada Nabi-Nya. Tampak Rasulullah SAW merasa kepayahan seperti
biasanya bila beliau menerima wahyu, hingga tetesan keringat beliau
bagaikan mutiara di musim dingin, karena beratnya firman yang diturunkan
kepada beliau. Ketika keadaan yang demikian telah hilang dari
Rasulullah SAW (wahyu telah selesai turun), maka sambil tertawa,
perkataan yang pertama kali beliau ucapkan adalah : “Bergembiralah,
wahai Aisyah, sesungguhnya Allah telah membersihkan dirimu dari
tuduhan”. Lalu ibuku berkata kepadaku : “Bangunlah! Sambutlah beliau!”
Aku menjawab : “Demi Allah, aku tidak akan bangun menyambut beliau. Aku
hanya akan memuji syukur kepada Allah. Dialah yang telah menurunkan ayat
al-Qur’an yang menyatakan bahwa diriku bersih”.

Allah Ta’ala menurunkan ayat : “Sesungguhnya orang-orang yang membawa
berita bohong itu adalah dari golonganmu juga, dan sepuluh ayat
berikutnya. Allah menurunkan ayat-ayat tersebut yang menyatakan bahwa
diriku bersih”. Abu Bakar yang semula selalu memberikan nafkah kepada
Misthah karena kekerabatan dan kemiskinannya, pada saat itu mengatakan :
“Demi Allah, aku tidak akan lagi memberikan nafkah kepadanya sedikit
pun selamanya, sesudah apa yang dia katakan terhadap Aisyah”. Sebagai
teguran atas ucapan itu, Allah menurunkan ayat selanjutnya : “Dan
janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara
kalian, bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kaum
kerabat mereka, orang-orang miskin”, sampai pada firman-Nya : “Apakah
kalian tidak ingin bahwa Allah mengampuni kalian”. (Hibban ibn Musa
berkata : Abdullah ibn Mubarak berkata : “Ini adalah ayat yang paling
aku harapkan dalam Kitab Allah)”. Maka berkatalah Abu Bakar : “Demi
Allah, tentu saja aku sangat menginginkan ampunan Allah”.

Selanjutnya dia (Abu Bakar) kembali memberikan nafkah kepada Misthah
seperti sedia kala dan berkata : “Aku tidak akan berhenti memberikannya
nafkah untuk selamanya”. Aisyah meneruskan : “Rasulullah SAW pernah
bertanya kepada Zainab bint Jahsy, istri Nabi SAW tentang persoalanku :
Apa yang kamu ketahui? Atau apa pendapatmu?” Zainab menjawab : “Wahai
Rasulullah, aku selalu menjaga pendengaran dan penglihatanku (dari
hal-hal yang tidak layak). Demi Allah, yang kuketahui hanyalah
kebaikan”. Aisyah berkata : “Padahal dialah yang menyaingi kecantikanku
di antara para istri Nabi SAW, Allah menganugerahinya dengan sikap wara’
(menjauhkan diri dari maksiat dan perkara meragukan) lalu mulailah
saudara perempuannya, yaitu Hamnah bint Jahsy, membelanya dengan rasa
fanatik (yakni ikut menyebarkan apa yang dikatakan oleh pembuat cerita
bohong). Maka celakalah ia bersama orang-orang yang celaka”.

Kita bisa menyimak surat An-Nur ayat 11-20 :

ayat ifki

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari
golongan kamu juga. janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk
bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. tiap-tiap seseorang dari
mereka mendapat Balasan dari dosa yang dikerjakannya. dan siapa di
antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran
berita bohong itu baginya azab yang besar.


Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohon itu orang-orang
mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri,
dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang
nyata.”


Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang
saksi atas berita bohong itu? Olah karena mereka tidak mendatangkan
saksi-saksi Maka mereka Itulah pada sisi Allah orang- orang yang dusta.


Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di
dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena
pembicaraan kamu tentang berita bohong itu.


(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke
mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui
sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal Dia
pada sisi Allah adalah besar.


dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu:
“Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha suci
Engkau (ya Tuhan kami), ini adalah Dusta yang besar.”


Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.

Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang
Amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka
azab yang pedih di dunia dan di akhirat. dan Allah mengetahui, sedang,
kamu tidak mengetahui.


Dan Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada
kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu
akan ditimpa azab yang besar).


Analisa :


  • Sepuluh ayat di atas menunjukkan bahwa Aisyah tidak berselingkuh dan tidak juga berzina.
  • Aisyah dan keluarganya, juga Rasulullah SAW gembira dengan berita yang langsung turun dari Langit ketujuh ini.

Kelebihan Aisyah


Hadis riwayat Anas ibn Malik ra. ia berkata :

Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Keutamaan Aisyah atas
wanita-wanita lain adalah seperti keutamaan tsarid (bubur daging dan
roti) atas makanan yang lainnya”.


Aisyah ra. bercerita :

Bahwa Nabi SAW pernah berkata kepadanya : “Sesungguhnya malaikat Jibril
mengucapkan salam kepadamu”. Aisyah berkata : Lalu aku menjawab: “Wa
alaihissalam wa rahmatullah (Semoga keselamatan serta rahmat Allah
selalu terlimpahkan atasnya)”.


Aisyah ra. ia berkata :

Rasulullah SAW pernah bersabda : “Tiga malam aku bermimpi melihat kamu.
Malaikat datang kepadaku mengantarkanmu dengan ditutupi sepotong kain
sutera seraya berkata : Inilah istrimu. Ketika aku menyingkap kain itu,
ternyata itu memang benar-benar kamu. Lalu aku katakan : Kalau itu
memang datang dari sisi Allah, maka Allah pasti akan menjadikannya
kenyataan”.


Kontribusinya dalam periwayatan Hadis


Kecerdasan Aisyah dan kepekaannya serta
kepeduliannya, serta usianya yang panjang setelah wafat Rasulullah SAW,
membuat Aisyah banyak meriwayatkan Hadis. Bahkan menjadi yang kedua
setelah Abu Hurairah. Berikut data singkatnya :


hadis aisyah ok


Wafat

Setelah hidup sendiri sebagai Ummul Mu’minin selama lebih dari 46 tahun,
akhirnya, ajal beliau pun datang. Tepat hari Selasa malam, 17 Ramadhan
tahun 57 H, Aisyah kembali ke pangkuan Ilahi dalam usia 66 tahun.
Jenazahnya dishalatkan di Masjid Nabawi dengan imam Abu Hurairah. Pada
malam itu juga jenazahnya dikubur di Baqi’ di bawah sinar obor yang
menerangi kota Madinah, berdampingan dengan makam para Ummul Mu’minin
lainnya. Turun ke liang lahat keponakan-keponakan beliau : Abdullah ibn
al-Zubayr, ‘Urwah ibn al-Zubayr, al-Qasim ibn Muhammad, Abdullah ibn
Muhammad dan Abdullah ibn Abdurrahman.


4. Hafsah bint Umar

Biografi

Hafsah bint Umar ibn al-Khattab, ibn Nufayl ibn Abd al-’Uzza ibn Riyah
ibn Abdillah ibn Qurth ibn Razah ibn ‘Adiy ibn Ka’ab ibn Lu’ay ibn
Ghalib. Istri Rasulullah SAW yang menghafal dan menjaga al-Qur’an.
Hafsah lahir di Makkah sekitar 2 tahun sebelum kenabian.

Perkawinan Pertama

Sebelum menikah dengan Rasulullah SAW, Hafsah pernah menikah dengan
Khunays ibn Huzafah ibn Qays ibn ‘Adiy. Sang suami adalah sahabat yang
ikut dua kali hijrah, ke Habasyah ke 2 dan ke Madinah. Beliau juga ikut
perang Badr dan Perang Uhud. Ketika perang Uhud, Khunays merupakan salah
seorang yang cidera tertusuk pedang atau tombak dan panah. Selang
beberapa hari kemudian, beliau pun meninggal dunia. Hafsah yang masih
muda, berubah statusnya menjadi janda muda. Sang ayah, Umar ibn
al-Khatthab ikut mencarikan suami yang baik dan sesuai dengan Hafsah.
Umar ibn al-Khatthab menawarkan sahabatnya Abu Bakar al-Siddiq untuk
menikahi putrinya. Umar harus kecewa karena Abu Bakar menolak tawaran
ini. Umar pun melihat Utsman ibn ‘Affan, beliau pun menawarkan hal yang
sama. Lagi-lagi hal yang sama juga yang diterima. Utsman menolak.

Perkawinannya dengan Rasulullah SAW

Kekecewaan Umar terhadap penolakan Abu Bakar dan Utsman, beliau
ceritakan kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW tersenyum dan berkata :

“Hafsah akan menikah dengan orang yang lebih baik dari Utsman. Dan
Utsman akan menikah dengan orang yang lebih baik dari Hafsah. Umar
gembira dengan kabar ini, dia segera kembali ke rumah untuk menyampaikan
kabar ini kepada putrinya”.

Belum lagi sampai di rumah, Umar berjumpa Abu Bakar dengan wajah yang
ceria. Abu Bakar mengetahui gerangan apa yang membuat Umar begitu
gembira. Umar menceritakan kabar baik yang baru saja beliau dengar dari
mulut Rasulullah SAW. Abu Bakar pun memberi ucapan selamat dan berkata :

“Wahai Umar, janganlah kamu menuduhku yang tidak-tidak. Sebelum kamu
menawarkan kepadaku. Aku pernah dengar Rasulullah menyebut nama Hafsah.
Namun aku tidak ingin bercerita hal ini kepada orang lain karena tidak
ingin membuka rahasia Rasulullah. Jika saja Rasulullah tidak
menikahinya, niscaya aku akan menikahinya”.

Walhasil, pernikahan Rasulullah SAW dengan Hafsah dilaksanakan pada bulan Sya’ban 3 H.

Kehidupan Rumah Tangga

Hafsah mewarisi karakter ayahnya yang keras. Hidup sebagai istri ketiga
tentu tidak mudah. Gesekan dan singgungan pasti terjadi, terlebih dengan
Aisyah yang lebih muda dari dirinya. Untuk hal itu Umar sang ayah
memberikannya nasehat : Di mana letak kamu dibanding dengan Aisyah ? Dan
di mana letak bapakmu dibanding dengan bapaknya ? Umar juga
menasehatinya agar tidak membuat Rasulullah SAW marah. Namun Hafsah
masih dengan karakter kerasnya. Rasululalh SAW sempat memarahinya. Umar
yang mendengar cerita bahwa Rasulullah SAW marah sama putrinya,
mendatangi sang putri dan menanyakan kebenaran isu tersebut. Hafsah
membenarkan isu tadi. Umar pun marah dan berkata : Demi Allah saya sudah
tahu kalau Rasulullah tidak mencintaimu. Kalaulah bukan karena aku,
niscaya kamu sudah ditalaknya. Hafsah menyesali prilakunya yang kurang
baik dan terus memperbaikinya sampai akhirnya menjadi istri yang
solehah.

Dicerai dan dirujuk kembali

Suatu hari, Hafsah mendapati Rasulullah SAW bersama Maria al-Qibtiyah
berada di rumahnya. Rasa cemburu dan kesal membakar amarahnya. Setelah
Maria keluar dari rumahnya, Hafsah menemui Rasulullah SAW dan marah
dengan kejadian yang baru dilihatnya. Dia pun berkata : Saya tidak
terima wahai Rasulullah engkau bersama Maria al-Qibtiyah di rumahku.
Kata-kata tadi membekas di hati Rasulullah SAW, beliau berusaha untuk
memakluminya dan berusaha untuk menenangkannya. Beliau pun berkata bahwa
Maria tidak akan digaulinya lagi. Akan tetapi Rasulullah SAW meminta
kepada Hafsah untuk tidak menceritakan hal ini kepada siapa-siapa.

Hafsah tidak mampu memegang rahasia, cerita yang seharusnya tidak
disebarluaskan kepada siapapun, ternyata diceritakannya juga kepada
Aisyah. Dan akhirnya sampai ke telinga Rasulullah SAW. Hafsah
diceraikan. Namun karena posisi Umar sang ayah di mata Rasulullah SAW
yang dihormati, dan Umar juga melakukan mediasi, maka tak lama kemudian
Rasulullah SAW merujuknya kembali. Dalam beberapa riwayat, perintah
rujuk itu dibawa oleh Jibril as. Yang mengabarkan juga bahwa Hafsah akan
menjadi istri Rasulullah SAW di Surga.

Ayat al-Qur’an

Beberapa ayat al-Qur’an diturunkan untuk menyelesaikan masalah-masalah
yang dihadapi oleh Rasulullah SAW disebabkan oleh Hafsah atau Hafsah dan
Aisyah. Awal surat al-Tahrim (ayat 1- 5), merupakan beberapa ayat yang
turun berkaitan dengan Hafsah. Terdapat Hikmah besar di balik
kejadian-kejadian yang terjadi di balik rumah tangga Rasulullah SAW
bersama Hafsah. Antara lain :


  • Hafsah adalah manusia biasa, bahkan masih mewarisi watak keras dari
    ayahnya. Karakter seperti ini memerlukan waktu untuk berubah dan
    dirubah, dan Hafsah akhirnya berubah lebih baik dengan melalui beberapa
    kali kejadian.
  • Memperlihatkan kesabaran Rasulullah SAW dalam menghadapi istri yang tentu mempunyai sifat bawaan.
  • Memperlihatkan sikap dan tanggapan Rasulullah SAW terhadap seorang
    istri yang kurang ta’at. Didikan yang harus dijatuhkan haruslah
    bertahap, bukan langsung yang terberat.

Kehormatan untuk menjaga Mushaf

Setelah Rasulullah SAW wafat , Hafsah mengisi hidupnya dengan tekun
beribadah. Abu Bakar sebagai Khalifah memilih Hafsah sebagai Ummul
Mu’minin yang diamanahkan untuk menjaga al-Qur’an / Mushaf pertama yang
tertulis lengkap. Di zaman Khalifah Umar, mushaf itu tetap terjaga di
rumahnya. Pada masa Khalifah Utsman ibn ‘Affan, ketika beliau
memerintahkan kepada beberapa orang sahabat untuk menyatukan tulisan dan
huruf al-Qur’an menjadi satu, beliau memilih dan menjadikan mushaf yang
dijaga oleh Hafsah sebagai rujukan utamanya.

Wafat

Tahun demi tahun waktu berjalan terus. Usia Hafsah pun semakin
bertambah, kekuatan fisiknya semakin lemah. Beliau yang memilih Madinah
sebagai tempat tinggalnya, dan akhirnya wafat di kota ini pada tahun 47
H. Jasad beliau dimakamkan di pemakaman Baqi’ bersama para Ummul
Mu’minin yang lainnya.

5. Ummu Salamah

Biografi

Ummu Salamah, begitulah Ummul Mu’minin ini lebih dikenal. Nama Ummu
Salamah adalah Hindun. Ayahnya adalah Abu Umayyah ibn al-Mughirah ibn
Abdullah ibn Umar ibn Makhzum al-Qurasyiyah al-Makhzumiyah. Ibunya
adalah ‘Atikah bint ‘Amir ibn Rabi’ah ibn Malik ibn Khadijah ibn
‘Alqamah al-Kinaniyah. Menikah pertama kali dengan Abu Salamah, Abdullah
ibn Abdul Asad, ibn Hilal, ibn Abdullah ibn Makhzum. Abu Salamah
sendiri adalah anak dari bibi Rasulullah SAW yang bernama Barrah bint
Abdul Mutthalib. Disamping itu beliau juga merupakan saudara susu
Rasullah SAW karena keduanya pernah disusui oleh Tsuwaibah.

Kecantikan Ummu Salamah

Ummu Salamah adalah wanita Quraisy yang dikenal kecantikannya.
Kecantikannya dapat digambarkan dari perkataan Aisyah berikut ini :


  • Ketika Rasulullah SAW menikahi Ummu Salamah, saya merasa sedih
    sekali karena berita tentang kecantikannya yang terdengar selama ini.
    Saya menunggu sampai akhirnya saya melihatnya langsung. Setelah saya
    melihat, ternyata kecantikannya berkali-kali lipat dari yang disifatkan.
  • Ketika Aisyah menceritakan kecantikan Ummu Salamah, istri Rasulullah
    SAW yang baru, kepada istri Rasulullah SAW yang lainnya, yaitu Hafsah.
    Hafsah pun berkomentar : Saya melihat bahwa kecantikannya biasa-biasa
    saja, tidak seperti yang digambarkan orang. Hafasah berkata demikian,
    entah untuk meredam kecemburuan Aisyah atau juga untuk meredam
    kecemburuan dirinya sendiri

Perjuangan Ummu Salamah

Ummu Salamah dan suami pertamanya, Abu Salamah, adalah termasuk
orang-orang yang masuk Islam di masa awal. Pasangan suami istri ini
mengalami dan merasakan sendiri pahit dan getirnya menjadi orang Islam
di bawah tekanan dan intimidasi musyrikin Makkah. Demi menjaga keyakinan
yang sudah mereka imani, keduanya rela meninggalkan harta bendanya di
Makkah untuk hijrah ke Habasyah. Ketika berada di Habasyah, pasangan ini
dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Salamah. Setelah selesai masa
blokade Quraisy terhadap kaum muslimin, pasangan ini bersama rombongan,
kembali ke Makkah. Setibanya di Makkah, kondisi yang baik seperti yang
diharapkan tidak kunjung tiba. Mereka berdua dan semua kaum muslimin
masih dan tetap mendapatkan perlakuan kasar dari kaum Quraisy. Ketika
perintah untuk berhijrah ke Madinah diberikan oleh Rasulullah SAW,
pasangan suami istri dan putranya adalah termasuk yang melaksanakan
perintah ini. Mereka bertiga hijrah bersama ke Yatsrib.

Kisah Hijrahnya ke Madinah

Beliau menceritakan ketika Abu Salamah memutuskan untuk berhijrah ke
Madinah. Abu Salamah menyiapkan ontanya lalu mengangkat saya ke atas
ontanya dan meletakkan anak saya Salamah dipangkuan saya kemudian
berjalan sambil menuntun onta tersebut lalu beberapa orang dari Bani
al-Mughirah berkata kepada Abu Salamah : Mengapa kami harus mengizinkan
kamu membawa dia (Ummu Salamah) kemudian mereka menuntun onta. Pada saat
itu keluarga Bani Abdul Asad (Keluarga Abu Salamah) marah dan berkata :
Demi Allah kami tidak akan merelakan anak kami salamah bersama dia.
Ummu Salamah berkata : lalu dua kelompok tersebut menarik-narik anak
saya sampai lepas persendian tangannya dan dibawa oleh keluarga ayahnya,
Bani al-Mughirah menahan saya dan Abu Salamah melanjutkan perjalanan ke
Madinah sehingga berpisahlah saya, suami dan anak saya.

Setiap pagi saya keluar dan duduk di al-Bathhaa menangis sampai sore
selama setahun, kemudian seseorang dari sepupu saya yang termasuk Bani
al-Mughirah mengasihani saya dan berkata kepada mereka, mengapa kalian
tidak melepas wanita yang bersedih/menderita ini, kalian memisahkan
antara dia, suami dan anaknya. Mereka berkata, susullah suamimu jika kau
mau. Dan Bani Abdul Asad mengembalikan anakku, aku menaiki onta sesudah
meletakkan anakku dipangkuanku dan berjalan menuju Madinah tanpa ada
yang menemani. Saya bertemu Utsman ibn Abi Thalhah di al-Tan’im dan
berkata : Hendak ke manakah wahai anak Abu Umayyah? Saya menjawab : Saya
ingin menyusul suamiku di Madinah. Dia berkata tidaklah ada yang
menemanimu? Ummu Salamah berkata : tidak, demi Allah, Aku hanya ditemani
Allah dan anakku ini.

Dia berkata Demi Allah kamu tidak boleh ditinggal. Dia menuntun ontaku
dan berjalan, demi Allah saya tidak pernah ditemani oleh orang Arab yang
lebih mulia darinya, ketika berhenti dia menurunkan ontanya lalu
menjauh supaya saya turun, ketika saya turun, dia mengistirahatkan onta
dan mengikatnya dipohon, dan dia beristirahat di tempat yang lebih jauh.
Ketika waktu berangkat tiba dia menyiapkan onta dan menjauh sambil
berkata : “Naiklah”, sehingga jika sudah siap dia datang dan menurunkan
ontanya lagi. Dia melakukan hal ini berkali-kali sampai desa Bani ‘Amr
ibn ‘Auf di Quba’. Dia berkata : Suamimu di desa ini, masuklah dengan
berkah Allah lalu ia pergi ke Makkah.

Perkawinannya dengan Rasulullah SAW

Setelah Abu Salamah meninggal dunia karena bekas luka setelah perang
Uhud, Ummu Salamah berubah status menjadi janda dengan satu orang anak,
yaitu Salamah. Lepas masa iddahnya, Abu Bakar datang melamar, namun
ditolaknya dengan halus. Umar ibn al-Khatthab maju untuk melamarnya,
namun lamaran ini pun ditolak. Mendengar bahwa kedua orang sahabatnya
sudah ditolak, lalu kalau Ummu Salamah hidup sendirian, tentu hal ini
tidak baik untuknya. Sebagai penghargaan kepada mantan suaminya dan juga
dirinya, Rasulullah SAW datang melamarnya. Terjadilah dialog menarik
antara keduanya. Ketika datang lamaran ini, Ummu Salamah berkata terus
terang tentang kondisinya : “Wahai Rasulullah, bukanlah saya tidak mau
menikah denganmu akan tetapi kondisi dan pribadi saya yang seperti ini,
saya pencemburu berat, saya khawatir hal itu akan menjadi dosa buat
saya. Kedua, saya sudah tua. Ketiga, saya punya anak”.

Mendengar penjelasan Ummu Salamah tadi, Rasululah SAW menjawab : “Jika
kamu merasa sudah tua, maka saya lebih tua dari kamu, dan tidak masalah
kalau orang mengatakan bahwa dia menikah dengan orang yang lebih muda
darinya. Jika kamu punya anak yatim, maka itu merupakan tanggungan Allah
dan Rasul-Nya. Jika kamu merasa punya penyakit pencemburu berat, maka
saya akan berdoa kepada Allah semoga hal itu tidak ada lagi.”

Ummu Salamah akhirnya menerima lamaran ini dan terjadilah pernikahan itu
di bulan Syawwal tahun 4 H. waktu itu usia Ummu Salamah sekitar 29
tahun, dan usia Rasulullah SAW sudah 56 tahun. Sekitar 7 tahun rumah
tangga itu dibangun, namun pasangan ini tidak dikaruniai anak.

Kontribusi

Ummu Salamah adalah wanita cerdas dan pejuang hebat. Setelah menjadi
istri Rasulullah SAW, beliau banyak mendampingi baginda. Beberapa
peristiwa yang beliau ikuti :

1. Hudaibiyah di tahun 6 H

2. Fath Makkah tahun 8 H

3. Ghazwah Hawazin dan Tsaqif, tahun 8 H.

4. Ghazwah Khaibar tahun 7 H

5. Blokade Ta’if tahun 8 H

6. Haji Wada’ tahun 10 H.

Dalam bidang Periwayatan, tercatat sebagai berikut :

hadis umu salamah

Wafat

Hampir 7 tahun Ummu Salamah menemani Rasulullah SAW dalam suka dan duka.
Usai Rasulullah SAW wafat, ummu Salamah terus menyebarkan ajaran-ajaran
Islam yang ia terima langsung dari Rasulullah SAW sampai ajal
menjemput. Tahun 59 H. Ummu Salamah meninggal di Madinah. Shalat
Jenazahnya diimami oleh Abu Hurairah ra. Sedangkan jasadnya di makamkan
di Baqi’.

6. Juwairiyah bint al-Harits

Biografi

Juwairiyah adalah nama setelah menikah dengan Rasulullah SAW, sedangkan
nama sebelum menikah dengan Rasulullah SAW adalah Barrah bint al-Harits
ibn Abi Dhirar al-Khuza’iyah al-Mustalaqiyah.

Perempuan ini adalah putri dari pemimpin Bani Mustalaq yang bernama al-Harits ibn Abi Dhirar al-Khuza’i al-Mustalaqi.

Barrah sudah menikah dengan Musafi’ ibn Shafwan al-Mustalaqi. Barrah
kala itu, ketika dia menjadi rampasan perang, berusia 20 tahun,
mempunyai wajah cantik, menarik, membuat siapa yang melihatnya akan
tertarik padanya sebagaimana dikatakan oleh Aisyah ra.

Pernikahannya dengan Rasulullah SAW

Ketika terjadi perang antara kaum muslimin dan Bani Mustalaq yang
dimenangkan oleh kaum muslimin, Barrah merupakan salah satu dari sekian
tawanan yang menjadi al-Sabi. Ketika pembagian rampasan, Barrah menjadi
bagian Tsabit ibn Qays dan sepupunya. Tsabit menyerahkan sebidang kebun
kurmanya untuk sepupunya dan Barrah menjadi miliknya. Kemudian Barrah
menawarkan/meminta untuk dibebaskan, Tsabit menyetujuinya dengan syarat
membayar 9 keping emas. Persyaratan di atas tidak disanggupi oleh
Barrah, beliaupun mengadukannya kepada Rasulullah SAW. Ketika akan
mengadu, Rasulullah SAW berada di rumah Aisyah. Mengetahui bahwa Barrah
akan menemui Rasulullah SAW, Aisyah kurang senang dan khawatir kalau
nanti menjadi madunya.

Ketika Barrah masuk menemui Rasulullah SAW, dia berkata : “Wahai
Rasulullah, saya seorang muslimah, karena saya sudah membaca dua kalimat
syahadat, dan nama saya Barrah bint al-Harits pemimpin kaumnya. Kami
mendapatkan apa yang telah kami dapatkan, lalu saya pun jatuh ke tangan
Tsabit ibn Qays dan sepupunya. Tsabit lalu membebaskan saya dari
sepupunya dengan sebidang kebun kurma, lalu dia berjanji akan
membebaskan saya dengan syarat bayaran yang saya tidak sanggup
membayarnya. Karena itu, saya datang kepadamu untuk minta jalan keluar”.
Rasulullah SAW menjawab : “Apakah kamu mau yang lebih baik dari itu ?”
Barrah menjawab : “Apa itu wahai Rasulullah ?”

Rasulullah SAW menjawab : “Saya bayar hutang kamu dan kamu saya nikahi”.
Barrah tersipu menjawab : “Baik wahai Rasulullah”. Rasulullah SAW
menjawab : “Telah saya lakukan”. Dengan pernyataan ini sudah terjadi
ijab qabul, dan Rasulullah SAW membayarkan harga tebusannya sebesar 9
keping emas sebagai maharnya. Perkawinan ini terjadi pada tahun 4 H.

Hikmah di balik pernikahan

Ada hikmah besar di balik pernikahan Barrah yang diganti namanya menjadi
Juwairiyah oleh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW berharap, karena
Juwairiyah adalah putri pemimpin kaum Bani Mustalaq, maka diharapkan
akan menarik Bani Mustalaq untuk memeluk Islam. Niatan ini berhasil,
ketika Juwairiyah resmi menjadi istri Rasulullah SAW, para sahabat pun
berkomentar tentang Bani Mustalaq yang jadi budak atau jariah mereka
dengan berkata : “Besannya Rasulullah”. Walhasil, sahabat pun banyak
yang memerdekakan mereka. Tidak lama kemudian, bapaknya Juwairiyah dan
kedua kakak/adiknya memeluk Islam. Langkah ini kemudian diikuti oleh
banyak dari kaumnya. Dikisahkan dalam buku sirah, lebih dari seratus
orang Bani Mustalaq masuk Islam, semua ada dibalik hikmah perkawinan
ini.

Wafat

Tidak lama setelah menikah, orang tua Juwairiyah datang menemui Nabi
SAW, dia memprotes posisi putrinya dan minta untuk dibebaskan dan diajak
pulang ke kampungnya. Mendapatkan hal ini, Rasulullah SAW menawarkan
al-Harits untuk membiarkan putri untuk memilih, apakah akan kembali
bersama ayahnya, atau akan tetap bersama Rasululah SAW. Juwairiyah
dipanggil dan diminta untuk memilih. Beliau memilih untuk bersama Allah
dan Rasul-Nya. Juwairiyah meninggal pada tahun 56 H, dalam usia 65
tahun. Hadis-hadis riwayatnya dapat dijumpai dalam al-Kutub al-Sittah
dan kitab-kitab hadis lainnya.

7. Zainab bint Jahsy

Biografi

Beliau adalah Zainab bint Jahsy ibn Ri’ab ibn Ya’mar al-Asadiyah Ibunya
adalah : Umayyah bint Abdul Mutthalib, bibi Rasulullah SAW. Dengan
demikian, Zainab merupakan sepupu Rasulullah SAW. Lahir di Makkah
sekitar 20 SN (sebelum kenabian) atau 33 SH. Nama sebelum Zainab menikah
dengan Rasulullah SAW adalah Barrah.

Pernikahan Pertama

Barrah, nama pertama Zainab, dinikahkan oleh Rasulullah SAW dengan anak
angkatnya, Zayd ibn Haritsah. Pernikahan ini adalah perjodohan yang
diatur oleh Rasulullah SAW. Pada awalnya Zainab melakukan penolakan
karena menurutnya, Zayd tidak setara dengan dirinya. Zayd adalah budak
yang dimerdekakan. Bertampang cendrung tidak tampan. Sedangkan Zainab
mempunyai nasab yang terhormat dan dari keluarga yang terhormat. Namun
Rasulullah SAW melihatnya berbeda. Zayd adalah remaja yang cerdas, gagah
dan ta’at pada agama. Rasulullah SAW mencintainya, bahkan dia dijuluki
sebagai orang yang dicintai Rasulullah SAW. Penolakan ini mendapat
teguran dari Allah dan turunlah ayat :

ayat zaid

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi
perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan
suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan
mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya. Maka
sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. al-Ahzab 33 : 36)


Perceraiannya Dengan Zayd

Karena harus ta’at dengan perintah Rasulullah SAW, pernikahan itu tetap
berlangsung meski Zainab merasa kurang cocok. Perkawinan ini tentu untuk
memperlihatkan prinsip-prinsip dasar Islam, bahwa level seseorang bukan
karena faktor keturunan, atau ketampanan/kecantikan, akan tetapi karena
faktor ketakwaan. Rupanya perkawinan ini tidak membuahkan kebahagiaan,
Zainab tetap belum dapat menghormati Zayd sebagaimana mestinya. Zainab
tetap merasa lebih terhormat dibandingkan dia, dan kesombongan inilah
serta kata-kata Zainab yang kasar membuat Zayd sakit hati dan ingin
menceraikannya. Ketika Zayd mengadukan kepada Rasulullah SAW tentang
kondisi ini, baginda tetap meminta Zayd untuk bersabar dan
mempertahankan rumah tangganya. Tidak bertahan lama, rumah tangga ini
akhirnya sampai pada titik hampanya, dan Zayd pun menceraikan Zainab.

Pernikahannya dengan Rasulullah SAW

Usai masa iddahnya setelah diceraikan Zayd, Rasulullah SAW maju melamar.
Diutuslah Zayd mantan suaminya sendiri untuk datang melamar. Namun
kabar bahagia yang dibawa Zayd tidak membuat hati Zainab luntur, dia
tidak memberi jawaban, dia menunggu berita dari langit. Jika turun wahyu
perintah kepada Rasulullah SAW untuk menikahinya, maka dia akan
melakukannya dengan senang hati, jika tidak maka sepertinya dia tetap
akan diam. Akhirnya turunlah wahyu kepada Rasulullah SAW yang menyangkut
permasalahan ini, surat al-Ahzab ayat 37, yang artinya : Dan
(ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah
melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat
kepadanya : “Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah”,
sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan
menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang
lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zayd telah mengakhiri
keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), kami kawinkan kamu dengan
dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini)
istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah
menyelesaikan keperluannya daripada istrinya, dan adalah ketetapan Allah
itu pasti terjadi.

Kabar turunnya wahyu tadi segera disampaikan kepada Zainab. Ada
perbedaan riwayat tentang siapa yang menyampaikan berita ini kepada
Zainab, ada yang mengatakan al-Basyir, ada juga yang mengatakan Salma
pembantu Rasulullah SAW, ada juga riwayat yang mengatakan bahwa yang
menyampaikannya adalah Zayd ibn Haritsah. Pernikahan kali ini adalah
sangat istimewa, tidak ada wali dan tidak ada saksi. Zainab sering
mengangkat cerita ini sebagai kebanggaannya dengan berkata : Saya adalah
orang yang memiliki wali paling mulia, dan orang yang mempunyai duta
paling mulia, kalian dinikahkan oleh wali kalian, sedangkan aku
dinikahkan oleh Allah dari langit ke tujuh. Pernikahan istimewa ini
terjadi pada bulan Zul Qa’dah tahun 4 H. Usia Zainab kala itu sudah
mencapai 37 tahun.

Hikmah Perkawinan

Ketika tersebar kabar Rasulullah SAW menikahi Zainab yang jelas-jelas
adalah mantan istri anak angkatnya sendiri, rumor negatif tentang
Rasulullah SAW pun beredar dan bersumber dari kaum munafik. Intinya
mempertanyakan pembolehan ini dengan kata-kata : Muhammad telah melarang
untuk menikahi mantan istri anaknya, sedangkan dia sendiri menikahi
mantan istri anaknya. Isu miring ini menyebabkan turunnya ayat ke 40
dari surat al-Ahzab yang artinya :

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara
kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Jadi, Zayd bukanlah anak kandung Rasulullah SAW, akan tetapi anak
angkat. Walhasil, yang diharamkan Islam adalah menikahi mantan istri
anak kandung, bukan anak angkat.

Akhlak Zainab

Sebelum menjadi istri Rasulullah SAW, Zainab dikenal sebagai orang yang
kuat ibadahnya. Setelah menjadi istri Rasulullah SAW kecenderungan
ibadahnya tentu lebih baik lagi. Beliau juga dikenal suka membantu orang
miskin, anak yatim, janda dan kaum dhu’afa lainnya. Bahkan, ketika akan
meninggal, Zainab yang sudah mempersiapkan kain kafannya sendiri
mengetahui bahwa Amirul Mu’minin nanti juga akan mengirimkan kain kafan
untuknya. Karena itu beliau berpesan, satu dari dua kain kafan itu
tolong disedekahkan. Akhlak mulianya Zainab bisa dilihat dari pernyataan
Aisyah berikut ini :

Saya tidak pernah melihat seorang wanita yang lebih baik dari sisi
agamanya dari Zainab, ketakwaanya kepada Allah, kejujuran bicara,
menyambung tali silaturrahmi, dan besarnya ketika bersedekah.

Kontribusi dalam periwayatan Hadis

Sebagai istri Rasulullah SAW Zainab banyak menerima ilmu dari baginda,
kemudian beliau pun menyampaikan dalam bentuk riwayat. Berikut riwayat
beliau yang terekam dalam beberapa kitab hadis :

hadis zainab jahsy

Wafat

Zainab wafat pada tahun 20 H, di zaman Khalifah Umar dalam usia 53
tahun. Beliau merupakan istri Rasulullah SAW yang paling awal wafat
setelah Rasulullah SAW. Sebelum Rasulullah SAW wafat, beliau pernah
mengabarkan kepada para istrinya bahwa orang yang pertama kali
menyusulnya adalah orang yang tangannya paling panjang. Setelah wafatnya
Rasulullah SAW, para istri Nabi sering mengukur adu panjang tangan
mereka dengan menempelkannya di tembok. Setelah Zainab wafat, mereka
tidak lagi melakukannya dan baru memahami bahwa yang dimaksud bukan
kedua tangan yang mereka miliki, akan tetapi makna kiasan, yaitu suka
membantu orang. Umar ibn al-Khatthab mengimami shalat jenazah, lalu
jenazahnya dimakamkan di Baqi’.

8. Zainab bint Khuzaimah

Biografi

Dia adalah Zainab bint Khuzaimah ibn al-Harits ibn Abdullah ibn ‘Amr ibn
Abd Manaf ibn Hilal ibn ‘Amir ibn Sha’sa’ah al-Hilaliyah. Ibunya :
Hindun bint ‘Auf ibn al-Harits ibn Hamatah al-Huamiriyah. Data ini
menunjukkan bahwa ibunya yang bernama Hindun adalah ibu mertua
Rasulullah SAW dari dua orang istri : Zainab dan Maimunah. Zainab dan
Maimunah adalah adik kakak satu ibu lain bapak. Ibu kandung mereka
berdua ini, selain mertua Rasulullah SAW dari dua istri, juga merupakan
merupakan mertua dari Abu Bakar, Ali, Hamzah, Abbas dan Ja’far. Dengan
demikian, sejarah Islam menjulukinya sebagai Ibu Mertua Paling
Terhormat. Zainab lahir sekitar 13 SN, atau 26 SH.

Pernikahan Pertama

Terdapat banyak riwayat yang berbeda mengenai mantan suami Zainab ra.
Ada yang mengatakan pernah menikah sekali, ada juga yang mengatakan
pernah menikah dua kali. Berikut perbandingan riwayat tersebut :


  • Ibn Abd al-Barr dan Ibn Hajar meriwayatkan dari al-Zuhri yang
    mengatakan bahwa suaminya Abdullah ibn Jahsy, beliau syahid di perang
    Badr, lalu Rasulullah SAW menikahinya.
  • Ibn Abd al-Barr, Ibn Sayyid al-Nas, al-Tabari dan Ibn Hajar dalam
    kitab-kitab sejarah mereka menyebutkan bahwa Zainab sebelumnya adalah
    istri dari Thufail ibn al-Harits yang mentalaknya, kemudian Rasulullah
    SAW menikahinya. Ada juga yang mengatakan bahwa setelah Thufail, Zainab
    menikah dulu dengan Adiknya Thufail yang syahid di Badr.
  • Sedangkan Ibn Hisyam meriwayatkan bahwa Zainab sebelumnya adalah
    istri dari Juhmah ibn ‘Amr, cerai lalu menikah dengan ‘Ubaidah ibn
    al-Harits, cerai lalu menikah dengan Rasulullah SAW.

Pernikahannya Dengan Rasulullah SAW

Dengan riwayat tadi dapat diketahui bahwa Zainab adalah janda syuhada’
Badr. Menikah dengan Rasulullah SAW sebagai suami ketiganya. Bertindak
sebagai walinya adalah pamannya yang bernama Qabisah ibn Umar al-Hilali.
Ada juga riwayat yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW langsung
melamarnya dan Zainab menerimanya tanpa wali karena sudah berstatus
janda. Mahar yang dibayarkan Rasulullah SAW sebesar 400 Dirham.
Perkawinan ini terjadi pada bulan Ramadhan tahun 3 H. Namun perkawinan
ini tidak berlangsung lama, belum genap 8 bulan, Zainab meninggal dunia.

Wafat

Zainab dikenal sengat peduli dengan orang miskin, karena itu beliau
dijuluki sebagai Ummul Masakin, ibunya orang-orang miskin. Beliau
meninggal tahun 4 H dalam usia tidak lebih dari 30 tahun. Dimakamkan di
Baqi’, sehingga merupakan istri pertama Rasulullah SAW yang dimakamkan
di Baqi’. Ketika dishalatkan jenazahnya, Rasulullah SAW sendiri yang
menjadi imamnya.

9. Ummu Habibah

Biografi

Ramlah bint Abi Sofyan Shakhr ibn Harb ibn Umayyah al-Qurasyi. Beliau
adalah putri seorang pemuka Quraisy, bahkan pemimpin mereka, yang
sebelum masuk Islam pada beberapa bulan sebelum Fath Makkah, merupakan
musuh terbesar yang terus memusuhi Rasulullah SAW. Ramlah telah memeluk
Islam sejak awal bersama suaminya Ubaidillah ibn Jahsy di Makkah, mereka
kemudian berhijrah ke Habasyah pada tahun 5 H. Disesalkan, suaminya
tadi berpindah agama menjadi Nasrani dan memilih menetap di Habasyah.

Perkawinannya dengan Rasulullah SAW

Ummu Habibah bercerita sewaktu masih di Habasyah menjadi salah satu
muhajirin : “Suatu malam aku bermimpi seolah-olah ada seseorang yang
datang dan berkata : Wahai Ummul Mu’minin. Aku pun menafsirkan itu
sebagai lamaran Rasulullah kepadaku. Tidak lama kemudian, setelah masa
iddah aku selesai – bercerai dari suaminya yang pindah agama menjadi
Nasrani – seorang utusan Raja Najasyi mengetuk pintu meminta izin untuk
mengabarkan bahwa adanya utusan Rasulullah yang melamarku untuk baginda.
Setelah masa iddah selesai, perkawinan pun diadakan, ini terjadi di
tahun 6 H. Sebagai wali / wakil dari pihak perempuan adalah Khalid ibn
Sa’id ibn al-’Ash. Sedangkan dari pihak Rasulullah SAW meski disitu ada
sepupu Rasulullah SAW yaitu Ja’far ibn Abi Thalib, namun al-Najasyi lah
yang menjadi wakil baginda.

Upacara Pernikahan

Upacara pernikahanpun dilaksanakan di kerajaan Najasyi, sedangkan Ummu Habibah menunggu di rumah. Al-Najasyi berpidato :


الحمد لله الملك القدوس السلام المؤمن
المهيمن العزيز الجبار. الحمد لله حق حمده وأشهد أن لا إله إلا الله وأن
محمدا عبده ورسوله. وأنه الذي بشر به عيسى بن مريم عليه الصلاة والسلام.

وأما بعد : فإن رسول الله صلى الله عليه وسلم كتب إلي أن أزوجه أم حبيبة
بنت أبي سفيان. فأجبت إلى ما دعا إليه رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم.


Artinya :

Segala Puji bagi Allah Maha Raja Yang Maha Suci, Yang Maha
Sejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Maha
Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan. Segala Puji
bagi Allah sebaik-baiknya pujian. Dan saya bersaksi bahwa tiada Tuhan
selain Allah dan Muhammad hamba-Nya dan Rasul-Nya. Orang yang diberi
kabar oleh Isa ibn Maryam as. Amma ba’du. Sesungguhnya Rasulullah SAW
menulis kepadaku untuk menikahkannya dengan Ummu Habibah bint Abi
Sofyan. Maka aku memenuhi permintaan Rasulullah SAW.


Khalid menyambutnya dengan berpidato juga :


الحمد لله أحمده وأستعينه وأستنصره وأشهد أن
لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسوله أرسله بالهدى ودين الحق ليظهره على
الدين كله ولو كره المشركون.

أما بعد : فقد أجبت إلى ما دعا إليه رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم وزوجته أم حبيبة بنت أبي سفيان فبارك الله لرسوله.


Al-Najasyi menyerahkan 400 Dinar kepada Ummu Habibah melalui Khalid
sebagai mahar, demikian pula dengan kalung dan cincin yang terbuat dari
perak. Kemudian, makanan pun disediakan dan disantap. al-Najasyi tidak
lupa membagi-bagikan uang kepada rakyatnya.

Kembali ke Madinah

Menjelang kepulangannya ke Madinah, al-Najasyi meminta kepada para
istrinya untuk menghadiahkan Ummu Habibah pelbagai macam wangian yang
mereka miliki. Tahun 7 H. sebagian rombongan Muhajirin Habasyah kembali
ke Madinah. Ummu Habibah adalah salah seorang dari rombongan tersebut
dengan status sudah resmi menjadi istri Rasulullah SAW. Lalu, ketika
masuk malam pertama pasangan suami istri, Rasulullah SAW mencium bau
wangi yang kata Rasulullah SAW, bukan wangian Arab, bukan juga wangian
Badui. Ummu Habibah tersenyum. Wangian yang ia gunakan memang bukan
wangian Arab atau Badui, akan tetapi wangian Afrika, Parfum negeri
Habasyah.

Wafat

Sekitar 4 tahun Ummu Habibah menemani Rasulullah SAW sebagi istri yang
baik, dalam suka maupun duka. Sebelum meninggal beliau memanggil para
Ummul Mu’minin lainnya dan meminta mereka saling meridhai sebagai sesama
istri Rasulullah SAW yang tentunya pernah terjadi gesekan dan
kesalahpahaman. Beliau meninggal tahun 44 H dan dimakamkan di Baqi’.

10. Sofiyyah bint Huyay

Biografi

Beliau adalah Sofiyyah bint Huyay ibn Akhthab ibn Syu’bah ibn Tsa’labah.
Nasabnya sampai ke Nabi Harun, saudara Nabi Musa as. Istri Rasulullah
SAW ini berdarah Yahudi, dari Bani al-Nadhir. Dengan darah
keyahudiannya, beliau suka dicibirkan orang. Melihat dan mendengar
sindiran orang terhadap Sofiyyah, Rasulullah SAW berkata kepadanya :
“Ketahuilah, bahwa kamu adalah anak turunan Nabi dan pamanmu juga Nabi,
bahkan kamu sekarang adalah istrinya Nabi. Jadi dengan apa lagi mereka
bisa berbangga di hadapan kamu ?”

Perkawinannya dengan Rasulullah SAW

Sofiyyah bercerita bahwa ketika di malam pertamanya sewaktu menikah
dengan Kinanah, dia bermimpi melihat adanya bulan di kamarnya. Ketika
hal ini diceritakan kepada suaminya, dia pun dipukul dengan keras sampai
membekas lama, Kinanah berkata : “Tidaklah ini terjadi kecuali karena
kamu memimpikan menjadi istri pemuka Hijaz, Muhammad”. Ketika terjadi
perang antara kaum muslimin dengan penduduk Khaibar yang dimenangkan
oleh kaum muslimin, Sofiyyah merupakan salah satu rampasan perang yang
dijadikan Jariah/budak. Ketika para tawanan perang ini dikumpulkan,
Bilal membawa dua orang dan menemui Rasulullah SAW, satu diantara yang
dibawanya adalah Sofiyyah. Rasulullah SAW memerintahkan kepada Bilal
untuk memberikan kepada Sofiyyah baju tudungnya (rida’) sebagai isyarat
bahwa Rasulullah SAW telah memilihnya.

Rasulullah SAW bertanya kepada Sofiyyah : “Apakah kamu mau dengan aku ?”
Sofiyyah menjawab : “Wahai Rasulullah, dulu aku mengharapkannya ketika
aku masih kafir, bagaimana tidak ketika saya sudah memeluk Islam?”
Rasulullah SAW pun menikahinya dengan maharnya adalah pembebasannya dari
perbudakan.

Walimah Pernikahan

Usai pernikahan yang diadakan ketika Rasulullah SAW masih di luar
Madinah, kabar gembira menyelimuti kota Madinah, walimah pernikahan pun
dipersiapkan. Ketika sampai di daerah al-Shabaa, Rasulullah SAW menyuruh
tentaranya untuk beristirahat. Ibn Ishak menceritakan bahwa Ummu Anas
merias pengantin perempuan Sofiyyah sehingga nampak kecantikannya yang
sangat menawan, bahkan menjadi wanita yang paling cantik. Ketika sampai
di Madinah, walimah pernikahan pun dilaksanakan. Mereka makan makanan
yang dibawa dari Khaibar. Usia Sofiyyah ketika itu baru berusia 17
tahun, sebelumnya beliau pernah menikah dengan Salam ibn Abi Haqiq, dan
kedua kalinya dengan Kinanah ibn Abi Haqiq.

Cerita Malam Pengantin

Malam pengantin Rasulullah SAW dengan Sofiyyah kali ini istimewa. Tanpa
sepengetahuan Rasulullah SAW, Abu Ayyub al-Anshari menjaga rumah
pengantin dengan pedang terhunus. Ketika subuh menjelang tiba,
Rasulullah SAW menyadari bahwa ada orang yang menghunus pedang berdiri
di sekitar rumahnya. Begitu mengetahui bahwa orang yang memegang senjata
itu adalah Abu Ayyub, Rasulullah SAW pun bertanya sebab dia melakukan
hal ini. Abu Ayyub menjawab bahwa semalaman dia menjaga rumah ini karena
khawatir Sofiyyah akan membunuh Rasulullah SAW sebagaimana percobaan
Zainab bint al-Harits yang mencoba membunuh Rasulullah SAW dengan cara
meracuninya. Abu Ayyub khawatir, Sofiyyah yang baru masuk Islam dan
sebelumnya memeluk agama Yahudi, melakukan hal yang sama. Rasulullah SAW
berkomentar : Semoga Allah memberimu rahmat, ya Allah jagalah Abu Ayyub
sebagaimana dia sudah begadang menjagaku.

Hari-hari pertama pernikahan

Ketika sampai di Madinah, sambutan para wanita Madinah terlihat kurang
ramah karena Sofiyyah berasal dari Yahudi. Untuk menghindari kecemburuan
dan lain sebagainya, Sofiyyah tidak ditempatkan di rumah salah satu
istrinya, akan tetapi ditempatkan di salah satu rumah sahabat bernama
Haritsah ibn al-Nu’man. Lalu para istri Rasulullah SAW berkumpul untuk
menemuinya. Ketika waktunya tiba, dengan bercanda Rasulullah SAW
memegang baju Aisyah ra. dan menanyakannya dengan nama panggilan manja :
“Bagaimana kamu melihat wahai syuqaira (wanita berambut pirang)”.
Aisyah berkata : Aku melihat seorang wanita Yahudi.

Rasulullah SAW menjawab : “Janganlah kamu berkata seperti itu, dia sudah
muslimah dan Islamnya pun sudah baik”. Sofiyyah menanggapi sikap
beberapa orang madunya dengan tabah dan sabar, sampai akhirnya dia
menangis di depan Rasulullah SAW karena sering disinggung soal darah
Yahudinya. Baginda menghiburnya dengan mengajarkan jawabannya : “Kenapa
kamu tidak menjawab seperti ini : Bagaimana kalian merasa lebih
terhormat dari aku, sedangkan suamiku Muhammad, Kakekku Harun dan
saudara kakekku Musa”. Jawaban ini sangat melegakan Sofiyyah.

Sifat dan Akhlaq

Sofiyyah yang berdarah Yahudi sering menjadikannya dihina atau
disinggung dan dijelekkan. Satu cerita, seorang budak pembantunya datang
mengadu ke Khalifah Umar ibn Khatthab : Wahai Amir al-Mu’minin,
sesungguhnya Sofiyyah itu menyenangi hari Sabtu dan berhubungan dengan
Yahudi. Mendengar cerita ini, Umar pun menanyakan kebenarannya kepada
Sofiyyah. Beliau menjelaskan dengan berkata : Mengenai hari Sabtu,
sesungguhnya saya tidak lagi mencintainya setelah Allah menggantinya
untuk saya dengan hari Jum’at. Sedangkan Yahudi, saya masih mempunyai
sanak famili dan saya menyambung tali silaturahmi. Setelah itu, Sofiyyah
mendatangi budaknya dan bertanya kenapa dia melakukan hal ini. Budak
itu menjawab seenaknya “Setan”. Sofiyyah lalu berkata : Pergilah! Kamu
merdeka. Tak ada rasa dendam di hatinya, bahkan kejelekan dibalas dengan
kebaikan.

Kontribusi Dalam Periwayatan Hadis

Sebagai istri Rasulullah SAW, Sofiyyah banyak menerima ilmu dari
baginda, kemudian beliau pun menyampaikannya dalam bentuk riwayat.
Berikut riwayat beliau yang terekam dalam beberapa kitab hadis

hadis sofiyyah

Wafat

Sofiyyah wafat di zaman khalifah Mu’awiyah, persisnya tahun 50 H. Beliau
dimakamkan di Baqi’ bersebelahan dengan makam para Ummul Mu’minin.
Hadis-hadis riwayatnya termuat dalam Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim dan
kitab-kitab hadis lainnya.

11. Maimunah bint al-Harits

Biografi

Maimunah, nama awalnya adalah Barrah bint al-Harits ibn Hazn ibn Buhayr,
ibn Hazm, ibn Rabi’ah ibn Abdillah, ibn Hilal ibn ‘Amir, ibn Sha’sha’ah
al-Hilaliyah.

Saudara kandungnya :

• Ummu al-Fadhl, Lubabah al-Kubra, istri Abbas ibn Abdul Mutthalib.
Wanita kedua masuk Islam setelah Khadijah, dan wanita yang berani dan
pernah menampar wajah Abu Lahab karena terlalu memusuhi Nabi dan Islam.

Saudara seibunya :

• Zainab bint Khuzaimah al-Hilaliyah, Ummul Mu’minin.

• Asma bint ‘Umays, istri Ja’far ibn Abi Thalib, lalu Abu Bakar, lalu Ali ibn Abi Thalib.

• Salma bint ‘Umays, istri Hamzah ibn Abdul Mutthalib.

Ibu Mereka semua adalah : Hind bint ‘Auf ibn Zuhayr ibn al-Harits.
Beliau merupakan ibu yang paling terhormat di dunia, karena mempunyai 6
orang menantu besar : Rasulullah SAW, Abu Bakar al-Siddiq, kemudian Ali
dan Ja’far keduanya putra Abi Thalib, lalu Hamzah dan Abbas keduanya
putra Abdul Mutthalib.

Pernikahannya dengan Rasulullah SAW

Barrah bint al-Harits pernah menikah dengan Abi Rahm ibn Abd al-’Uzza
al-’Amiry. Suami pertamanya ini meninggal sedangkan usia Barrah kala itu
masih 26 tahun. Tahun 7 H, Rasulullah SAW bersama seribuan umat Islam
pergi ke Makkah untuk melakukan umrah. Berdasarkan perjanjian
Hudaibiyah, kaum muslimin diizinkan untuk masuk Makkah 3 hari lamanya.
Kedatangan Rasulullah SAW bersama sekian banyak umat Islam, tentu
mengambil perhatian penduduk Makkah, termasuk kaum perempuannya. Satu
dari mereka yang selalu memperhatikan Rasulullah SAW adalah Barrah bint
al-Harits. Barrah yang sudah masuk Islam, berkeinginan, berharap,
berhayal dan bermimpi ingin menjadi istri Rasulullah SAW. Harapannya ini
disampaikan kepada kakak kandungnya, Ummu al-Fadhl, istri Abbas ibn
Abdul Mutthalib. Ummu al-Fadhl menceritakan maksud dan keinginan
keponakannya kepada sang suami, Abbas menyambungkan maksud ini kepada
keponakannya, Muhammad Rasulullah SAW. Gayung bersambut Rasulullah SAW
menerima tawaran ini.

Mahar Perkawinan

Perkawinan terakhir Rasulullah SAW ini merupakan pernikahan yang
mempunyai ciri tersendiri dan tidak pernah terjadi sebelum dan
sesudahnya. Ayat al-Qur’an turun untuk menjelaskan (QS. al-Ahzab 33 :
50) :

al ahzab mahar


Hai Nabi, Sesungguhnya kami Telah
menghalalkan bagimu istri- istrimu yang Telah kamu berikan mas kawinnya
dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh
dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula)
anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan
dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara
laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu
yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mu’minah yang menyerahkan
dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan
bagimu, bukan untuk semua orang mu’min. Sesungguhnya kami Telah
mengetahui apa yang kami wajibkan kepada mereka tentang istri-istri
mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi
kesempitan bagimu. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


Dari ayat tersebut dan kondisi yang berbeda, yaitu perempuan yang
datang kepada Rasulullah SAW untuk dinikahi, maka tidak ada mahar yang
harus dibayarkan suami.

Walimah Perkawinan

Rasulullah SAW bermaksud untuk mengadakan walimah, namun karena waktu
yang diizinkan 3 hari berada di Makkah sudah habis, kaum musyrikin
meminta beliau dan rombongan keluar meninggalkan kota Makkah. Rasululah
SAW meminta izin untuk bisa diperpanjang waktunya satu hari, namun tetap
tidak diizinkan dan rombongan diminta keluar pada hari itu juga.
Walhasil, Rasulullah SAW keluar meninggalkan kota Makkah dan meminta
salah seorang pembantunya yang bernama Abu Rafi’ untuk menemani
pengantin menyusul pada esok hari. Rasulullah SAW menunggu pengantin di
luar kota Makkah, persisnya di Sarof, dekat dengan Tan’im, atau sekitar 5
km dari masjid al-Haram. Ketika pengantin putri datang, walimah
perkawinan pun diadakan, makan-makan disajikan dan ummat Islam gembira
dengan peristiwa ini.

Masa di Madinah

Sejarah tidak meriwayatkan tentang perselisihan atau pertengkaran antara
Maimunah dan para Ummul Mu’minin yang lain. Ketika Rasulullah SAW sakit
menjelang wafat, beliau ada di rumah Maimunah. Dengan kerelaan hati
Maimunah mengizinkan supaya Rasulullah SAW dirawat di rumah Aisyah.

Kontribusi Dalam Riwayat Hadis

Sebagai istri Rasulullah SAW Maimunah banyak menerima ilmu dari baginda,
kemudian beliau pun menyampaikan dalam bentuk riwayat. Berikut riwayat
beliau yang terekam dalam beberapa kitab hadis


hadis maimunah


Wafat

Sepeninggal Rasulullah SAW, Maimunah tinggal di Madinah menghabiskan
sisa hidupnya dengan tekun beribadah dan terus menyebarkan ajaran agama
Islam yang diketahuinya langsung dari Rasulullah SAW. 40 tahun setelah
wafatnya Rasulullah SAW, Maimunah pun wafat, persis di tahun 51 H, dalam
usia 80 tahun. Sebelum meninggal beliau berwasiat, agar jasadnya
dimakamkan di tempat malam pengantinnya bersama Rasulullah SAW, yaitu di
Sarof, pinggir kota Makkah. Setelah dishalatkan dengan imam Ibn Abbas,
jenazah ini dimakamkan di tempat yang diwasiatkan.


Dua Hamba sahaya:

1. Maria al-Qibthiyah

Biografi

Maria al-Qibtiyah bint Syam’un, berasal dari daerah Ansena, Asyuth,
Mesir. Lahir dengan bapak seorang Qibthi dan ibu Kristen Romawi. Maria
mempunyai wajah yang cantik, begitu juga adiknya yang bernama Sirin.
Karena itu, dia dan adiknya dijadikan selir oleh Raja Muqawqis.

Kisah Pertemuannya dengan Rasulullah SAW

Kisah pertemuan Maria dengan Rasulullah SAW ketika Rasulullah SAW
mengutus Hathib ibn Abi Balta’ah ke Mesir untuk membawa surat untuk
Muqawqis, raja/penguasa Qibth. Surat itu berisi ajakan yang disampaikan
oleh Rasulullah SAW kepada Muqawqis untuk memeluk Islam. Ketika akan
pulang, Hathib dititipi hadiah untuk disampaikan kepada Rasulullah SAW,
antara lain : dua budak wanita yang sangat disegani di Qibth, pakaian,
emas, madu dan kuda. Kedua budak tadi adalah Maria dan Sirin. Maria
diambil oleh Rasulullah SAW, sedangkan Sirin diberikan kepada Hassan ibn
Tsabit. Hathib berangkat ke Mesir pada bulan Dzulhijjah 6 H dan beliau
berada di kota Qibth selama 5 hari. Dengan perjalanan yang memerlukan
waktu lebih dari satu bulan, maka Maria menjadi budak Rasulullah SAW
terjadi di awal tahun 7 H.

Cerita Rumah

Maria al-Qibtiyah selain cantik, juga menarik, ramah dan baik. Sifat
seperti ini membuat orang lain senang terhadapnya, termasuk Rasulullah
SAW. Ketika bersama Rasulullah SAW, Maria sudah memeluk Islam, meski
statusnya sebagai budak, namun dia tetap menutup wajahnya dengan cadar
sebagaimana para Ummul Mu’minin lainnya. Aisyah termasuk orang yang
cemburu dengan Maria, karena Rasulullah SAW sering mampir ke tempat
Maria dan berlama-lama di sana. Maria ditempatkan di rumah al-Harits ibn
Nu’man yang berada di sekitar masjid. Mengetahui kecemburuan Aisyah dan
istri-istri lainnya kepada Maria, Rasulullah SAW memindahkan rumah
Maria ke daerah yang lebih jauh, sekitar 2 km dari masjid. Kecemburuan
itu semakin menjadi ketika tersebar berita bahwa Maria hamil, hal yang
selalu diidam-idamkan oleh semua istri-istri Rasulullah SAW. Untuk
menjaga Maria dan membantu keperluan persalinan, selain terdapat adiknya
Sirin, Rasulullah SAW menyuruh Salma dan Abu Rafi’, pengasuh Hasan dan
Husen, untuk membantu Maria.

Anak Rasulullah SAW dari Maria

Melalui Maria al-Qibthiyah, Rasulullah SAW dikaruniai anak yang diberi
nama Ibrahim. Ibrahim lahir pada bulan Dzulhijjah tahun 8 H. Kelahiran
Ibrahim tentu disambut gembira oleh Rasulullah SAW, namun isu miring
tetap tertiup, isu yang meragukan bahwa Ibrahim adalah anak kandung
Rasulullah SAW. Keraguan itu hilang ketika Jibril datang dan menyapa
Rasulullah SAW dengan : Assalamu’alaika ya Aba Ibrahim (wahai bapaknya
Ibarahim). Nabi SAW sangat gembira dengan kelahiran anak bungsunya ini.
Pada hari ke 7 kelahiran Ibrahim, Nabi SAW melaksanakan beberapa
sunnahnya. Pertama memberi anaknya nama, yaitu Ibrahim. Kedua, mencukur
gundul rambutnya lalu menimbangnya dan bersedekah dengan perak sejumlah
timbangan rambutnya tadi. Rambutnya tadi kemudian ditanam. Ibrahim lalu
diserahkan kepada Ummu Sayf untuk disusukan sebagaimana umumnya orang
Arab pada waktu itu. Ibrahim tidak berumur panjang, 16 bulan 8 hari
setelah kelahirannya, beliau wafat.

Wafat

Setelah meninggalnya Rasulullah SAW, Maria hidup lebih menyendiri lagi,
sampai-sampai tidak ada yang menemuinya kecuali adiknya Sirin, atau
beliau ziarah ke makam Rasulullah SAW atau makam anaknya Ibrahim di
Baqi’. Maria meninggal pada tahun 16 H dan dimakamkan di Baqi’.

2. Raihanah bint Zayd

Biografi

Raihanah bint Zayd ibn ‘Amr ibn Khunafah. Wanita berparas sangat cantik
berdarah Yahudi ini adalah salah satu dari mereka yang ditawan sebagai
rampasan perang ketika terjadi perang dengan Bani al-Nadzir pada tahun 6
H. Ketika masih di kampung Bani al-Nadhir, Raihanah adalah istri dari
al-Hakam.

Pernikahan

Terjadi perselisihan riwayat tentang status Raihanah. Ada yang
mengatakannya sebagai budak, ada yang menyatakannya sebagai istri karena
Rasulullah SAW sudah memerdekakannya lalu menikahinya dengan mahar 12
Uqiah (emas/perak). Cerita di awal dia ditawan, Rasulullah SAW
memilihnya untuk menjadi budaknya. Ketika menjadi miliknya (Amah/budak
perempuan), beliau memintanya untuk masuk Islam baru kemudian digauli.
Namun Raihanah enggan dan tetap memilih agama Yahudi. Rasulullah SAW
mengutus Ibn Sa’iyyah untuk mengajarkan prinsip-prinsip Islam dan
keutamaan jika dia menjadi istri Rasulullah SAW. Tidak terlalu lama,
pintu hidayah terbuka dan Raihanah menyatakan keislamannya. Rasulullah
SAW mendatanginya dan menawarkannya dua pilihan, dibebaskan kemudian
dinikahi, atau tetap menjadi budak dan milik Rasulullah SAW. Ternyata
Raihanah memilih yang ringan untuk dirinya dan untuk Rasulullah SAW,
yaitu tetap menjadi budaknya Rasulullah SAW.

Wafat

Setelah kepergian Rasulullah SAW, Raihanah memilih untuk I’tizal dan
Zuhd (hidup menyendiri dan jauh dari pergaulan dengan masyarakat). Jadi,
tidak diketahui tahun berapa beliau meninggal. Ada juga riwayat yang
mengatakan bahwa beliau meninggal setelah haji wada’ (10 H) dan
dimakamkan di Baqi’.

Istri Rasulullah SAW yang meninggal sebelum baginda wafat:


  • Khadijah, meninggal tahun 3 SH.
  • Zainab bint Khuzaimah, meninggal tahun 3 H.

Ringkasan Tahun Perkawinan

ringkasan

 Putra-putri Rasulullah SAW

Jumlah putra dan putri Rasulullah SAW adalah 7 orang, 3 orang putra dan 4
orang putri. Sedangkan ibu dari putra dan putri baginda adalah Khadijah
dengan 6 anak dan dari Maria Qibthiyah seorang putra yang bernama
Ibrahim. Dengan demikian, Putra dan Putri Rasulullah SAW secara
berurutan berdasarkan kelahiran adalah sebagai berikut :

1. al-Qasim

2. Zainab

3. Ruqayyah

4. Ummu Kultsum

5. Fatimah

6. Abdullah

7. Ibrahim

Biografi putra-putri Rasulullah saw :

1. al-Qasim

Al-Qasim adalah putra pertama dari pasangan Muhammad dan Khadijah.
Beliau lahir di Makkah dan wafat di Makkah sebelum Muhammad diangkat
sebagai Nabi. Lahir sekitar tahun 13 sebelum kenabian, Namun usia beliau
hanya sekitar 7 hari saja. Dalam riwayat lain, al-Qasim meninggal
ketika sudah mampu berjalan, dan dalam riwayat lain, sudah dapat
menunggang binatang. Karena itu, disepakati oleh para ulama bahwa
al-Qasim bukan seorang sahabat. Namun demikian, karena usianya masih
sangat kecil, beliau dapat dinyatakan wafat dalam keadaan fitrah.

2. Zainab

Putri pertama pasangan Muhammad dan Khadijah, lahir di Makkah, sekitar
satu tahun setelah kelahiran kakaknya al-Qasim. Putri pertama Rasulullah
SAW ini tumbuh dibawah kasih sayang dan didikan terbaik yang diberikan
seorang bapak dan ibu kepada anak mereka. Zainab, seorang putri yang
selain diakui kecantikannya dan mempunyai wajah yang mirip dengan
ibunya, beliau dikenal juga sebagai seorang perempuan yang teguh, tegar
dan penyabar. Seorang wanita yang memiliki cinta sejati. Zainab dengan
didikan orang tuanya, memiliki keimanan yang kuat, ketabahan yang jarang
ditemukan dalam kebanyakan wanita, kesabaran yang luar biasa. Ketabahan
dan keteguhannya dapat terlihat jelas dalam biografi perjalanannya yang
penuh dengan ujian dan cobaan.

Kehidupan Rumah Tangga

Zainab mempunyai latar belakang sempurna, anak Muhammad ibn Abdillah
yang terkenal dengan kejujuran dan kebaikannya. Ibunya Khadijah,
perempuan kaya, baik, dan sangat dihormati kaumnya. Menikah dengan Abu
al-’Ash ibn al-Rabi’, salah seroang pemuka Quraisy yang berprofesi
sebagai pedagang yang sukses, nasab keduanya bertemu dari jalur ibunya,
sebab ibu Abu al-’Ash, yaitu Halah bint Khuwailid adalah saudara kandung
Khadijah. Pernikahan tersebut terjadi sebelum Muhammad diangkat menjadi
Rasul. Jika demikian adanya, maka kemungkinan usia Zainab kala itu
adalah, antara 10 sampai 13 tahun.

Anak-anak mereka

Pasangan ini dikaruniai dua orang anak, seorang putra dan seorang putri :
Ali ibn Abi al-’Ash dan Umamah bint Abi al-’Ash. Keduanya lahir di
Makkah. Umamah sempat disunting Ali dan menjadi istrinya setelah
wafatnya Fatimah bint Muhammad.

Ujian Rumah Tangga

Dua pasangan Zainab dan Abu al-’Ash merupakan pasangan ideal yang
membangun rumah tangganya berdasarkan cinta. Meski perjodohan mereka
adalah perjodohan keluarga, namun setelah mereka menjadi suami istri,
mereka saling mencintai dan menyayangi. Ujian rumah tangga mereka datang
setelah Rasulallah SAW mendapatkan wahyu serta menyebarkan ajaran agama
baru, Islam. Zainab sebagaimana adik-adiknya yang lain, mengimani
ajaran yang dibawa oleh ayahnya, mereka menjadi orang-orang mu’minah
pertama. Sayangnya, Abu al-’Ash sang suami, tidak mau menerima dan
mempercayai Islam, bahkan memusuhi Rasulullah SAW dan Islam dengan
sangat keras.

Hijrahnya Zainab

Semasa Rasulullah SAW di Makkah, Zainab yang sudah memeluk Islam, namun
masih bersuami kafir. Zainab berusaha untuk mengajak suaminya memeluk
Islam namun selalu ditolak, hanya karena keduanya saling mencintai,
pasangan ini masih terus bertahan dalam satu rumah tangga. Ketika hampir
semua umat Islam berhijrah ke Madinah, termasuk Rasulullah SAW, Zainab
masih tetap di Makkah, hal ini tentu membuat masalah dan pikiran
tersendiri buat keduanya. Rasulullah SAW membolehkan putrinya ini tetap
di Makkah mengikuti suaminya. Selang dua tahun setelah Rasulullah SAW
berhijrah, terjadilah perang Badr. Seribu musyrikin Quraisy datang
menyerang, salah satu dari mereka adalah Abu al-’Ash.

Allah SWT menentukan bahwa peperangan itu dimenangkan oleh kaum
muslimin, puluhan orang musyrikin Makkah tewas, dan puluhan lagi
ditawan, salah satu dari mereka adalah Abu al-’Ash, menantu Rasulullah
SAW. Kejadian ini tentu membuat gelisah Zainab, antara keimanan dan
cinta dan ta’at kepada suami berbenturan. Zainab ingin menebus kebebasan
Abu al-’Ash dengan harta yang memang banyak dimilikinya. Bersama
tebusan yang dikirim oleh penduduk Makkah, Zainab juga mengirim harta
tebusan untuk membebasakan suami tercinta, diselipkan diantaranya kalung
ibunya Khadijah, yang dihadiahkan pada hari pernikahannya. Melihat
kalung Khadijah, Rasulullah SAW sedih luar biasa, beliau pun menyerukan
kepada para sahabatnya : Jika kalian berpendapat bahwa kalian bisa
membebaskan tawanannya, dan mengembalikan hartanya, maka lakukanlah.
Para sahabat menjawab : Tentu wahai Rasulullah SAW. Abu al-‘Ash
dibebaskan dengan syarat, Zainab dibiarkan berhijrah ke Madinah oleh
suaminya.

Cobaan Hijrah

Dalam rangka mempersiapkan kehijrahan Zainab, setelah membebaskan
suaminya, Rasulullah SAW mengutus Zayd ibn Haritsah dan seorang Anshar
untuk menjemput putrinya seraya berkata : “Kalian berdua tunggulah di
lembah Ya’jaj (+ 11 km dari Makkah) sampai Zainab lewat, jika dia sudah
lewat, kalian temani dia sampai ke sisiku”. Abu al-’Ash tiba di Makkah
dengan hartanya dan disambut meriah oleh penduduk Makkah. Setelah
bertawaf, dia kembali ke rumah untuk menemui istri tercinta, Zainab.
Setelah melepas rindu, dia pun ingat akan janji yang diucapkannya kepada
Muhammad SAW, lalu dia berkata : wahai Zainab, bersiap-siaplah untuk
menyusul ayahmu. Islam sudah menceraikan aku dengan kamu. Abu al-’Ash
harus menepati janji karena dia dikenal selama ini sebagai orang yang
amanah. Rasulullah SAW tahu akan hal ini dan yakin bahwa barter menantu
dengan anak akan terjadi, karenanya beliau mengutus dua orang untuk
menjemput putrinya.

Zainab sedih dengan perpisahan ini, namun keimanannya membawa lisannya
berkata : “Aku dengar dan aku ta’ati Allah dan Rasul-Nya”. Ketika Zainab
sedang bersiap-siap untuk hijrah, datanglah Hindun bint ‘Utbah seraya
berkata : “Aku mendapatkan berita bahwa kamu wahai putri Muhammad, akan
menyusul ayahmu”. Zainab menjawab : “Aku tidak menginginkannya”. Hindun
berkata lagi : “Wahai putri paman, pergilah, jika kamu memerlukan
sesuatu untuk sampai ke ayahmu, baik harta maupun tunggangan, saya punya
itu, jangan malu untuk memintanya”. Zainab merasa bahwa Hindun sudah
jujur, namun dia takut dan khawatir, karena itu dia tetap menyembunyikan
maksud hijrahnya ini.

Setelah semua siap, kakak iparnya yang bernama Kinanah ibn al-Rabi’
memberinya onta. Mereka berdua meninggalkan kota Makkah di siang hari
dengan disaksikan banyak orang. Berita kepergian Zainab dari Makkah
akhirnya tersebar, banyak dari mereka tidak rela anak dari Muhammad yang
telah membunuh keluarga mereka di Badr, meninggalkan kota dengan
leluasanya. Mereka pun mengejarnya. Zainab pun terkejar di daerah Dzi
Thua, dan orang yang pertama berhasil mengejarnya adalah Habbar ibn
al-Aswad ibn Abdul Mutthalib dan Nafi’ ibn Abd al-Qays. Habbar
menakut-nakutinya dengan tombak, sedangkan Zainab yang saat itu sedang
hamil hingga beliau keguguran. Lalu kakak iparnya, Kinanah, menghadang
mereka dan dia berteriak : “Aku bersumpah demi Allah, jika ada yang
berani mendekat, aku akan memanahnya”.

Abu Sofyan datang melerai seraya berkata : Kamu kurang arif dan kurang
tepat, kamu keluar bersama iparmu secara terang-terangan di muka halayak
ramai, sedangkan kamu tahu apa yang sedang menimpa kami, dan apa yang
disebabkan oleh Muhammad bapaknya ipar kamu ini terhadap kami. Kelakuan
kamu seperti itu merupakan penambah kepedihan kami. Demi Tuhan, kami
tidak berhasrat untuk menawan perempuan ini dari kembali ke bapaknya.
Karena itu kembalilah ke Makkah, lalu pergilah dan tinggalkan Makkah
setelah hal ini reda dan pergi secara sembunyi-sembunyi. Zainab kembali
ke rumah suaminya dan pingsan setibanya disana akibat dari darah yang
keluar dari badannya (beliau hamil dan keguguran karena peristiwa di
atas). Selang beberapa hari, setelah pulih dan lebih sehat, beliau
mempersiapkan diri untuk berhijrah ke Madinah. Kali ini dilakukan secara
sembunyi-sembunyi, diantar oleh iparnya Kinanah ibn al-Rabi’ sampai ke
Dzi Thua. Di situ sudah menunggu Zayd ibn Haritsah dan seorang Anshar
yan akan membawa Zainab ke Madinah.

Zainab tiba di Madinah

Kedatangan Zainab disambut haru oleh seluruh penduduk Madinah.
Rasulullah SAW menyambut putrinya tercinta dengan berbagai perasaan,
gembira, sedih bercampur marah. Ketiga adik-adiknya sedih, meski
bercampur sedih dan marah, mereka menyambut kakaknya yang sudah lebih
dari dua tahun tidak pernah mereka jumpai. Zainab meski sudah berpisah
dari suaminya Abu al-’Ash, namun benih-benih cinta masih bersemi di
hatinya. Dia terus berdoa semoga cahaya Islam dapat menerangi hati
suaminya. Zainab tinggal bersama ayahnya Rasulullah SAW. Dia tetap
menjanda, menjaga kedua anaknya Ali dan Umamah.

Suaminya masuk Islam

Tahun 7 H, terdengar dan sampai berita ini ke telinga Zainab bahwa
mantan suaminya Abu al-’Ash sudah memeluk Islam dan akan berhijrah ke
Madinah. Doanya terkabul, harapannya menjadi kenyataan. Menjelang
ketibaan sang suami, Zainab sabar menanti sampai hari kedatangan itu.
Dia terus berteriak Allahu Akbar, di rumah dan di masjid, sampai
penduduk Madinah ikut berteriak Allahu Akbar. Ketika Abu al-’Ash
benar-benar tiba, Zainab menyambutnya seraya berkata : “Selamat Datang
wahai putra bibiku dan bapaknya Ali dan Umamah”. Zainab tidak
memanggilnya dengan sebutan suamiku, karena mereka sudah berpisah.

Zainab pun berkata lagi : “Wahai manusia sekalian, saya sudah melindungi
Abu al-’Ash”. Teriakan Zainab terdengar kemana-mana dan sampai juga ke
telinga Rasulullah SAW. Seusai shalat, baginda bertanya kepada para
sahabat : “Apakah kalian mendengar apa yang aku dengar?” Mereka menjawab
: “Ya”. Rasulullah SAW bersabda : “Saya belum pernah mendengarnya
sebelum kalian juga mendengarnya. Dan sesungguhnya seorang Muslim dari
kalangan mana pun dapat melindungi siapa pun. Maka kami sudah melindungi
siapa yang dia (Zainab) lindungi”.

Perkawinannya kembali

Zainab dan Abu al-’Ash sudah berpisah dan bercerai karena perbedaan
agama. Meski keduanya saling mencintai, namun perbedaan keyakinan
memisahkan mereka. Sebelumnya ketika masih di Makkah, syariat Islam
belum lagi sempurna, hukum nikah belum lagi sempurna. Seorang muslimah
masih diperbolehkan untuk bersuamikan non muslim. Akan tetapi di periode
Madinah, sejalan dengan waktu, muslimah tidak lagi diperkenankan
bersuamikan non muslim. Setelah Abu al-‘Ash memeluk Islam dan berhijrah
ke Madinah, alasan untuk memisahkan mereka sudah tidak ada lagi. Zainab
masih menjanda dan Abu al-’Ash sudah menjadi seorang muslim. Selang
beberapa waktu (minggu atau bulan), sejak kedatangan Abu al-’Ash di
Madinah, Rasulullah SAW akhirnya mempersatukan kembali anak dan mantan
menantunya dalam tali perkawinan kembali. Ada yang mengatakan, mereka
disatukan dengan tali perkawinan baru, ada juga yang mengatakan dengan
tali perkawinan yang lama. Wallahu a’lam. (penulis cenderung menguatkan
tali perkawinan baru).

Bekas luka ketika peristiwa hijrah masih menyisakan sakit di tubuh
Zainab. Meski kesedihannya sudah hilang dengan nikmat dan anugrah yang
telah Allah SWT berikan antara lain :

 


  • Kembali berkumpul bersama ayah dan adik-adiknya serta kaum muslimin lainnya.
  • Suaminya sudah memeluk Islam.
  • Suaminya sudah berhijrah.
  • Dia kembali disatukan dalam tali perkawinan dengan suami tercintanya.

Wafat

Tepat pada tahun 8 H beliau dipanggil keharibaan Allah SWT sang
pencipta. Rasulullah SAW mengimami shalat jenazahnya dan menguburkannya
di Baqi’. Radiallahu ‘anha Wa Ja’ala al-Jannata Matswaha.

3. Ruqayyah

Putri kedua Rasulullah SAW dari istrinya Khadijah. Lahir di Makkah
sekitar 11- 10 SN (Sebelum Kenabian). Hidup dengan penuh kasih sayang
dan bimbingan yang baik dari kedua orang tuanya. Sering diidentikkan
kembar dengan adiknya Ummu Kultsum padahal bukan kembar, hanya karena
berwajah mirip dan selalu bermain bersama, maka banyak orang yang
menyangka bahwa keduanya adalah saudara kembar.

Perkawinan

Ketika sudah menginjak remaja, dia selalu bermain bersama adiknya Ummu
Kultsum, bahkan diceritakan bahwa keduanya seperti anak kembar. Karena
kakaknya sudah diambil (menikah) dengan keluarga dari pihak ibu, maka
keluarga dari pihak ayah menginginkan agar dua putri ini, Ruqayah dan
Ummi Kultsum, menikah dengan keluarga ayah. Abu Thalib datang kepada
Muhammad menyampaikan hasrat tersebut. Muhammad dan Khadijah menyetujui
usulan dan pinangan ini. Dua dara pun menyetujui persetujuan bapak dan
ibunya. Dinikahkanlah secara bersamaan kedua putrinya ini : Ruqayyah
dengan ‘Utbah ibn Abi Lahab dan Ummu Kultsum dengan ‘Utaybah ibn Abi
Lahab.

Kakak beradik menikah dengan kakak beradik, kakak dengan kakak dan adik
dengan adik. Dengan demikian Muhammad ibn Abdillah berbesan dengan Abu
Lahab. Namun, belum lagi kedua atau keempatnya tinggal dalam rumah
tangga, hidup bagaimana layaknya sepasang suami istri, tiba-tiba
Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasul Allah. Beliau menyampaikan dan
menyebarkan ajaran agama baru, Islam.

Perceraian

Abu Lahab tidak menerima ajaran baru, Islam yang dibawa oleh besan dan
juga keponakannya, Muhammad. Bukan hanya menolak, Abu Lahab dan
istrinya, Ummu Jamil, memusuhi agama baru ini sekaligus Nabi pembawa
ajarannya. Setelah permusuhan ini semakin membesar, para pemuka Quraisy
berkumpul dan meminta kepada tiga menantu Muhammad untuk menceraikan
istri-istri mereka dan mempersilahkan ketiganya untuk mencari wanita
lain yang mereka kehendaki.

Abu al-‘Ash menolak tawaran ini dan tetap mempertahankan Zainab bint
Muhammad sebagai istrinya. ‘Utbah dan ‘Utaybah memenuhi permintaan ini
dan langsung menceraikan masing-masing istrinya : Ruqayyah dan Ummu
Kultsum yang belum lagi digauli karena masih belum tinggal serumah.
Tidak cukup disitu, kedua anak Abu Lahab ini menyertai cerainya dengan
hinaan dan cacian terhadap istri dan mertua mereka. Rasulullah SAW
menerima dan bersyukur atas perceraian ini, namun marah atas cacian dan
penghinaan yang dilontarkan kedua menantunya.

Perkawinan kedua

Terlepas dari ikatan perkawinannya dengan ‘Utbah, Ruqayyah pun menjadi
janda kembang (janda yang masih perawan). Utsman ibn ‘Affan, seorang
pemuda Quraisy yang pandai dan kaya, datang melamar. Utsman merupakan
sedikit dari pemuda Quraisy yang sudah memeluk Islam. Rasulullah SAW
setuju dengan lamaran ini dan diadakanlah pesta perkawinan yang meriah.
Perkawinan ini terjadi pada tahun-tahun awal Kenabian.

Perjuangan

Tidak lama setelah Ruqayyah dan Utsman menikah, kondisi kaum Muslimin di
Makkah semakin terhimpit. Penghinaan, penzaliman dan penyiksaan semakin
kerap. Melihat kondisi ini, Rasulullah SAW memerintahkan
sahabat-sahabatnya untuk berhijrah ke Habasyah. Beliau bersabda :
“Kalaulah kalian pergi ke Habasyah, di sana ada Raja yang baik dan tidak
seorang pun yang dizalimi. Kerajaan itu kerajaan yang jujur, tetaplah
di sana sampai Allah memberi kita jalan keluar”. Diantara mereka yang
hijrah untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam adalah Utsman ibn
‘Affan dan istrinya Ruqayyah. Sepasang pengantin baru ini merupakan
keluarga yang ikut berhijrah, dan Utsman ibn ‘Affan adalah orang yang
pertama mengajak keluarganya berhijrah.

Hijrah pertama ini diikuti oleh 12 orang laki-laki dan 4 orang
perempuan. Selama berada di Habasyah ini, pasangan Utsman dan Ruqayyah
dianugrahi seorang anak yang diberi nama : Abdullah ibn Utsman. Setelah
keadaan kota Makkah semakin membaik, mereka pun kembali, tidak lagi 16
orang, namun sudah ditambah dengan seorang bayi yang merupakan cucu
pertama Rasulullah SAW dan putra pertama pasangan Utsman dan Ruqayyah.

Perjuangan selanjutnya

Sekembalinya dari negeri Habasyah, kondisi umat Islam tidaklah terlalu
aman sampai akhirnya mereka harus kembali berhijrah. Saatnya tiba,
pasangan suami istri dan anak semata wayangnya ikut berhijrah untuk
kedua kalinya, ke kota Yatsrib. Meski tidaklah sejauh dan sesulit
perjalanan ke Habasyah, namun hijrah ke Yatsrib juga merupakan
perjuangan berat yang dilakukan oleh kaum muslimin yang masuk Islam di
Makkah. Karena itu, wajar jika mereka, tanpa kecuali mendapat pujian
dari Allah dan Rasul-Nya, termasuk di dalamnya adalah keempat putri
Rasulullah SAW. Madinah adalah tempat yang menyenangkan buat keluarga
ini, selain bisa melaksanakan ajaran agama dengan mudah dan bebas, tanpa
intimidasi, keluarga ini dapat hidup rukun dan damai. Ayah, ibu dan
anak serta mertua ada di kota yang sama, dan sama-sama menikmati
kebebasan hidup.

Wafat

Tidak lama setelah putra satu-satunya meninggal dalam usia 6 tahun,
Ruqayyah mulai sakit-sakitan. Pada tahun 2 H, perang Badr terjadi.
Rasulullah SAW mengajak kaum muslimin dari Muhajirin dan Anshar untuk
bahu-membahu mempertahankan agama yang mereka yakini. Utsman ibn ‘Affan
menyambut ajakan ini. Namun karena kondisi istrinya yang sedang sakit
parah, Rasulullah SAW memerintahkan Utsman untuk tetap di Madinah dan
menjadi Pemimpin kota Madinah. Sepulang dari perang Badr, kondisi
kesehatan Ruqayyah semakin parah dan akhirnya beliau meninggal dengan
meninggalkan seorang ayah, seorang suami, seorang kakak dan seorang
adik. Radiallahu ‘anha, Wa Ja’ala al-Jannata Matswaha

4. Ummu Kultsum

Putri ketiga Rasulullah SAW, atau anak keempat ini, lahir dari rahim
ibunya Khadijah bint Khuwaylid di Makkah, sekitar tahun 7 SN (Sebelum
Kenabian). Kakak kandung dari Fatimah al-Zahra ini mirip sekali dengan
kakaknya Ruqayyah, orang sering mengatakan bahwa mereka berdua adalah
saudara kembar karena kemiripan wajah mereka berdua. Di masa kecilnya
lagi, Ummu Kultsum selalu bermain dengan kakaknya Ruqayyah. Mereka semua
hidup bahagia dibawah bimbingan kasih sayang ayah yang bijak dan ibu
yang sangat peduli. Meski kakak laki-laki sudah meninggal, namun kakak
tertua mereka, Zainab dapat melindungi dan mengajari adiknya.

Pernikah Dini

Sebagaimana kebiasaan orang Arab Makkah kala itu, yaitu menikahkan
putrinya pada usia dini, putri-putri Rasulullah SAW mengalami hal yang
serupa. Zainab sebagai putri tertua dinikahkan dengan Abu al-‘Ash pada
usia sekitar sepuluh tahun. Ruqayyah dan Ummu Kultsum dinikahkan secara
bersamaan dengan kakak beradik putra Abu Lahab, ‘Utbah dan ‘Utaybah.
Dasar perkawinan ini adalah untuk menyambung tali persaudaraan dari
jalur bapak, yaitu Muhammad ibn Abdillah dari Bani Hasyim. Sebagaimana
diketahui, bahwa putri pertama mereka, Zainab, sudah dinikahkan dengan
Abu al-’Ash yang merupakan keponakan dari Khadijah. Karena itu, keluarga
dari pihak bapak menginginkan kalau anak keponakannya ini menikah
dengan keluarga mereka. Muhammad dan Khadijah setuju, ikatan pernikahan
pun dilaksanakan. Hasilnya, Muhammad dan Abu Lahab pun berbesan. Semua
ini terjadi ketika Muhammad belum diangkat menjadi Nabi.

Cerai Dini

Tak lama kemudian, sebelum dua pasangan pengantin muda kakak beradik
tinggal serumah, dan belum menikmati malam pengantinnya, perubahan besar
pun terjadi. Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasulullah SAW. Abu
Lahab sebagai salah satu pemuka Quraisy, menolak ajakan agama baru yang
dibawa oleh besan yang juga adalah keponakannya. Dia tetap
mempertahankan tradisi jahiliah yang selama ini dilaksanakan, begitu
juga dengan kedua anaknya yang sudah beranjak remaja. Tidak hanya itu,
ketiga-tiganya menjadi orang-orang terdepan yang menolak ajakan
Muhammad, sedangkan Ummu Kultsum dan kakak serta adiknya, menyakini
ajaran baru yang dibawa bapak mereka. Perselisihan pun membesar, Abu
Lahab tidak mau berbesan dengan Muhammad yang dituduh sebagai
pengkhianat ajaran kakek nenek mereka. Kedua anaknya mendukung sang
bapak dan tidak mau beristrikan putri pengkhianat itu, mereka memutuskan
tali perkawinan yang sudah diikat. Tidak cukup di situ, ketiganya
mencaci maki besan dan mertuanya.

Mendengar dan melihat sikap bermusuhan itu, meski belum turun ajaran
yang melarang menikah antar agama, Rasulullah SAW mengambil sikap yang
sama, menerima dan bersyukur atas pembatalan ini. Kedua putrinya,
Ruqayyah dan Ummu Kultsum sepakat dengan putusan sang bapak yang
diyakini sepenuhnya sudah memutuskan dengan bijaksana dan penuh
pertimbangan. Tidak hanya itu, karena sudah dihina dan dicaci maki oleh
bekas besan dan kedua menantunya, Rasulullah SAW mengutuk dan mendoakan
keburukan buat ketiga-tiganya. ‘Utaybah suami gantung Ummu Kultsum,
didoakan semoga mati dimakan anjing, dan ternyata benar, dia mati
dimakan singa padang pasir ketika tertidur di antara sahabat-sahabatnya.

Perjuangan masa Makkah

Sulitnya kehidupan di Makkah di bawah tekanan kaum Quraisy dialami dan
dilalui oleh Ummu Kultsum dengan tawakkal, dan penuh kesabaran. Dengan
kewajiban menjaga sang adik Fatimah, karena sang kakak sudah menikah dan
tinggal bersama suami, Ummu Kultsum lah yang membantu ibunya Khadijah
ketika sakit, merawatnya dan menjadi pengganti ibu setelah beliau wafat.
Di usia belasan tahun, biasanya seorang putri sudah menikah, namun
beliau tidak, meski banyak orang datang melamar. Ummu Kultsum dan
adiknya Fatimah terus membantu perjuangan Rasulullah SAW, menghiburnya
di kala duka, dan mendorongnya di kala sulit. Mereka berdua menjadi buah
hati sang ayah. Ketika saatnya hijrah, Ummu Kultsum dan Fatimah baru
berhijrah ke Madinah setelah 3-4 hari hijrahnya Rasulullah SAW bersama
Abu Bakar. Keduanya berangkat bersama Ali dan ibu tiri mereka Saudah
yang sudah menjadi istri Rasulullah SAW.

Menikah dengan Utsman ibn ‘Affan

Ketika perang Badr terjadi, Ruqayyah sakit dan Utsman diangkat oleh
Rasulullah SAW untuk menjadi penggantinya di Madinah selama kepergiannya
ke medan perang. Tak lama setelah pasukan yang membawa kemenangan tiba
di Madinah dari Badr, Ruqayyah dipangil Allah SWT ke pangkuan-Nya. Di
perang Badr, Umar kehilangan menantunya Khunais ibn Huzafah, suami dari
putrinya Hafsah. Setelah masa iddah sang putri selesai, Umar ingin
menjodohkan putrinya ini dengan lelaki pilihannya sendiri. Umar
menawarkan Abu Bakar, namun beliau menolaknya. Lalu Utsman yang sudah
menduda juga ditawarkan, Utsman pun menolak. Umar gelisah dan kecewa
dengan penolakan kedua sahabatnya itu. Berita kekecewaan Umar sampai ke
telinga Rasulullah SAW, Umar pun dipanggil dan Rasulullah SAW bersabda :
Hafsah akan dinikahi oleh orang yang lebih baik daripada Utsman, dan
Utsman akan menikah dengan orang yang lebih baik daripada Hafsah.

Cerita Sebab Pernikahan

Dengan pernyataan tadi, Rasulullah SAW memutuskan untuk menikahi Hafsah
bint Umar dan menikahkan putrinya Ummu Kultsum dengan Utsman ibn ‘Affan.
Ummu Ayyasy yang pernah menjadi pembantu Ruqayyah berkata : Saya
mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Tidaklah aku menikahkan Utsman
kecuali atas dasar wahyu dari langit”. Abu Hurairah ra. berkata bahwa
Rasulullah SAW bersabda : “Jibril as. telah mendatangiku dan berkata :
Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkan kamu untuk menikahkan Utsman
dengan Ummu Kultsum dengan mahar seperti untuk Ruqayyah dan juga seperti
perlakuannya dengan istri pertamanya”. Dengan menjadi menantu
Rasulullah SAW untuk dua orang putrinya, Utsman digelari dengan Dzu
al-Nurayn (pemilik dua cahaya). Pernikahan Utsman dan Ummu Kultsum ini
terjadi pada bulan Rabi’ al-Awwal tahun 3 H.

Wafat

Di tahun 9 H, setelah membina rumah tangga bersama suami tercinta,
Utsman ibn ‘Affan selama 6 tahun dan belum dikaruniai anak, ajal pun
menjemputnya. Tepat ketika adzan Subuh berkumandang, suara adzan Bilal
membangunkan rasa cintanya kepada Allah SWT. Utsman sang suami pergi
melaksanakan shalat subuh bersama Rasulullah SAW. Ummu Kultsum terbaring
ditemani oleh Ummu Ayyasy salah seorang pembantu Rasulullah SAW. Ketika
sakarat maut tiba dan sang suami serta bapak sedang melaksanakan
shalat, Ummu Ayyasy segera memberitahukan kondisi terakhir Ummu Kultsum.
Utsman segera kembali ke rumah dan Rasulullah SAW pergi menyusul
diiringi Abu Bakar, Umar dan Ali, Ummu Ruman istri Abu Bakar dan
Sofiyyah bint Abdul Mutthalib datang melayat, di sana sudah ada juga
sang adik, Fatimah. Di hadapan mereka yang hadir, Ummu Kultsum kembali
ke Rahmatullah.

5. Fatimah

Fatimah bint Muhammad, Rasulullah SAW. Ibunya adalah Khadijah bint
Khuwaylid, Lahir di Makkah tahun 18 SH (5 tahun sebelum kenabian).
Menikah dengan Ali ibn Abi Thalib di bulan Rajab 15 bulan setelah Hijrah
Masa kecilnya dilalui begitu indah, kasih sayang yang didapat dari
seorang ayah yang bijak dan ibu yang penyayang, seolah-olah si kecil
mungil ini menjadi idaman semua anak kecil. 5 tahun kemudian, ketika
ayahnya diangkat menjadi Nabi dan Rasul, barulah kehidupan seorang putri
yang lucu dan cantik ini sedikit berubah. Ayahnya yang dulunya disegani
dan dihormati karena dikenal sebagai seorang yang baik, jujur dan
amanah, berubah menjadi orang yang dibenci dan dicaci oleh kebanyakan
anak kaumnya. Meski orang-orang Quraisy tidak mencaci maki atau
menyakiti Fatimah, namun perlakuan mereka atas ayahandanya tentu
menyakitinya juga. Hebatnya, meski masih tergolong anak kecil, Fatimah
al-Zahra mampu bersikap bijak dan menjadi penghibur buat sang ayah.
Dalam banyak kesempatan, Fatimah lah yang menolong ayahnya dari hinaan
dan cacian musyrikin Makkah. Fatimah dan semua kakaknya mengimani apa
yang dibawa dan diajarkan oleh sang ayah.

Keutamaan Fatimah

Fatimah bint Muhammad adalah putri kesayangan Rasulullah SAW, peranannya
dalam membantu perjuangan Rasulullah SAW tidak diragukan. Baik masa di
Makkah, maupun di Madinah. Beberapa hadis di bawah ini memuat secara
tegas keutamaan putri Rasulullah SAW ini. Miswar ibn Makhramah ra.
berkata bahwa dia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda dari atas
mimbar :

Sesungguhnya keluarga Bani Hisyam ibn Mughirah meminta restu kalau
mereka akan menikahkan putri mereka dengan Ali ibn Abi Thalib. Tentu
saja aku tidak merestui, aku tidak merestui, sekali lagi aku tidak
merestui kecuali jika Ali ibn Abi Thalib berkenan menceraikan putriku
terlebih dahulu kemudian menikahi putri mereka tersebut. Karena putriku
adalah bagian dari diriku, apa yang mengganggunya akan menggangguku dan
apa yang menyakitkannya akan menyakitkan diriku.

(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Pemimpin Wanita di Surga

Aisyah ra. bercerita bahwa : “Suatu hari Fatimah berjalan menghampiri
Nabi SAW, gaya jalannya mirip sekali dengan gaya jalannya Rasulullah
SAW. Rasulullah SAW menyambutnya dan menyuruhnya duduk di sisi kanan
atau kirinya. Kemudian beliau membisikkan sesuatu kepadanya sehingga ia
pun menangis kemudian beliau membisikkannya lagi sampai ia tertawa”.
Kemudian Aisyah berkata : Aku bertanya kepada Fatimah : “Apakah yang
dibisikkan Rasulullah SAW itu kepadamu sehingga kamu menangis, kemudian
apa lagi yang dibisikkan kepada kamu sehingga kamu tertawa?” Fatimah
menjawab : “Aku tidak akan membuka rahasia Rasulullah SAW”. Sampai
setelah Rasulullah SAW wafat aku bertanya kembali kepada Fatimah.

Fatimah pun menjawab :

Beliau membisikkan kepadaku untuk mengabarkan kepadaku berita wafatnya
beliau, lalu aku pun menangis kemudian beliau membisikkan lagi kepadaku
untuk mengabarkan kepadaku bahwa aku adalah orang yang pertama kali
menyusul beliau dari keluarganya lalu aku pun tertawa. Kemudian Beliau
berkata : Tidakkah kamu ridha jika kamu menjadi pemimpin perempuan
penghuni surga atau perempuan mu’minah. Aku pun tersenyum mendengarnya.

(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Riwayat

Dari Aisyah ra. dia berkata : Rasulullah SAW keluar pada pagi hari
mengenakan jubah hitam bersulam, tak lama kemudian datang Hasan ibn Ali,
maka beliau memasukkannya (ke dalam jubah), kemudian datang al-Husen
dan dimasukkannya juga bersamanya, kemudian datang Fatimah dan
dimasukkan ke dalamnya, kemudian datang Ali dan dimasukkan kedalamnya.
Kemudian beliau berkata :

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai
ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. (QS. al-Ahzab 33 :
33)

(HR. Muslim, Abu Daud, al-Tirmizi dan Ahmad)

Perkawinan Fatimah

Berbeda dengan ketiga kakak-kakaknya yang menikah di usia dini, antara
9-12 tahun, Fatimah menikah di usia yang matang. Setelah tiba di Madinah
bersama rombongan yang berhijrah setelah Rasulullah SAW, Fatimah yang
saat itu sudah berusia sekitar 18 tahun, tentu banyak yang datang
melamarnya. Abu Bakar dan Umar adalah dua diantara mereka yang
menyatakan hal itu. Namun Rasulullah SAW menolak pinangan tersebut,
sampai akhirnya Ali yang menyatakan hasratnya dan Rasulullah SAW
menerimanya lalu berkata : “Apakah kamu memiliki sesuatu ?” Ali menjawab
: “Tidak, wahai Rasulullah”. Rasulullah saw berkata : “Mana baju
perangmu yang dulu pernah aku berikan ?” Ali Menjawab : “Yang itu ada
pada saya wahai Rasulullah.” Rasulullah berkata : “Berikanlah itu untuk
Fatimah (sebagai mahar)”.

Ali bersegera mengambil baju perangnya itu dan Rasulullah SAW
menyuruhnya untuk menjualnya. Utsman membelinya seharga 475 Dirham. Uang
mahar itu semuanya diberikan kepada Rasulullah SAW. Yang kemudian
memberikan sebagiannya kepada Bilal untuk dibelikan makanan dan
wewangian, sebagian lagi diberikan kepada Ummu Salamah untuk membeli
pakaian dan keperluan pengantin perempuan. Pernikahan pun dilakukan,
Rasulullah SAW mengundang sahabat-sahabatnya dan menjadikan mereka
sebagai saksi pernikahan putrinya dengan Ali dengan mas kawin 40 misqal
perak dibayar satu tahun ke depan. Akad nikah itu diakhiri dengan
memberikan selamat dan mendoakan kedua mempelai, lalu para tamu pun
disuguhi hidangan berupa buah kurma. Perkawinan ini terjadi setelah
perang Badr pada tahun 2 H.

Malam Pengantin

Pasangan pengantin ini ditempatkan di rumah Ummu Salamah, sebelum malam
datang Rasulullah SAW berpesan kepada Ali untuk tidak melakukan sesuatu
sampai beliau kembali menemuinya. Usai shalat Isya’ Rasulullah SAW
kembali ke rumah Ummu Salamah untuk menemui kedua pengantin. Setelah
minta diambilkan air dan berwudhu’, Rasulullah SAW memanggil pengantin
dan mendoakannya dengan ucapan :

اَللَّهُمَّ بَارِكْ فِيْهِمَا, وَبَارِكْ عَلَيْهِمَا, وَبَارِكْ فِيْ نَسْلِهِمَا.

“Ya Allah berkahilah keduanya, dan berkahilah ke atas keduanya, dan berkahilah keturunannya”.

Usai didoakan, pasangan pengantin ini pun menikmati malam indahnya dengan penuh berkah dan doa.

Putra dan Putri

Pasangan Ali dan Fatimah dianugrahi beberapa orang anak yang menjadi
cucu Rasulullah SAW dan penerus generasinya. Anak pertamanya Hasan, yang
sebelumnya dinamakan Harb (perang) oleh Ali namun diganti oleh
Rasulullah SAW dengan Hasan (baik). Lahir pada tahun 4 H. Anak kedua :
Husen, lahir tahun 5 H. Anak ketiga : Muhassin, lahir tahun 6 H. Anak
keempat : Zainab, lahir tahun 7 H. Anak Kelima : Ummu Kultsum, lahir
tahun 9 H. Dari keempat anak inilah keturunan Rasulullah SAW berlanjut
sampai sekarang.

Fatimah akan dimadu

Poligami merupakan hal yang biasa dalam kehidupan masyarakat kala itu.
Ali ibn Abi Thalib, suami Fatimah berniat untuk berpoligami. Di pihak
lain, ketika salah seorang putri Abu Jahal yang sudah masuk Islam dan
sudah berhijrah menjadi putri yang sudah layak untuk menikah, lalu
keluarganya yang juga sudah masuk Islam dan sudah berhijrah ke Madinah,
mereka melihat bahwa calon yang paling tepat untuk keponakannya ini
adalah Ali, kemudian mereka mengajukan usulan ini kepada Ali. Ali tidak
keberatan dengan usulan ini, beliau pun siap untuk berpoligami, terlebih
lagi melihat bahwa Rasulullah SAW sendiri berpoligami dan banyak
sahabat yang juga berpoligami, maka wajar kalau beliau juga berpoligami.
Mendapat respon positif dari Ali, kerabat Bani Hisyam ibn Mughirah (Abu
Jahal) meminta izin kepada Rasulullah SAW. Isu Ali akan menikah lagi
sampai juga ke telinga Fatimah, beliau terperanjat, kecewa dan kesal.
Fatimah pun mengadukan hal ini kepada ayahanda.

Penolakan Rasulullah SAW

Melihat putri tercintanya kecewa dan sedih, Rasulullah SAW pun ikut
kecewa terhadap sikap Ali yang ingin memadu putrinya. Faktor lain yang
membuat kesal Rasulullah SAW adalah calon mertuanya Ali, yaitu Abu Jahal
yang merupakan orang yang sampai akhir hayatnya memusuhi dan
menyakitinya. Dua faktor di atas membuat Rasulullah SAW memutuskan
dengan berkata :

“Sesungguhnya Bani Hisyam ibn Mughirah meminta izinku untuk menikahkan
putri mereka dengan Ali ibn Abi Thalib. Saya tidak mengizinkan mereka
selamanya, kemudian saya tidak mengizinkan mereka. Kecuali, jika anaknya
Abi Thalib ingin menceraikan putri saya dan menikah dengan putri
mereka. Sesungguhnya Fatimah itu bagian dariku, apa yang mengganggunya
akan menggangguku dan apa yang menyakitkannya akan menyakitkan diriku.
Sungguh saya khawatir ini akan jadi ujian berat atau fitnah buat
keimanannya.”

Melihat penolakan Rasulullah SAW yang begitu keras dan tegas, Ali tidak berani dan akhirnya beliau pun membatalkan niatnya itu.

Kasih dan Sayangnya Rasulullah SAW

Fatimah merupakan putri kesayangan Rasulullah SAW sejak sebelum
kenabian. Banyak kemiripan antara keduanya. Fatimah, meski masih kecil,
namun perhatian, bantuan dan dorongannya terhadap perjuangan Rasulullah
SAW begitu besar dan sangat berarti. Selain itu, Rasulullah SAW juga
melihat bahwa keturunannya masih akan berlanjut, dan itu melalui
keturunan Fatimah. Sering Rasulullah SAW ketika Fatimah datang, beliau
berdiri dan menempatkannya di tempatnya sendiri. Ketika Rasulullah SAW
sakit sebelum wafatnya, beliau memanggil Fatimah dan membisikkan sesuatu
sehingga Fatimah menangis, kemudian memanggilnya lagi dan membisikkan
sesuatu sehingga dia tertawa. Sesudah Rasulullah SAW wafat Fatimah
ditanya tentang hal tersebut dan beliau menjawab : “Rasulullah SAW
membisikkan bahwa beliau akan wafat karena penyakit ini maka saya
menangis, kemudian membisikkan bahwa aku adalah keluarga pertama yang
akan menyusulnya maka aku tertawa”.

Wafat

Kematian pasti menjemput setiap manusia, tidak peduli siapa orang itu.
Setelah kepergian Rasulullah SAW ke pangkuan Allah SWT, Fatimah sedih
sekali. Namun apalah hendak dikata, takdir Allah lebih berkuasa dari
kehendak manusia. Menjelang kematiannya, Fatimah memanggil Ummu Rafi’
dan berkata : “Wahai ibu, siapkanlah untuk saya mandi.” Fatimah mandi
sebagaimana biasa bahkan lebih baik, kemudian menggunakan baju barunya,
lalu berpesan : Taruhlah kasurku di tengah rumah, Fatimah tidur dan
menghadap kiblat, kemudian berkata: “Wahai ibu, nyawa saya akan dicabut
sekarang, dan saya sudah mandi, karena itu, jangan ada yang membuka
kafanku lagi.” Fatimah pun meninggal. Ketika Ali datang dan diberitahu
soal kejadian tadi, Ali memakluminya dan menguburkannya tanpa
memandikannya lagi, setelah menshalatkannya bersama Abbas. Fatimah
dimakamkan di malam hari di pemakaman Baqi’, hari Senin malam Selasa 3
Ramadhan 11 H, atau 6 bulan setelah wafatnya Rasulullah SAW.

6. Abdullah

Putra kedua Rasulullah SAW dari istrinya Khadijah. Lahir di Makkah
setelah kakaknya yang bernama Fatimah. Ini berarti putra bungsu
Rasulullah SAW dari Khadijah. Tidak banyak riwayat yang menuliskan
sejarah hidupnya karena meninggal di Makkah pada usia masih kecil.

7. Ibrahim

Putra ketiga atau anak ke 7 dan bungsu Rasulullah SAW. Ibunya adalah
Maria al-Qibtiyah, budak yang dihadiahkan oleh Muqawqis Raja Mesir.
Ibrahim lahir pada bulan Dzulhijjah tahun 8 H. Rasulullah SAW sangat
gembira dengan kelahiran anak bungsunya ini. Pada hari ke 7 kelahiran
Ibrahim, Nabi melaksanakan beberapa sunnahnya. Pertama memberi anaknya
nama, yaitu Ibrahim, kedua, memotong gundul rambutnya lalu menimbangnya
dan bersedekah dengan perak sejumlah timbangan rambutnya tadi. Rambutnya
tadi kemudian ditanam. Ibrahim lalu diserahkan kepada Ummu Sayf untuk
disusukan sebagaimana umumnya orang Arab pada waktu itu. Ibrahim tidak
berumur panjang, 16 bulan 8 hari setelah kelahirnya, beliau wafat.

Di hari wafatnya Ibrahim terjadi gerhana matahari, namun Rasulullah SAW
menegaskan, gerhana tersebut bukan karena kematian Ibrahim atau siapa
pun. Dalam satu riwayat, Rasulullah SAW menshalatkan jenazah Ibrahim.
Sedangkan Aisyah berpendapat bahwa baginda tidak menshalatkan
jenazahnya, namun Rasulullah SAW dipastikan shalat Gerhana. Penulis
condong bahwa Rasulullah SAW shalat gerhana dan shalat jenazah juga,
sebagaimana mayoritas ulama berpendapat. Al-Fadl Ibn Abbas bertindak
sebagai orang yang memandikan jenazah, lalu beliau dan Usamah ibn Zayd
yang menaruh jenazah itu ke liang lahat. Sementara Rasulullah SAW
berdiri di pinggir lahat. Setelah liang selesai ditutup kembali dengan
tanah, kubur itu disiram dengan air. Penyiraman makam dengan air setelah
penguburan, pertama dilakukan dalam sejarah Islam adalah pada makam
Ibrahim.

Beberapa Hadis tentang Ibrahim

Beberapa hadis Rasulullah SAW berbicara tentang putra bungsunya, Ibrahim. Antara lain :

Dari Anas ibn Malik, beliau berkata :

Kalaulah Ibrahim anak Nabi SAW hidup, niscaya dia akan menjadi orang yang jujur dan seorang Nabi.

(HR. Ahmad)

Dari al-Bara’ ra. beliau bercerita :

Bahwa ketika Ibrahim as. meninggal, Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya dia mempunyai ibu susu (yang menyusui) di surga.

(HR. al-Bukhari)

Dari Anas ibn Malik ra. bercerita :

Bahwa kami masuk bersama Rasulullah SAW ke rumah Abu Sayf al-Qayn, dia
adalah bapak susunya Ibrahim – karena istrinya menyusui Ibrahim-
Rasululah SAW mengambil Ibrahim lalu mengecup dan menciumnya, kemudian
kami masuk ke rumahnya kembali sedangkan Ibrahim menghadapi sakarat maut
, maka Rasululah SAW pun menangis. Abdurrahman ibn ‘Auf berkomentar :
Engkau menangis wahai Rasulullah ? Rasulullah menjawab : Wahai putra
‘Auf, sesungguhnya itu merupakan rahmat, sesungguhnya mata itu akan
menangis dan hati itu akan bersedih, akan tetapi kami tidak akan berkata
kecuali dengan ucapan yang diridhai Allah, dan sesungguhnya kami sedih
berpisahan denganmu wahai Ibrahim.

(HR. al-Bukhari)

 Cucu Rasulullah SAW

1. Ali

Ali ibn Abi al-’Ash, adalah anak pasangan Zainab bint Muhammad SAW
dengan Abu al-’Ash. Cucu pertama Rasulullah SAW ini lahir di Makkah
sekitar awal kenabian.

2. Umamah

Biografi

Cucu kedua Rasulullah SAW ini bernama Umamah bint Abu al-’Ash ibn
al-Rabi’ ibn Abd al-Uzza ibn Abd Manaf. Ibunya adalah Zainab bint
Muhammad Rasulullah SAW. Lahir di Makkah, namun belum ditemukan sumber
yang jelas yang menerangkan tahun persisnya. Rasulullah SAW sering
menggendong cucu perempuannya ini dalam shalat. Jika dalam keadaan ruku’
dan sujud, Umamah akan diletakkan di sampingnya, dan jika dalam keadaan
berdiri, ia akan digendong lagi. Rasulullah SAW sangat mencintainya,
bahkan baginda pernah bersabda ketika baginda menerima hadiah sebuah
kalung dari Yaman : Kalung ini akan kuberikan kepada keluargaku yang
paling kucintai. Lalu kalung itu dipasangkan di leher Umamah.

Pernikahannya

Sebelum meninggal, Fatimah bint Rasulullah SAW berpesan kepada suaminya,
Ali ibn Abi Thalib untuk menikahi Umamah setelah kematiannya. Benar,
setelah kematian Fatimah, Ali menikahi Umamah. Bertindak sebagai walinya
adalah al-Zubayr ibn ‘al-Awwam yang mendapatkan wasiat dari Abual-’Ash
untuk menjadi wali putrinya. Umamah mengikuti suaminya pindah ke Kufah.
Ketika Ali terluka, beliau berpesan kepada al-Mughirah ibn Naufal ibn
al-Harits ibn Abdul Mutthalib (keponakan misannya) untuk menikahi Umamah
setelah kepergiannya. Hal ini ia lakukan untuk menghindari agar
Mu’awiah tidak menikahi mantan istrinya. Setelah masa iddah Umamah
selesai, al-Mughirah menikahinya. Namun sebelumnya, ketika masa iddah
akan usai, apa yang dikhawatirkan Ali terjadi, Mu’awiyah ibn Abu Sofyan
meminta Marwan untuk melamar Umamah untuknya dengan mahar 100.000
(sertus ribu Dinar). Umamah memberitahukan hal ini kepada al-Mughirah
dan menanyakan apakah dia mau menikahinya sesuai dengan permintaan
suaminya Ali, atau dia tidak mau. Al-Mughirah menjawab mau. Terdapat
riwayat yang mengatakan bahwa pasangan ini dikaruniai seorang anak yang
diberi nama Yahya. Al-Mughirah pun mempunyai kuniah Abu Yahya. Namun
pendapat lain, dan ini lebih kuat, mengatakan bahwa pasangan ini tidak
dikarunia anak, baik dari al-Mughirah maupun dari Ali. Wafat

Belum ditemukan tahun kematian Umamah, hanya saja diceritakan bahwa
Umamah meninggal ketika statusnya masih sebagai istri al-Mughirah.

3. Abdullah

Cucu ketiga Rasulullah SAW ini lahir dari pasangan Ruqayyah bint
Muhammad dengan Utsman ibn ‘Affan. Lahir di Habasyah ketika kedua
orangtuanya berhijrah ke sana, sekitar 4 SH, atau setahun sebelumnya.
Rupanya, cucu Rasulullah SAW ini tidak berumur panjang, dalam usianya
yang masih kecil, + 6 tahun, anak yang sedang lucu-lucunya ini meninggal
dunia di Madinah menjelang perang Badr karena sakit. Karena masih
kecil, tidak banyak cerita yang terekam tentang cucu Rasulullah SAW yang
satu ini. Melihat sejarahnya, anak sekecil ini sudah dua kali
berhijrah, pertama ke Habasyah, dan kedua ke Madinah.

4. Hasan

Biografi Singkat

Hasan ibn Ali ibn Abi Thalib. Putra Fatimah bint Rasulullah SAW. Putra
pertama pasangan Ali dengan Fatimah ini, lahir di Madinah bulan Ramadhan
tahun 3 H al-Zahabi berkata : di bulan Sya’ban 3 H, dan ini yang lebih
benar. Rasulullah SAW mengazankan di telinga Hasan ketika baru
dilahirkan. Pada hari ke tujuh, Rasulullah SAW bertanya tentang nama
yang dipilih ayahnya untuk sang cucu. Ali menjawab : Harb (perang).
Rasulullah SAW menolak dan mengatakan bahwa nama cucunya adalah : Hasan.
Rasulullah SAW meminta Ali untuk mencukur rambut Hasan pada hari
ketujuh dan bersedekah perak seberat timbangan rambut yang baru dicukur.
Rasululah SAW mengaqikahkan dengan memotong seekor kambing jenis kabsy.

Keutamaan

Hasan merupakan cucu kesayangan Rasulullah SAW, lahir dari putri yang
paling dicintai dan menantu yang paling disayangi. Karena itu, banyak
sekali keutamaan yang dimiliki Hasan dan adiknya Husen. Anas ibn Malik
berkata :

Tidak ada orang yang lebih mirip dengan Rasulullah SAW dari al-Hasan ibn Ali.

(HR. al-Tirmizi)

Dari Abi Bakrah ra., Rasulullah SAW berkata di atas mimbar :

Sungguh anakku ini akan menjadi pemimpin yang mendamaikan dua kelompok besar. Dari kelompok orang-orang muslim.

(HR. al-Bukhari, Abu Daud, al-Tirmizi dan al-Nasa’i)

Usamah ibn Zayd berkata : Rasulullah SAW memegang aku dan al-Hasan, lalu berkata :

Ya Allah sesungguhnya aku mencintai keduanya, maka cintailah keduanya.

(HR. al-Bukhari, al-Tirmizi dan Ahmad)

Wafat

Hasan meninggal tahun 49 H. Jenazah beliau dimakamkan di Baqi’ Madinah,
tepatnya di samping makam Ibunya. Sebelumnya, sempat terjadi
perselisihan mengenai tempat. beliau akan dimakamkan. Husen menginginkan
untuk dimakamkan di sebelah makam Rasulullah SAW. Untuk itu beliau
meminta izin Aisyah, Aisyah pun mengisyaratkan pembolehan. Namun
Mu’awiyah melalui Marwan, Gubernur Madinah, tidak mengizinkannya bahkan
ketika liang kubur akan digali, Marwan dengan keras menentangnya.
Akhirnya Abu Hurairah melerai perselisihan ini dengan mengatakan bahwa
Utsman dimakamkan di Baqi’, Fatimah juga di Baqi’, maka alangkah baiknya
jika Hasan juga dimakamkan di Baqi’. Husen pun dapat menerimanya dan
jenazah Hasan akhirnya dimakamkan di Baqi’.

5. Husen

Biografi Singkat

Husen ibn Ali ibn Abi Thalib. Putra Fatimah bint Rasulullah SAW. Putra
kedua pasangan Ali dengan Fatimah ini, lahir di Madinah pertengahan
bulan 6 tahun 6 H. Jarak antara Hasan dan Husen satu tahun, 10 bulan.
Rasulullah SAW sendiri yang mengumandangkan azan di telinganya. Pada
hari ke tujuh, Rasulullah SAW bertanya tentang nama yang dipilih ayahnya
untuk sang cucu. Ali menjawab : Harb (perang). Rasulullah SAW menolak
dan mengatakan bahwa nama cucunya adalah : Husen.

Keutamaan

Sebagai cucu Rasulullah SAW, tentu Husen memiliki banyak kelebihan. Dari
postur tubuh, beliau dari dada kebawah mirip dengan Rasulullah SAW.
Sedangkan kakaknya, Hasan, lebih mirip dengan Rasulullah SAW dari bagian
dada ke atas. Hasan dan Husen dikabarkan oleh Rasulullah SAW akan
menjadi Pemimpin Pemuda Penghuni Surga. Kedua-duanya juga sering
dipangku dan dicium oleh Rasulullh SAW. Kedua-duanya merupakan jantung
hati Rasulullah SAW.

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra., Rasulullah SAW bersabda :

Al-Hasan dan al-Husen Pemimpin Pemuda Penghuni Surga.

(HR. al-Tirmizi dan Ahmad)

Dari Ibn Umar ra., Rasulullah SAW bersabda :

Al-Hasan dan al-Husen Pemimpin Pemuda Penghuni Surga, dan bapaknya lebih baik dari keduanya.

(HR. Ibn Majah)

Wafat

Husen meninggal dalam kejadian yang tidak terpuji di padang Karbala.
Beliau dibunuh bersama 72 sanak keluarganya. Tidak cukup sampai disitu,
kepala Husen ditaruh di atas nampan lalu dipertontonkan kepada halayak
ramai. Seorang sahabat Nabi yang bernama Zayd ibn Arqam tidak sanggup
melihat hal ini dan memperotes keras terhadap tindakan keji penguasa
yang zalim saat itu. Tragedi padang Karbala tersebut terjadi pada tahun
61 H.

6. Muhassin

Biografi Singkat

Beliau adalah putra ketiga Ali dengan Fatimah, adik dari Hasan dan
Husen. Ketika lahir Ali menamakannya Harb, namun Rasulullah SAW
menolaknya lalu memberi nama Muhassin. Rasulullah SAW bersabda : “Aku
menamakan cucuku Hasan, Husen dan Muhassin sebagaimana Nabi Harun yang
menamakan anak-anaknya dengan Syabbar, Syabbir dan Musyabbir”. Muhassin
tidak berusia panjang, beliau meninggal dalam usia masih sangat kecil.

7. Ummu Kultsum

Biografi

Ummu Kultsum bint Ali ibn Abi Thalib, cucu bungsu Rasulullah SAW. Putri
dari Fatimah bint Muhammad SAW. Lahir sekitar tahun 7 H di Madinah.
Berada di pangkuan ibu selama lebih kurang 4 tahun, sebelum akhirnya
sang ibu meninggal ketika anak ini masih berusia 4 tahun.

Pernikahan

Masih berusia dini, Ummu Kultsum sudah dilamar oleh Umar ibn Khattab
yang kala itu menjadi Khalifah. Penyebabnya adalah karena Umar ingin
agar anak turunannya terus bersambung sampai hari kiamat. Hal ini
didasari oleh sabda Rasulullah SAW yang didengar langsung oleh Umar :
Semua sebab, nasab dan permantuan tidak akan berpengaruh pada hari
kiamat nanti kecuali sebabku, nasabku dan permantuanku. Ali sang bapak
menolak lamaran ini karena pertimbangan usia, namun Umar tetap
mendesaknya dengan alasan di atas. Akhirnya, Ali menikahkan putri
bungsunya dari Fatimah itu dengan Umar, Amirul Mu’minin, dengan cerita
yang sangat menarik, menunjukkan ketaqwaan remaja putri yang merupakan
cucu Rasulullah SAW.

Cerita Lamaran

Ali berkata kepada Umar : “Kirimkan sesuatu untuknya, jika dia menolak,
maka aku pun menolak, jika dia mau/rido maka aku sudah mengawinkanmu
dengannya. Kemudian setelah melihat isyarat dari putrinya, Ali mengutus
putrinya menemui Umar dengan membawakannya sebuah baju untuknya sambil
menitipkan pesan : “Katakanlah kepadanya, ini baju yang pernah saya
katakan kepada kamu”. Ummu Kultsum pergi menemui Umar dan menyampaikan
pesan orangtuanya. Umar pun menerima titipan tersebut dan berkata :
Sampaikan kepada orangtuamu : “Aku sudah rido dan semoga Allah
meridoimu. Umar pun meletakkan tangannya di atas tangan Ummu Kultsum”.
Ummu Kultsum yang belum mengerti tentang hal ini marah besar dan
berkata: “Apakah kamu berprilaku seperti ini? Kalaulah bukan karena kamu
itu adalah Amirul Mu’minin, pasti sudah kupatahkan hidungmu”.

Umar diam, Ummu Kultsum pun menemui bapaknya yang menyuruhnya pergi
menghadap Umar seraya menceritakan kejadian tadi dan berkata : “Kamu
sudah mengutus saya ke orang tua yang nakal”. Ali menjawab : “Wahai
anakku, dia itu adalah suamimu”. Ummu Kultsum baru memahami bahwa dia
sudah dinikahkan oleh bapaknya dengan Umar, dan waktu Umar menyentuh
tangannya tadi, dia sudah berstatus istrinya. Dia pun menerima apa yang
telah dipilihkan orangtuanya. Sebagai mahar, Umar memberinya 40.000.
(dirham). Dari perkawinan ini, mereka dikaruniai dua orang anak, seorang
putra bernama Zayd dan seorang putri bernama : Ruqayyah.

Perkawinan Kedua

Setelah wafatnya Umar, Ummu Kultsum pun menjanda. Kemudian, belum lama
setelah masa iddahnya selesai, Hasan ibn Ali, kakak kandungnya, datang
menanyakan keadaannya dan masa depannya. Akhirnya Hasan memilihkan
untuknya ‘Aun ibn Ja’far untuk menjadi suami keduanya. Ummu Kultsum
setuju, maka jadilah perkawinan itu dan sebagai maharnya, ‘Aun ibn
Ja’far memberinya mahar 400 dirham.

Wafat

Ummu Kultsum meninggal di tahun yang sama dengan kematian putra
pertamanya, Zayd. Bahkan beberapa riwayat menjelaskan bahwa itu terjadi
pada waktu yang sama. Bertindak sebagai imam shalat jenazah adalah
Abdullah ibn Umar atas permintaan Hasan ibn Ali.

8. Zainab

Biografi

Zainab bint Ali ibn Abi Thalib. Ibunya Fatimah bint Muhammad Rasulullah
SAW. Lahir di Madinah pada tahun 5 H. Putri yang memiliki keistimewaan
nasab ini menjadikannya seorang mu’minah yang memiliki prinsip-prinsip
keislaman yang kuat.

Perkawinan dan Putra-putrinya

Ketika usia perkawinannya tiba, ayahnya ‘Ali ibn Abi Thalib,
menikahkannya dengan keponakannya, Abdullah ibn Ja’far ibn Abi Thalib.
Dari pernikahan ini mereka dikaruniai 4 orang putra dan 1 orang putri :
Keempat putra mereka adalah : ‘Aun, Ali, ‘Abbas dan Muhammad. Sedangkan
putri mereka adalah : Ummu Kultsum.

Wafat

Ketika terjadi fitnah besar, Zainab mengikuti kakaknya, Husen ibn ‘Ali.
Ketika Husen terbunuh di padang Karbala, Zainab dibawa ke Damaskus, dan
terjadilah perdebatan sengit antara Zainab dan Yazib ibn Mu’awiyah.
Zainab meninggal di Damaskus, dan dimakamkan di sana.

Anak Angkat Rasulullah SAW

Rasulullah SAW hanya mengangkat seorang anak saja sebagai anak
angkatnya, yaitu Zayd. Kali pertama diangkat, nama Zayd diubah nasabnya
menjadi Zayd ibn Muhammad, namun setelah hal itu dilarang, nasab Zayd
dikembalikan ke asal, yaitu Zayd ibn Haritsah. Beberapa ayat al-Qur’an
tentang peristiwa ini antara lain :

ayat zaid.2

Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati
dalam rongganya; dan dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar
itu sebagai ibumu, dan dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai
anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di
mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan dia menunjukkan
jalan (yang benar). Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan
(memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi
Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka
(panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu.
Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi
(yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Nabi itu (hendaknya) lebih utama
bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya
adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah
satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah
daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau
kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang
demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah).


(QS. al-Ahzab 33: 4-6)

ayat zaid 3

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di
antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan
adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.


(QS. al-Ahzab 33 : 40)

Biografi Zayd ibn Haritsah

Beliau adalah Zayd ibn Haritsah ibn Syarahil/Syurahbil ibn Ka’ab ibn Abd
al-’Uzza ibn Yazid ibn Imr’ al-Qays ibn ‘Amir ibn al-Nu’man. Lahir 10
tahun lebih muda dari Rasulullah SAW. Zayd semula adalah budak yang
dibeli oleh Rasulullah SAW di pasar budak Makkah. Sebelumnya, ketika
melihat Zayd dijual, Rasulullah SAW mengabarkannya kepada Khadijah untuk
membelinya. Khadijah menanyakan : Berapa harganya. Rasulullah SAW
menjawab : “700”. Khadijah pun memberikan uang tersebut dan Rasulullah
SAW membeli Zayd sebagai budak Khadijah. Setibanya di rumah, Rasulullah
SAW mengomentari budak barunya ini dengan berkata : “Kalaulah budak ini
milik saya maka akan saya merdekakan”. Khadijah yang dikenal sangat
dermawan dan baik hati langsung berkata : “Dia milik kamu”. Tak lama
kemudian dia dibebaskan. Bukan cuma dibebaskan, Zayd dijadikan Anak
Angkat Nabi SAW, yang dijuluki sebagai Orang Yang Dicintai Rasulullah
SAW.

Rumah Tangga Zayd

Zayd memiliki beberapa orang istri, antara lain : Zainab bint Jahsy.
Perkawinannya ini, begitu juga perceraiannya terekam dalam al-Qur’an.
Perkawinannya dengan Zainab adalah atas dasar dijodohkan oleh Rasulullah
SAW, meski Zainab menerimanya dengan terpaksa. Namun karena rumah
tangga mereka tidak harmonis karena Zainab sering berkata kasar terhadap
Zayd, maka Zayd pun meminta izin Rasulullah SAW untuk menceraikan
Zainab. Setelah beberapa kali Rasulullah SAW menasehatinya untuk
bersabar, namun akhirnya kesabarannya habis dan Zayd diperbolehkan untuk
menceraikannya. Istri Zayd yang lainnya adalah Ummu Aiman, yang bernama
Barakah, dari perkawinannya ini mereka dikarunai anak yang bernama
Usamah ibn Zayd. Kisah pernikahannya dengan Ummu Aiman dapat dilihat
dalam biografi Ummu Aiman.

Keutamaan Zayd

Banyak sekali keutamaan Zayd yang dicatat dalam sejarah, antara lain :


  • Menjadi anak angkat Rasulullah SAW.
  • Menjadi orang yang pertama masuk Islam dari kalangan maula.
  • Menjadi panglima untuk kurang lebih 17 kali peperangan (sariyyah).
  • Banyak mendampingi Rasulullah SAW dalam banyak hal.
  • Sering menjadi utusan Rasulullah SAW untuk misi-misi khusus.
  • Dijuluki sebagai orang yang dicintai Rasulullah SAW.
  •  Menjadi satu-satunya sahabat Nabi SAW yang namanya ditulis secara tegas dalam al-Qur’an (al-Ahzab 33 : 37 ).
  • Menjadi orang biasa yang perkawinan dan perceraiannya diceritakan dalam al-Qur’an.
  • Mempunyai istri yang dikatakan Rasulullah SAW sebagai penghuni surga.
  • Mempunyai anak yang juga dicintai Ralsulullah SAW, dan diangkat menjadi penglima perang termuda, 18 tahun.

Nama Zayd dalam al-Qur’an

Banyak sekali keutamaan Zayd yang dicatat dalam sejarah, antara lain :


ayat zaid 4


Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah
melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat
kepadanya : “Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah”,
sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan
menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang
lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zayd telah mengakhiri
keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), kami kawinkan kamu dengan
dia supaya tidak ada keberatan bagi orang Mu’min untuk (mengawini)
istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah
menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah
itu pasti terjadi.


(QS. al-Ahzab 33:37)

Wafat

Zayd wafat sebagai syuhada’ dalam perang Mu’tah pada bulan Jumadi al-Ula
tahun 8 H. Jasad Zayd dimakamkan di Mu’tah, Jordania. Tidak jauh dari
Universitas Mu’tah, di Provinsi Karak. Penulis sempat dua kali berziarah
ke makam ini.

Menantu Rasulullah SAW

menantu

Untuk melihat biografi para menantu Rasulullah saw, bisa dilihat di biografi para sahabat.

Selain 3 orang di atas, Rasulullah saw juga pernah menikahkan gantung
dua putrinya, Ruqayyah dan Ummu Kultsum dengan kakak beradik yang masih
sepupu mereka, yaitu Utbah dan Utaybah putra Abu Lahab.

Namun belum walimah dilaksanakan, janji nikah itu dibatalkan karena Abu
Lahab tidak ingin berbesankan Nabi baru, bahkan ketiga-tiganya menjadi
musuh Nabi yang terdepan.

Mertua Rasulullah SAW

mertua

Pengasuh Rasulullah SAW

Ummu Aiman Pengasuh Rasulullah SAW

Ibu Asuh Rasulullah SAW adalah Ummu Aiman, nama sebenarnya adalah
Barakah bint Tsa’labah ibn ‘Amr ibn Hishn ibn Malik ibn Salamah ibn
al-Nu’man al-Habasyiyah. Berasal dari Habasyah. Dia adalah
mawali/budak/pembantu Abdullah ibn Abdul Mutthalib, ayah Rasulullah SAW.
Menikah dengan ‘Ubayd ibn al-Harits al-Khazraji setelah Rasulullah SAW
memerdekakannya. Dari perkawinan ini lahir Aiman. Dikatakan sebagai ibu
asuh karena setelah kepergian Aminah bint Wahb, ibu kandung Rasulullah
SAW ketika baginda masih berusia 6 tahun, Ummu Aiman lah yang menjaga
dan mengasuhnya serta membantu keperluan seorang anak dari mulai makan,
minum, pakaian dan lain sebagainya. Rasulullah SAW sering memanggilnya
dengan sapaan Ummah (ibu). Bahkan Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda
: Ummu Aiman adalah ibuku setelah ibundaku.

Perjuangan Ummu Aiman

Ummu Aiman adalah termasuk orang-orang yang pertama masuk Islam, paling
tidak, untuk wanita, beliau masuk setelah Khadijah atau setelah
putri-putri Rasulullah SAW atau masuk dalam kategori sepuluh wanita
pertama masuk Islam. Semasa di Makkah, karena termasuk orang biasa,
beliau mendapat perlakuan kasar dan buruk dari pemuka Quraisy. Ketika
hijrah diizinkan, beliau termasuk orang yang ikut hijrah ke Habasyah.
Kemudian beliau termasuk orang yang kembali ke Makkah bersama rombongan.
Ketika hijrah ke Madinah, beliau termasuk yang berhijrah, bahkan dengan
berjalan kaki dan dalam kondisi puasa. Meski tidak sendiri dan tetap
bersama rombongan, beliau tidak menunggang onta apalagi kuda. Jarak 430
km ditempuh dengan berjalan kaki.

Sampai akhirnya, karomah Allah SWT diberikan untuknya. Siang yang panas
tetap dilaluinya dengan kesabaran dan ketabahan. Ketika datang waktu
berbuka, Ummu Aiman tidak mendapatkan air untuk diminum. Tiba-tiba
muncul gumpalan awan yang membentuk seperti ember putih, beliau
mengambilnya dan meminum darinya. Setelah minum sampai hilang dahaganya,
beliau melanjutkan perjalanannya ke Madinah tanpa pernah merasakan haus
kembali. Bahkan sampai akhir hayatnya. Bahkan, beliau bercerita bahwa
suatu ketika beliau sengaja tawaf di siang hari di panas yang terik
dengan harapan akan merasa haus, tapi ternyata beliau tidak juga merasa
haus.

Cerita Lucu

Ummu Aiman ra. bercerita : Suatu ketika Rasulullah SAW menginap di
rumah. Ketika malam beliau bangun dan buang air di bejana. Tak lama
kemudian saya terbangun dan mencari minum karena kehausan, saya
mendapatkan air di bejana, dan saya langsung meminumnya. Esok paginya,
Rasulullah SAW berkata kepadaku : “Wahai Ummu Aiman, tolong buangkan air
yang ada di bejana.” Saya pun menjawab : “Wahai Rasulullah SAW, demi
Dzat yang telah mengutusmu dengan haq, saya sudah minum air yang ada di
dalamnya.” Rasulullah SAW tertawa sampai terlihat giginya lalu bersabda :
“Sungguh perutmu tidak akan sakit lagi setelah ini.”

Keluarga

Setelah dimerdekakan oleh Rasulullah SAW, Barakah (nama asli Ummu Aiman)
menikah dengan ‘Ubayd ibn al-Harits al-Khazraji. Dari pernikahan ini,
mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Aiman. Karena
itulah beliau dipanggil dengan nama Ummu Aiman. Aiman sendiri tumbuh
menjadi pemuda yang gagah, berjuang bersama Rasulullah SAW sampai
akhirnya syahid di perang Hunain. Ketika Ummu Aiman menjanda, masih lagi
di Makkah sebelum hijrah. Rasulullah SAW berkata kepada para sahabatnya
: Barang siapa yang ingin menikahi perempuan ahli surga, maka hendaklah
dia menikahi Ummu Aiman. Mendengar tawaran dan berita baik, Zayd ibn
Haritsah langsung menyatakan minatnya dan melamarnya. Dari perkawinan
ini, lahir Usamah ibn Zayd, orang yang dicintai Rasulullah SAW dan anak
orang yang dicintai Rasulullah SAW.

Wafat

Ketika Rasulullah SAW meninggal, Abu Bakar mengajak Umar untuk menjenguk
Ummu Aiman dengan harapan semoga dapat meringankan kesedihannya.
Setelah berjumpa, Ummu Aiman menangis. Abu Bakar berkata : Kenapa kamu
menangis, apa yang disiapkan Allah lebih baik untuk Rasulullah SAW. Ummu
Aiman menjawab : Aku bukan tidak tahu hal itu, tetapi aku sedih karena
wahyu sudah terputus dari langit. Terdapat beberapa riwayat tentang
tahun wafatnya, ada yang mengatakan 5 bulan setelah wafatnya Rasulullah
SAW, ada juga yang mengatakan 6 bulan kemudian. Dalam kitab Nisa’ Hawl
al-Rasul SAW, dipilih pendapat yang mengatakan bahwa beliau meninggal 20
hari setelah terbunuhnya Umar, atau tahun 23 H.

Sepupu Rasulullah SAW

Beberapa orang sepupu Rasulullah saw:

1. Ali ibn Abi Thalib

2. Ja’far ibn Abi Thalib

3. Uqayl ibn Abi Thalib

4. Abdullah ibn Abbas

Pembantu Rasulullah SAW

Pembantu Rumah Tangga Rasulullah saw:

1. Anas ibn Malik

2. Taswban

3. Abu Hurairah

Muazzin Rasulullah saw:

1. Bilal ibn Rabbah

2. Ibn Ummi Maktum

3. Sa’ad

4. Abu Mahzurah

 Maula Rasulullah SAW

Pengertian dan Mereka

Maula pluralnya adalah Mawali. Yang dimaksud maula adalah orang yang
dimerdekakan oleh seseorang. Jika A adalah maula-nya si B, maka A adalah
budak yang kemudian dimerdekakan oleh B. Mereka yang dimerdekakan
Rasulullah SAW ada yang sebelumnya tinggal bersama beliau, ada juga yang
sama orang lain lalu dimerdekakan oleh Rasulullah SAW, ada juga oang
yang separuh merdeka dan Rasulullah SAW melengkapi dengan membayar
kekurangannya. Dari para mawali ini, ada yang akhirnya berhidmah menjadi
pembantu Nabi seperti Abu Rafi’. Ada juga yang terus bebas dan
mengarungi kehidupannya sendiri. Pilihan kedua adalah pilihan mayoritas.

Mawali Rasulullah saw:

1. Zayd ibn Haritsah ra.

2. Aslam Abu Rafi’ ra.

3. Rafi’ atau Abu Rafi’ ra.

4. Anasah Abu Masrah

5. Aiman ibn ‘Ubayd

6. Anjasyah

7. Tsauban

8. Hunyn

9. Rabah

10. Zayd

11. Safinah

12. Salman al-Farisi

13. Syukraan

14. Dumairah ibn Abi Dumairah

15. Abu Dumairah

16. Tahman

17. Zakwan

18. Kaisan

19. Hurmuz

20. Bazam

21. Mahran

22. Maimun

23. ‘Ubayd

24. Ubaidillah ibn Aslam

25. Fadalah

26. Qafiz

27. Karkarah

28. Miz’am

29. Maburah al-Qibti

30. Mihja’

31. Nafi’

32. Nufay’ Abu Bakrah

33. Waqid atau Abu Waqid

34. Hisyam

35. Yasar

36. Hibah

37. Abu al-Hamra’ Hilah ibn al-Harits

38. Abu Salma

39. Abu Safiyyah

40. Abu ‘Ubayd

41. Abu Ghubayib

42. Abu Kabsyah

43. Abu Muway

Imaa’ al-Nabiy SAW

Jika maula adalah laki-laki, maka imaa’ adalah untuk perempuannya. Jadi
mereka adalah wanita-wanita mantan budak yang dibebaskan oleh Rasulullah
SAW.

Mereka adalah :

1. Barakah Ummu Aiman

2. Khurah

3. Radhwa

4. Salma

5. Maimunah bint Sa’ad

6. Umaimah

7. Ruzainah

8. Sirin, Saudari kandung Maria Qibtiayah

Pohon Nasab

Nasab Ayah dan Ibu

Ayah : Abdullah ibn Abdul Muththalib ibn Hasyim ibn Abd Manaf ibn Qushay
ibn Kilab ibn Murrah ibn Ka’ab ibn Lu’ay ibn Ghalib ibn Fihr ibn Malik
ibn al-Nadr ibn Kinanah ibn Khuzaimah ibn Mudrah ibn Ilyas ibn Mudhar
ibn Nizar ibn Ma’ad ibn Adnan. Ibu : Aminah bint Wahb ibn Abd Manaf ibn
Zuhrah ibn Kilab. Nasab kedua orangtua baginda bertemu di salah satu
kakek mereka yang bernama Kilab.

Nasab Kakek & Nenek

Kakek dari pihak ayah adalah : Abdul Mutthalib ibn Hasyim ibn Abd Manaf
ibn Qushay ibn Kilab ibn Murrah ibn Ka’ab ibn Lu’ay ibn Ghalib ibn Fihr
ibn Malik ibn Nadhr ibn Kinanah ibn Khuzaimah ibn Mudrikah ibn Ilyas ibn
Mudhar ibn Nizar ibn Ma’ad ibn Adnan. Nenek dari pihak ayah adalah :
Fatimah bint ‘Amr ibn ‘A’idz ibn Imran ibn Makhzum ibn Yaqizah ibn
Murrah ibn Ka’ab ibn Lu’ay. Kakek dari pihak ibu adalah : Wahb ibn Abd
Manaf ibn Zuhrah ibn Kilab ibn Murrah. Nenek dari pihak ibu adalah :
Barrah bint Abd al-’Uzza ibn Utsman ibn ‘Abd al-Dar ibn Qushay ibn Kilab
ibn Murrah. Dari paparan di atas, nasab ke atas Rasulullah dari pihak
ibu dan ayah, semua bertemu di Murrah, termasuk dengan Khadijah.

Nasab dari Murrah

pohon nasab

nasab Quraisy

nasab quraisy

Gambar Pohon Nasab

pohon nasab

 


 
Design by Blogger Themes | Bloggerized by Admin | free samples without surveys